ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Mengapa Pola Makan Vegan Berbahaya Bagi Anak-anak

vegan

Konfirmasitimes.com-Jakarta (24/01/2021). Pola makan vegan sangat populer di kalangan anak muda, yang sering mengajari anak-anak mereka melakukannya. Motif memilih pola makan semacam itu bisa berbeda: lingkungan, etika, terkait kesehatan, dll. Namun, apa pun motif orang dewasa, bagi anak-anak, pola makan vegan bukanlah pilihan terbaik. Hal tersebut ditunjukkan oleh sebuah studi baru oleh para ilmuwan dari Universitas Helsinki (Finlandia).

Para ahli telah menemukan bahwa pola makan vegan berdampak besar pada metabolisme anak-anak. Mereka secara signifikan mengurangi kadar asam amino esensial, vitamin D dan A, serta kolesterol “baik”. Selain itu, pola makan vegan kekurangan asam docosahexaenoic, yang sangat penting untuk perkembangan sistem hormonal, kekebalan dan saraf anak.

Untuk mengetahui bagaimana pola makan mempengaruhi kesehatan anak, para peneliti meneliti pola makan dan metabolisme 40 anak sehat (rata-rata usia 3,5 tahun) dari taman kanak-kanak di Helsinki. Peserta kecil mengikuti pola makan vegan, vegetarian, atau omnivora tergantung pada pilihan keluarga mereka. Semua peserta vegan adalah vegan sejak lahir dan disusui dari ibu vegan selama 13-50 bulan. Asupan makanan mereka, biomarker metabolik, dan status mikronutrien dipertimbangkan dengan cermat oleh para ilmuwan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional bergengsi EMBO Molecular Medicine , menunjukkan bahwa anak-anak yang menjalani pola makan vegan memiliki tingkat vitamin D dan A yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang makan semuanya, meskipun mereka menerima suplemen vitamin D. Mereka juga memiliki lebih sedikit lipoprotein densitas tinggi (kolesterol “baik”), asam amino esensial, dan asam docosahexaenoic

“Hasil kami menunjukkan bahwa dampak diet ketat pada kesehatan anak-anak tidak dapat diekstrapolasi dari penelitian orang dewasa. Selain mengonsumsi vitamin D, perhatian harus diberikan pada asupan vitamin A dan protein yang cukup dari berbagai sumber,” kata Dr. Topi Hovinen, salah satu penulis penelitian.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Ketegangan Di Kongres AS Meningkat Setelah Anggota Parlemen Dari Partai Republik Membawa Senjata

Read Next

Sejak Awal Tahun 2021, Sudah Ada 197 Bencana Terjadi di Indonesia