ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
26 February 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Kurikulum Darurat, Kemdikbud Salurkan Modul untuk Siswa SD dan PAUD

belajar di rumah

belajar di rumah

Konfirmasitimes.com-Jakarta (23/12/2020). Kini sudah disiapkan modul pembelajaran untuk anak usia SD dan PAUD guna mengatasi sulitnya implementasi pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Modul pembelajaran ini menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Nadiem Makarim, nantinya disalurkan sekolah untuk orangtua, sehingga siswa tidak perlu menggunakan pertemuan virtual karena usia SD dan PAUD kesulitan untuk fokus.

“Atensi (perhatian) dan umur muridnya masih sangat muda, kita mengeluarkan modul-modul pembelajaran yang bisa dilakukan secara offline yang kami sebarkan ke berbagai daerah,” kata Nadiem dalam diskusi virtual Merdeka Belajar, Transformasi Pendidikan Indonesia, Jumat (22/01/2021).

Modul pembelajaran ini diklaim Nadiem, akan memudahkan orangtua membimbing anaknya yang masih SD dan PAUD selama belajar di rumah, tanpa harus tergantung pada teknologi.

“Jadi orangtua bisa jadi pembimbing dan mengerahkan modul-modul ini, untuk memastikan pembelajaran masih terjadi dalam situasi pandemi,” terang Nadiem.

Meski sayangnya, modul ini lebih dulu difokuskan untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) Indonesia. Daerah 3T ini dipandang kesulitan mengimbangi sistem belajar yang bergantung pada teknologi, karena fasilitas dan akses internet tidak sebaik dan selancar di perkotaan.

Modul untuk anak SD dan PAUD ini adalah bagian dari kurikulum darurat yang diinisiasi Kemendikbud, untuk mempermudah sistem belajar mengajar di masa pandemi Covid-19.

“Jadi kita membuat kurikulum darurat di mana tim kita menyederhanakan kurikulum sebagaimana mungkin. Guru-guru hanya fokus kepada yang esensial dan kepada yang kompetensi inti yang akan menurunkan risiko ketertinggalan pada saat anak itu maju ke tahun berikutnya,” jelas bapak tiga anak itu.

Kurikulum darurat kata Nadiem dibuat dalam waktu 3 hingga 4 bulan. Dimana pencapaian kompetensi pembelajaran siswa diturunkan ke tingkat 30 hingga 40 persen dari pencapaian sebelumnya.

“Sehingga guru dan murid bisa fokus kepada apa yang esensial, sehingga itu memberikan ruang untuk guru beradaptasi kepada metode yang baru sekali,” pungkas Nadiem.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

MARS AS’AD

Read Next

MAN ANA