ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
1 March 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Fakta-fakta Gempa Bumi di Mamuju dan Majene

Gempa Mamuju, Bangunan Hingga Kantor Gubernur Roboh

Konfirmasitimes.com-Jakarta (15/01/2021). Pada Jumat (15/01/2021) hari ini gempa bumi mengguncang wilayah Mamuju, Majene, dan sekitar Sulawesi Barat.

Imbas dari gempa bumi tersebut menyebabkan tak sedikit bangunan runtuh, ribuan orang terluka, hingga dilaporkan meninggal dunia.

Sejauh ini, pihak berwenang termasuk tim berusaha untuk menyelamatkan sejumlah orang yang dilaporkan tertimbun reruntuhan bangunan.

Fakta-fakta gempa di Mamuju, Majene, dan sekitar Sulawesi Barat.

Gempa kedalaman 10 km

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyampaikan gempa yang terjadi di Sulbar adalah jenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake). Pusat gempa dilaporkan berada di 6 kilometer laut Majene dengan kedalaman 10 km.

BMKG mengatakan gempa tersebut akibat dari aktivitas sesar atau patahan lokal di kawasan tersebut. Gempa bumi dangkal merupakan gempa yang hiposentrumnya berada kurang dari 60 km dari permukaan laut. Gempa itu kerap menimbulkan kerusakan yang besar.

BMKG mengatakan puluhan gempa bumi terjadi sejak Kamis (14/01/2021) hingga Jumat (15/01/2021). BMKG mencatat gempa pertama terjadi pada Kamis (14/01/2021), sekitar pukul 13.35 WIB dengan magnitudo 5,9.

Sedangkan gempa yang menyebabkan kerusakan parah dan menimbulkan korban jiwa terjadi pada Jumat (15/01/2021), pukul 01.28 WIB. BMKG mencatat magnitudo gempa sebesar 6,2.

Berpotensi tsunami

BMKG menyatakan Sulawesi Barat berpotensi diterjang tsunami jika ada gempa susulan dalam waktu dekat. Salah satu penyebab potensi itu adalah adanya longsor bawah laut.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta masyarakat di Majene untuk bersiaga dan siap dievakuasi jika terjadi gempa susulan.

Dia juga mengimbau masyarakat menghindari bangunan rentan. Sebab gempa yang terjadi di Majene sejak kemarin punya kekuatan meruntuhkan bangunan.

Pernah diterjang tsunami

Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan gempa bumi akibat sesar naik di bagian barat Provinsi Sulawesi Barat pernah memicu terjadinya tsunami di Majene pada 1969.

Kala itu, gempa magnitudo 6,9 yang menewaskan 63 orang itu diikuti dengan gelombang tsunami setinggi 10 meter.

Dia meminta masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Majene perlu waspada jika merasakan gempa kuat agar segera menjauh dari pantai tanpa menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG.

Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya dengan berita bohong (hoaks) mengenai prediksi dan ramalan gempa yang akan terjadi dengan kekuatan lebih besar dan akan terjadi tsunami.

Lalu lintas udara dipastikan normal usai gempa

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemehub Novie Riyanto menghimbau seluruh bandar udara yang terdampak untuk melakukan monitoring secara berkala terkait dengan kondisi operasional penerbangan.

“Telah dikoordinasikan, seluruh bandar udara terdampak kami minta untuk melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan tidak terdapat kerusakan yang mengganggu keselamatan penerbangan. Adapun operasi penerbangan di bandar udara hingga saat ini di laporkan masih berjalan normal,” jelas Novie dikutip rilis pada Jumat (15/01/2021).

Diketahui, dua bandara terdampak gempa di Majene pada Jumat dini hari. Mereka adalah, Bandar Udara Tampa Padang – Mamuju dan Bandar Udara Sumarorong – Mamasa.

Ia menambahkan secara umum kondisi pegawai serta fasilitas bandar udara tidak terdapat kendala. Namun terdapat kerusakan minor pada beberapa fasilitas di bandar udara dan lini sedang diperbaiki.

Untuk Bandara Sumarorong tidak terdapat kerusakan baik fasilitas sisi udara maupun sisi darat. Namun, terdapat keretakan pada sisi Gedung Tower Mamuju.

Saat ini pelayanan navigasi penerbangan masih beroperasi normal dengan status AFIS.

Sedangkan, di Bandara Tampa Padang – Mamuju, fasilitas bandar udara dalam kondisi serviceable atau tidak terdapat kerusakan.

Kerusakan hanya terjadi pada plafon gedung terminal yang sedang dilakukan perbaikan. Selain itu, listrik utama PLN dalam kondisi off (padam).

Bandara saat ini menggunakan listrik cadangan atau secondary power.

Potensi longsor

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Kasbani mengatakan ada potensi tanah longsor imbas gempa bumi yang melanda Mamuju dan Majene di Sulawesi Barat.

Tanah longsor bisa terjadi lantaran morfologi dan umur batuan di kawasan sekitar Mamuju dan Majene yang menjadi lokasi gempa.

