ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
1 March 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Update Banjir Kalsel, Genangan Makin Tinggi Hingga Telan Korban Jiwa

Banjir Kalsel

Konfirmasitimes.com-Jakarta (16/01/2021). Banjir Kalsel terjadi akibat hujan deras yang menyebabkan air sungai Balangan dan sungai Pitap meluap.

Banjir menerjang Kalimantan Selatan sejak Kamis (14/01/2021) akibat hujan yang mengguyur wilayah tersebut selama hampir 12 jam hingga akhirnya air sungai meluap.

Akibatnya, sebanyak 21.990 warga terdampak dan harus mengungsi. Selain itu, banjir juga menyebabkan akses jalan dari Palaihari-Banjarmasin terputus.

Presiden Joko Widodo(Jokowi) telahreadyviewed memerintahkan lembaga dan kementerian terkait untuk segera memberi bantuan ke warga terdampak banjir di Kalimantan Selatan.

“Secepat-cepatnya mengirim bantuan, terutama yang berkaitan dengan perahu karet yang sangat dibutuhkan dalam penanganan bencana banjir di Kalimantan Selatan,” kata Jokowi dalam siaran akun YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (15/01/2021).

Khusus untuk bencana banjir di Kalsel ini, Jokowi juga meminta Kepala BNPB, Doni Monardo, dan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, turun tangan.

Banjir tak kunjung surut, justru makin tinggi di hari ketiga

BPBD Kota Banjarmasin melaporkan bahwa banjir yang merendam wilayah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada hari ketiga masih belum surut.

Sebelumnya, bencana banjir terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan sejak Minggu, 10 Januari 2021 lalu.

Banjir merendam sejumlah wilayah, setelah hujan deras mengguyur sejak Sabtu, 9 Januari 2021 hingga Minggu, 10 Januari 2021 dini hari.

Bahkan pada Kamis, 14 Januari 2021, banjir memutus akses ruas jalan Nasional di Provinsi Kalimantan Selatan yang menghubungkan antar Kabupaten dan Kota, setelah oprit jembatan di Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, terputus.

Sedangkan di Kota Banjarmasin yang merupakan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan tersebut, banjir telah merendam wilayah tersebut sejak Kamis, 14 Januari 2021.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin menyatakan banjir di Kota Banjarmasin pada hari ketiga ini justru makin naik, meskipun tidak turun hujan pada Jumat, 15 Januari 2021 malam tadi.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kota Banjarmasin Herliansyah di Banjarmasin, Sabtu, 16 Januari 2021.

“Kondisi Kota Banjarmasin di hari ketiga banjir, dapat air kiriman dari hulu. Selain itu, air laut pasang, hingga genangan air makin tinggi,” kata Herliansyah, dalam keterangannya.

Menurut Herliansyah, kondisi banjir yang makin tinggi terpantau di daerah Banjarmasin Timur, Sungai Lulut, Jalan Pramuka, Jalan Veteran, hingga Pangambangan.

Saat ini, dia mengatakan bahwa ketinggian air di pemukiman warga sampai meluber ke jalan antara 30-40 centimeter, bahkan lebih dari itu, khususnya di dekat sungai.

“Banyak warga yang nelpon BPBD untuk minta evakuasi,” kata Herliansyah.

Menurutnya, air datang dari hulu sejak tadi malam cukup besar, karena Banjarmasin merupakan daerah paling hilir bagian Sungai Martapura.

“Kan daerah Sungai Batang, Sungai Tabuk, dan Martapura di daerah tetangga Banjarmasin masih banjir parah, air dari sana tertumpu mengalir ke bagian hilir Banjarmasin di Sungai Martapura,” tutur Herliansyah.

Sehingga, dia menjelaskan bahwa kawasan pemukiman di pinggiran Sungai Martapura, dan juga anak sungai lainnya, mengalami kenaikan banjir.

“Di hari ketiga ini makin banyak yang mengungsi, di mana-mana sekarang mulai didirikan tempat pengungsian oleh masyarakat,” kata Herliansyah.

Sementara ini, dia menyampaikan bahwa pengungsi di Banjarmasin Selatan yang sudah terdata mencapai lebih dari 500 jiwa. Sebagian dari mereka berada di pengungsian swadaya masyarakat, dan sebagian di posko Kecamatan.

“Belum lagi di empat kecamatan lainnya, data pengungsi terus kita lakukan ini,” ucap Herliansyah.

Kerusakan lingkungan imbas banjir Kalsel?

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono menuturkan ada faktor lain yang membuat banjir di Kalsel kian parah dari tahun ke tahun, yakni darurat ruang dan darurat bencana ekologis.

“Selain carut marut tata kelola lingkungan dan sumber daya alam, banjir kali ini sudah bisa diprediksi terkait cuaca oleh BMKG,” kata Kisworo, dalam keterangannya.

