ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
1 March 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Ini Lho, Bedanya Gempa Sulbar dengan Gempa Palu

Gempa Bumi di Majene-Mamuju Tak Lazim dan Aneh?

Konfirmasitimes.com-Jakarta (21/01/2021). Sejauh ini dilaporkan setidaknya ada 25 titik pengungsian di Majene dan 5 titik di Mamuju.

Gempa Sulbar membuat warga mengungsi di sekitar 30 titik. Puluhan ribu warga mengungsi akibat gempa di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar).

Pemerintah melaporkan lebih 81 warga meninggal tertimpa reruntuhan bangunan. Ratusan orang luka-luka akibat gempa Sulbar.

Hingga hari keempat, warga masih merasakan banyak gempa susulan. Meski tidak merusak, warga khawatir gempa di Majene dan Mamuju bisa memiliki dampak seperti gempa di Palu, Sulawesi Tengah.

Menurut keterangan Kepala Pusat Seismologi Teknik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono, ia mengungkapkan, tren gempa bumi yang terjadi di Sulawesi Barat (Sulbar) sangat jarang sekali dan harapannya hal ini tidak akan berlangsung lama.

“Gempa bumi (Sulbar) yang terjadi sekarang sangat berbeda dengan gempa bumi yang terjadi di Palu. Karena percepatan pergerakan sesarnya gempa bumi Palu dan Mamuju sangat berbeda, di Palu sekitar 35mm/tahun sedangkan di Mamuju sekitar 10-15mm/tahun. Tentunya tingkat aktivitas di Mamuju sangat jauh berbeda pergeserannya dengan di Palu,” terang Rahmat.

BMKG mencatat bahwa gempa susulan yang terjadi di Palu mencapai ratusan bahkan ribuan kali dalam sehari. Sedangkan Mamuju hingga hari Senin (18/01/2021) hanya terdapat 31 kali gempa bumi dan sebagian besar tidak dirasakan. Berdasarkan data tersebut, BMKG belum mampu menyimpulkan bahwa kapan gempa susulan akan berakhir.

“Apabila trennya masih tinggi dan jumlah hari akan semakin panjang, itu artinya gempa susulannya juga akan panjang. Namun di tabel BMKG sudah menurun drastis, harapannya hal ini tidak akan berlangsung lama,” kata Rahmat.

Ia menjelaskan bahwa potensi adanya gempa susulan merupakan bagian dari pelepasan energi. Ini bagian dari pelepasan energi, jadi setiap kali kejadian gempa bumi yang besar selalu akan diikuti oleh gempa-gempa susulan dan tentunya intensitasnya lama-kelamaan akan menurun.

“Pada akhirnya akan berhenti dan kemudian Mamuju akan normal kembali. Untuk terjadinya gempa kembali butuh beberapa puluh tahun lagi,” ujarnya.

BMKG juga telah memasang peralatan untuk melakukan perhitungan percepatan pergerakan tanah di sekitar Mamuju serta melakukan pemetaan sebaran kerusakan. Selain itu akan dilakukan pemeriksaan ke lapangan terhadap informasi peta guncangan yang telah dirilis apakah sejalan atau tidak.

BMKG bekerja sama dengan satgas tim gabungan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam melakukan sosialisasi langsung dengan mendatangi pos-pos pengungsian sehingga masyarakat dapat tenang dan tidak panik.

“Tentunya kami berharap para pengungsi dapat kembali ke rumah masing-masing dengan segera. Kami (BMKG) siap untuk bekerja sama dengan tim dari BNPB dan satgas untuk bersama-sama memberikan sosialisasi kepada masyarakat,” tutupnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Cuaca Buruk, Pencarian Sriwijaya Air Tertunda

Read Next

34.200 Sekolah Indonesia Sudah Belajar Tatap Muka