Kedua kawasan itu diketahui tersusun oleh batuan berumur pratersier (terdiri – dari batuan metamorf, metasedimen), tersier (terdiri – dari batuan sedimen, batu gamping, gunung api) dan endapan kuarter (terdiri – dari endapan pantai dan aluvial).

“Batuan berumur pratersier dan tersier yang telah mengalami pelapukan akan berpotensi terjadi gerakan tanah/ longsoran apabila dipicu guncangan gempa bumi kuat di daerah ini,” tulisnya dalam keterangan resmi, Jumat (15/01/2021).

Layanan telekomunikasi terputus

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengungkapkan dampak gempa tersebut membuat layanan telekomunikasi terputus.

“Pagi ini saya diberikan informasi tentang dampak gempa Majene dengan magnitudo 6,2 pada pukul 02.28 WITA,” ungkap Menkominfo, dalam keterangannya kepada media, Jumat (15/01/2021).

Dari informasi yang diterimanya, Johnny mengatakan bahwa layanan Telkomsel sempat down. Namun, disampaikannya, saat ini jaringan operator seluler anak perusahaan Telkom itu sudah normal kembali.

Sejumlah Sentra Telepon Otomat (STO) di wilayah terdampak pun mengalami kerusakan sedang hingga berat. Sementara untuk jaringan fiber di Majene, Menkominfo mengatakan sedang diselidiki lagi kondisinya. Kendati begitu backbone Mamuju ke Palu dan Mamuju ke Makasar dinyatakan aman.

Dirjen PPI Kementerian Kominfo Ahmad M Ramli menjelaskan bencana alam yang terjadi di Majene membuat suplai listrik dari PLN terputus, di mana itu berdampak terhadap matinya BTS seluler di beberapa wilayah yaitu Kabupaten Majene, Kabupaten Mamuju Tengah dan Kabupaten Polewali Mandar.

“Hingga saat ini jaringan seluler masih dapat melayani kebutuhan komunikasi para pelanggan di wilayah yang terdampak bencana tersebut, namun ada beberapa site BTS yang mengalami gangguan akibat gempa berjumlah 122 site dari 651 total site di Majene dan kabupaten sekitarnya atau 18,7%,” tutur Ramli.

Terkait hal ini, Kominfo melalui Ditjen PPI telah meminta operator seluler berupaya keras dalam pemulihan sebagian BTS yang terdampak bencana gempa bumi dengan terus memberikan komitmen kapasitas dan kualitas layanan telekomunikasi terbaik kepada masyarakat.

Ramli mengatakan beberapa operator mengantisipasinya dengan menyalakan genset dan melakukan rekayasa jaringan agar layanan untuk pelanggan tetap bisa terjaga.

“Kementerian Kominfo akan terus melakukan monitoring terhadap jaringan telekomunikasi dan meminta operator seluler untuk mengerahkan segala upaya untuk melakukan pemulihan terhadap site seluler yang masih down sehingga dapat berfungsi kembali secara normal meskipun listrik PLN masih putus/down,” pungkasnya.

Korban

Hingga kini, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Barat (Sulbar), total korban meninggal dunia menjadi 35 orang.
“Korban jiwa hingga saat ini untuk seluruh Sulawesi Barat (Sulbar) itu dari wilayah Majene dan Mamuju 35 meninggal dunia,” ujar Kepala BPBD Sulbar Darno Majid kepada media, Jumat (15/01/2021).

Darno mengatakan korban jiwa saat ini terdata masih dari wilayah Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene.

“Rinciannya 9 meninggal di Majene, 26 di Mamuju,” katanya.

Menurut Darno, tim gabungan dari Basarnas, BPBD, sampai TNI-Polri hingga saat ini masih terus mengevakuasi korban yang terjebak di reruntuhan bangunan.

“Nanti akan saya update lagi perkembangan terbarunya,” tuturnya.

Sementara itu, data terakhir dari BPNPB menyebutkan, sekitar 637 orang mengalami luka-luka dan sekitar 15 ribu orang mengungsi akibat gempa di Majene.

“Sepuluh titik pengungsian Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean, Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang, Desa Limbua di Kecamatan Ulumanda dan Kecamatan Malunda, dan Kecamatan Sendana,” tulis laporan BNPB.

Sejumlah infrastruktur di Majene juga rusak akibat gempa seperti longsor di 3 titik sepanjang jalan poros Majene-Mamuju yang membuat akses jalan terputus.

“(Ada) 300 unit rumah rusak, 1 unit puskesmas (RB/rusak berat), 1 kantor Danramil Malunda (RB), jaringan listrik padam, komunikasi selular tidak stabil,” tulis BNPB.

Sementara itu, kerusakan infrastruktur cukup parah juga terjadi di Mamuju yang menjadi ibu kota Sulawesi Barat.

“Hotel Maleo (rusak berat), Kantor Gubernur Sulbar (rusak berat), rumah warga rusak (pendataan), RSUD Mamuju (rusak berat), 1 unit minimarket (rusak berat), jaringan listrik padam, komunikasi selular terputus-putus/tidak stabil,” tulis BNPB.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Dampak Work From Home terhadap Kesehatan

Read Next

Jadwal Libur Nasional 2021 dan Tanggal Cuti Bersama 2021