ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
17 January 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Jerit Pengusaha Mal Atas Kebijakan Pemerintah Indonesia

Mitos Paling Konyol Tentang Perang Melawan Virus Corona

Konfirmasitimes.com-Jakarta (09/01/2021). Pengusaha mal protes atas keputusan pemerintah Indonesia memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali.

Protes ini didasari karena pengelola mal sudah sangat merugi pada 2020.

Menurut keterangan Ketua APPBI (Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia) DPD Jakarta Ellen Hidayat, dikatakan bahwa kerugian yang dialami pengusaha saat ini sudah sangat parah.

“Kerugian pengelola pusat belanja selama tahun 2020 sudah sangat parah, demikian pula para tenant-nya,” kata Ellen, dalam keterangan tertulisnya.

Ellen Hidayat menjelaskan APPBI DKI memiliki 82 anggota, dan mereka sudah mengalami pasang surut sejak Maret 2020.

“Berbagai macam PSBB yang menyasar kepada pusat belanja beserta tenant-nya sudah dimulai sejak pertengahan April 2020 sampai sekarang, bahkan akan ada perketatan lagi yang baru saja diumumkan pemerintah yang disebut PPKM,” sebutnya.

“Sekali lagi kena dampak dengan adanya pembatasan penutupan mal pada jam 19.00 dan juga kapasitas resto yang diizinkan hanya 25%,” kata Ellen.

Ellen juga mempertanyakan mengapa mal menjadi korban atas lonjakan kasus positif virus Corona. Menurutnya kenaikan jumlah penderita COVID-19 disebabkan kebijakan libur panjang yang tidak terkendali, namun mal malah yang jadi korbannya.

Padahal selama ini mal diklaimnya bukan klaster COVID-19. Dari pantauan pihaknya, pengunjung mal sangat kooperatif dan mengerti tata cara protokol kesehatan yang harus diikuti ketika berkunjung ke mal.

Dia mengatakan selama ini pihak mal sudah sigap, tertib, dan patuh, hingga bersedia mengeluarkan dana untuk berbagai peralatan untuk menunjang protokol kesehatan. Itu yang membuat pusat belanja bukan merupakan klaster COVID-19.

“Tetapi tetap saja bila ada peraturan baru yang terbit, maka pusat belanja kembali lagi menjadi obyek yang harus bersedia menerima berbagai keputusan dan menanggung kerugian akibat merebaknya penderita COVID-19 lagi,” jelas Ellen.

Ellen menambahkan jumlah pengunjung mal pada akhir 2020 sangat landai. Rata-rata traffic pengunjung hanya sekitar 40%. Hal itu juga disebabkan mal yang hanya diperbolehkan beroperasi sampai pukul 19.00, sehingga masyarakat enggan ke pusat belanja.

“Selama ini salah satu daya tarik pusat belanja adalah adanya berbagai F&B; yang bervariasi dan dine-in concept. Namun dengan adanya batasan resto hanya 25% dan perkantoran harus WFH 75%, maka dapat dipastikan traffic ke pusat belanja yang saat ini baru mencapai 40% akan turun lagi,” lanjutnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Resep Bolu Kukus Anti Gagal

Read Next

Daftar Lengkap UMP 2021 di Provinsi Indonesia