Kisworo mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, Kalsel mengalami degradasi lingkungan. Dari catatan Walhi, di provinsi tersebut terdapat 814 lubang milik 157 perusahaan tambang batu bara.

Sebagian lubang berstatus aktif, sebagian lain telah ditinggalkan tanpa reklamasi. Lebih lanjut, menurut Kisworo, dari 3,7 juta hektar total luas lahan di Kalsel, hampir 50 persen di antaranya sudah dikuasai oleh perusahaan tambang dan kelapa sawit.

Kisworo menjelaskan, kerusakan ekosistem alami di daerah hulu yang berfungsi sebagai tangkapan air menyebabkan kelebihan air di daerah hilir yang menyebabkan banjir.

Namun demikian, Kisworo tidak menjelaskan secara rinci apakah kerusakan ekologis itu juga berdampak cukup serius di daerah resapan air.

Kisworo menjelaskan, banjir pada awal tahun ini merupakan banjir terparah sejak tahun 2006. Namun begitu, Kisworo mengatakan, sejak 2006, bencana banjir terus berulang tanpa ada perhatian khusus dari pemerintah.

Melihat bencana banjir yang terus berulang, Walhi mendesak agar pemerintah pusat dan daerah untuk mulai tanggap bencana baik sebelum, sesaat, dan pasca bencana.

Kemudian, pemerintah juga diminta untuk mereview kembali pemberian izin industri ekstraktif, menyetop izin baru pembukaan lahan baik untuk lahan sawit maupun tambang.

Kemudian penegakan hukum, terutama terhadap perusahaan perusak lingkungan, memperbaiki atau memulihkan kerusakan lingkungan hidup, mereview kembali Rencana Tata Ruang dan Wilayah, serta memastikan keselamatan rakyat dan bencana banjir tidak terulang kembali.

“(Bencana di Kalsel) Terulang terus. Kalau hujan banjir, kalau kemarau kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah masih gagap dan gagal untuk menanggulanginya,” kata Kisworo.

Korban Banjir Kalsel

Minggu ini, dilaporkan sudah ada lima jenazah di Desa/Kecamatan Hantakan.

“Sudah ada lima mayat ditemukan. Mungkin warga desa di kawasan hulu sungai,” kata Plt Kepala Desa Hantakan Sri Winda saat membagikan logistik, dalam keterangannya, Sabtu (16/01/2020) .

Seorang tokoh masyarakat Muhammad Rifani menyampaikan hal serupa, diperkirakan masih ada jenazah yang belum ditemukan.

Selain itu, banyak warga menyaksikan salah satu korban hanyut melambaikan tangan meminta pertolongan.

“Korban jiwa diperkirakan mencapai puluhan orang, karena sekarang sudah ada lima jenazah yang ditemukan,” katanya.

Dia menerangkan ada kampung yang disapu habis oleh banjir. Diperkirakan banyak korban jiwa berasal dari kawasan hulu sungai Desa Hantakan, permukiman penduduk di daerah aliran Sungai Hantakan.

Sementara laporan orang hilang belum terverifikasi. Kemungkinan besar ada puluhan orang juga yang hilang. “Sementara kami di sini masih menangani bantuan logistik,” katanya.

Ribuan rumah terendam banjir

Sebanyak 3.571 unit rumah terendam banjir di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan menginformasikan bahwa saat ini banjir belum surut, tinggi muka air terpantau sekitar 50-150 sentimeter,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, Sabtu (16/01/2021).

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Balangan melakukan kaji cepat, berkordinasi dengan pihak terkait dan bersama tim gabungan melakukan evakuasi terhadap korban terdampak bencana. Tercatat kebutuhan mendesak saat ini perahu karet dan logistik.

“Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih melakukan kajian terhadap status tanggap darurat terkait bencana banjir di Kabupaten Balangan,” katanya.

Rincian rumah yang terendam yakni di Kecamatan Halong, sebanyak 931 unit, dan Kecamatan Paringin 20 unit. Kemudian Kecamatan Juai 576 unit, Kecamatan Paringin Selatan 336 unit, Kecamatan Tebing Tinggi 836 unit dan Kecamatan Awayan 872 unit.

Selain itu, BPBD Kabupaten Balangan juga melaporkan 11.816 jiwa terdampak banjir, antara lain di Kecamatan Halong 2.952 jiwa, Kecamatan Paringin 93 jiwa. Kemudian Kecamatan Juai 1.888 jiwa, Kecamatan Paringin Selatan 964 jiwa, Kecamatan Tebih Tinggi 2.828 jiwa dan Kecamatan Awayan 3.091 jiwa.

“Untuk jumlah pengungsi yang telah dievakuasi masih dalam proses pendataan,” jelasnya.

Berdasarkan pemantauan BMKG, Kalimantan Selatan berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang. BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan siaga, di tengah musim hujan yang akan terjadi hingga Februari 2021.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Pagar Nusa: Seni Kanuragan

Read Next

Habib Umar Muthohar Cerita Karomah Habib Ja’far al Kaff