ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
1 March 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Benarkah Pandji Pragiwaksono Sebut FPI Hadir Gegara NU dan Muhammadiyah Jauh dari Rakyat ? Kok Bisa?

Pandji Pragiwaksono

Konfirmasitimes.com-Jakarta (20/01/2021). Langkah pemerintah Indonesia membubarkan organisasi Front Pembela Islam (FPI) dinilai tidak tepat.

Hal itu disampaikan oleh Pandji Pragiwaksono, Aktor sekaligus komedian ternama di Indonesia.

Menurutnya, dengan keputusan pemerintah itu, nantinya akan menyebabkan munculnya para simpatisan FPI membentuk ormas yang berbeda.

“Ngebubarin itu percuma, karena nanti akan ada yang lain lagi, Front Pejuang Islam atau lainnya. Ngebubarin percuma kaya nutup situs bokep, entar juga kebuka lagi ga ada hujungnya gitu,” kata Pandji ketika berdiskusi secara virtual dengan dua mantan anggota FPI di channel YouTubenya, Rabu (20/01/2021).

Sebagaimana diketahui, Pemerintah resmi membubarkan organisasi Front Pembela Islam (FPI) pada Rabu (30/12/2021) lalu. Segala bentuk aktifitas FPI juga dilarang karena dianggap ilegal.

Pandji menyampaikan, FPI terkenal dan disukai di masyarakat kalangan bawah ketika para elit dari ormas Islam besar, yakni Nahdaul Ulama (NU) dan Muhammadiyah jauh dari masyarakat.

“FPI itu hadir gara-gara dua ormas besar Islam (NU dan Muhammadiyah) jauh dari rakyat. Mereka elit-elit politik. Sementara FPI itu dekat. Kalau ada yang sakit, ada warga yang sakit mau berobat, ga punya duit, ke FPI, kadang-kadang FPI ngasih duit, kadang FPI ngasih surat. suratnya dibawa ke dokter jadi diterima,” kata Pandji.

Menurutnya, di masyarakat ada banyak para simpatisan FPI. Terlebih lagi di kalangan bawah. Itu karena FPI selalu ada ketika masyarakat kalangan bawah meminta bantuan. Menurut Pandji Pragiwaksono, pendapat itu dia dengar dari Sosiolog Thamrin Amal Tomagola.

“FPI itu dekat dengan masyarakat. ini gue dengar dari Pak Thamrin Tomagola, dulu tahun 2012, kalau misalnya ada anak mau masuk di sebuah sekolah, kemudian ga bisa masuk, itu biasanya orang tuanya datangi FPI minta surat. Dibikinin surat ke FPI, dibawa ke sekolah, itu anak bisa masuk, terlepas dari isi surat itu menakutkan atau tidak, tapi nolong warga gitu,” kata Pandji.

Lebih lanjut, dikatakan Pandji, menurut Tamrin Tomagola, pintu ulama-ulama dari kalangan FPI selalu terbuka untuk membantu masyarakat yang sedang kesusahan. Sementara NU dan Muhammadiyah, terlalu elitis, sehingga masyarakat enggan untuk mendekat.

“Kata Pak Tamrin Tomagola, pintu rumahnya ulama-ulama FPI kebuka untuk warga, jadi orang kalau mau datang bisa. Nah, yang NU dan Muhammadiyah yang terlalu tinggi dan elitis, warga tuh ngga kesitu, warga justru ke FPI. Makanya mereka pada pro FPI, karena FPI ada ketika mereka butuhkan,” katanya.

Pandji juga mengungkapkan, membubarkan FPI bukan sebuah solusi yang tepat. Dia mengatakan, jika pemerintah tidak mau melihat FPI eksis, maka harus menyelesaikan masalah sosial lingkungan.

“Makanya gue bilang, bubarin FPI itu gampang tapi ga menyelesaikan masalahanya karena FPI menyediakan bantuan ketika rakyat lagi butuh selama elu ga kasi bantuan ketika rakyat lagi butuh, maka rakyat akan cari ormas lain untuk dapat bantuan,” kata Pandji.

“Jadi kalau lu ga mau ormas itu tamba gede, tambah kekuatan, ya elu harus bisamenyelesaikan masalah sosial di lingkungan elu. Karena ketidak kepedulian lu terkaitpemasalahan sosial, akan berbalik dalam bentuk pemaslahan sosial lagi,” lanjutnya.

“Yang gampang adalah bubarin ormas, yang susah adalah peduli sama masyarakat sekitar,” kata Pandji.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Joe Biden Umumkan Daftar Menteri dan Pejabat Setingkat

Read Next

Museum Grévin Membersihkan Patung Donald Trump Usai Pemerintahannya Resmi Berakhir