ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
24 January 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Kisah Tim Penyelam Saat Mencari Korban Pesawat Sriwijaya Air SJ-182

Video Detik-detik Puing-puing Pesawat Sriwijaya Ditemukan

Konfirmasitimes.com-Jakarta (12/01/2021). Pada Minggu (10/01/2021), Tim penyelam gabungan dari beberapa instansi pun menemukan serpihan pesawat serta bagian tubuh korban yang sudah tidak utuh.

Temuan tersebut tentunya semakin memperkuat dugaan bahwa pesawat jenis boeing itu memang jatuh di sekitar perairan Kepulauan Seribu atau di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang.

Putaran jarum jam terus berputar seiring tim SAR yang terus bekerja keras. Selang waktu berjalan, sejumlah kepingan-kepingan badan pesawat serta bagian jenazah terus ditemukan dari dasar laut.

Temuan-temuan itu dikirim ke JICT untuk diperiksa lebih lanjut. Khusus untuk bagian jenazah korban pesawat itu dibawa ke Rumah Sakit Polri Bhayangkara, Jakarta Timur untuk penanganan lebih detail.

Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Korpolairud) Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Polri pada akhirnya memperluas areal pencarian korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

“Areal ini kita perluas lagi. Kemarin petunjuk dari Bapak Kabarhakam bahwa areal ini diperluas,” kata Dirpolair Korpolairud Baharkam Polri Brigjen Yassin Kosasih di atas Kapal Polisi Bisma 8001.

Perluasan areal pencarian tersebut mengingat sudah memasuki hari keempat pascakejadian. Selain itu, pertimbangan arus bawah laut yang deras serta angin kencang menjadi faktor pendorong perluasan areal pencarian.

Pada hari keempat pencarian, Korpolairud menerjunkan 30 penyelam serta tambahan beberapa penyelam dari Direktorat Polisi Air Polda Banten serta Polda Jawa Barat.

Untuk teknis pencarian dilakukan secara bergantian dimana gelombang pertama terdiri atas tiga tim dengan total 30 penyelam dengan kurun waktu satu jam penyelaman.

Perjalanan dari markas Korpolairud Baharkam Polri menuju lokasi kejadian membutuhkan waktu sekitar dua jam menggunakan kapal cepat. Namun, untuk kapal jenis tertentu waktu perjalanannya dapat dipangkas sekitar 1,5 jam.

Perjuangan terombang ambing di laut lepas tentunya tak apa kala diketahui saat hari ketiga pencarian itu para penyelam menemukan serpihan-serpihan pesawat Sriwijaya Air serta sejumlah “body part” atau bagian jenazah korban.

Selain itu terdapat pula temuan berupa baju, seragam pramugari, tas, uang hingga gaun pengantin berwarna putih.

Sebelum terjun ke laut lepas, tim penyelam terlebih dahulu mendapatkan arahan dari Dirpolair Korpolairud Baharkam Polri Brigjen Yassin Kosasih.

Tepat di hari keempat pascakejadian, jenderal bintang satu itu menginstruksikan penyelam agar fokus pada pencarian korban serta potongan atau bagian dari pesawat Sriwijaya Air.

“Maksimalkan pencarian korban, karena diduga bodi utama pesawat dan kotak hitam sudah dipegang oleh TNI AL,” ujarnya.

Meskipun demikian, bila penyelam menemukan kotak hitam yang berisi data penerbangan, maka benda itu tetap harus dievakuasi.

Walaupun memang berdasarkan informasi Basarnas, TNI AL pada hakikatnya telah menemukan keberadaan benda penting tersebut.

Salah seorang penyelam pencari korban pesawat Sriwijaya Air Bripka Jefry Manik Bintara Unit (Banit) SAR Polisi Perairan dan Udara Polda Banten mengatakan kendala di lapangan ialah jarak pandang dan arus air yang cukup kuat terutama di atas.

“Jarak pandang itu maksimal satu meter di kedalaman 18 hingga 20 meter,” kata polisi berdarah Batak tersebut.

Bahkan, di beberapa titik dipenuhi lumpur sehingga menyulitkan proses pencarian korban. Di samping itu, jika dipaksakan mendekat ke dasar maka semburan lumpur akan naik sehingga mengganggu penglihatan.

Polisi air yang ikut dalam pencarian tiga warga negara asing (WNA) yang hilang di perairan Pulau Sangiang pada November 2019 itu bercerita pengalaman dan kesiapan mental serta kesehatan berpengaruh saat misi kemanusiaan.

Bagi penyelam yang sudah beberapa kali menyelam mencari korban di laut lepas, biasanya lebih tenang dibandingkan dengan pemula. Bahkan, secara pribadi ia juga mengalaminya.

Salah satu hal yang membuat kepanikan ialah bila bertemu korban di dasar laut. Baik dalam kondisi utuh maupun tidak. Sebagai petugas, ia mengatakan pencarian korban merupakan misi kemanusiaan sehingga berharap besar bisa menemukan mereka dalam kondisi apapun.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Lucu! Kh Khoirul Amin di Lailatul Ijtima MWCNU & MDS Rijalul Ansor GP Ansor Gayamsari

Read Next

Pengertian Hukum dalam Kitab Kuning dan Pembagiannya