ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
21 January 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Wisatawan Jambi Yang Pertama Kunjungi Museum Batam Raja Ali Haji

Wisatawan Jambi Yang Pertama Kunjungi Museum Batam Raja Ali Haji

Konfirmasitimes.com-Jakarta (26/12/2020). Wisatawan nusantara (wisnus) asal Jambi rombongan pertama yang mengunjungi Museum Batam Raja Ali Haji, bertempat di Dataran Engku Putri, Batam Centre, Jumat (25/12/2020).

Kedatangan wisnus pertama tersebut langsung disambut oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata.

Wisnus tersebut berjumlah lima orang. Ardi langsung memandu wisnus untuk melihat koleksi Museum Batam Raja Ali Haji.

Ia memulai dari tata pamer Nasi Besar merupakan nasi yang dihidangkan dalam acara kebesaran, seperti pernikahan, khataman Alquran dalam adat melayu.

Selanjutnya ada Bangkeng yang menjadi wadah penyimpanan baju pengantin Melayu. Ardi juga menjelaskan tentang sketsa wajah Nong Isa.

Untuk mendapatkan petunjuk wajah Nong Isa atau Raja Isa bin Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda Riau V bin Daeng Kamboja bin Daeng Parani, kita upayakan dari seorang pelukis sketsa, Marani.

“Adapun, sketsa itu dilukis berdasarkan penggambaran dari Raja Badrillah, salah satu keturunan ke-7 dari Nong Isa,” katanya.

Kemudian wisatawan di ajak melihat khazanah Melayu yang dipajang disetiap dinding museum yakni menampilkan sejarah peradaban Batam mulai dari Batam sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, Jepang, masa Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kepri, Otorita Pertama, era BJ Habibie, Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, Khazanah Melayu, dan infrastruktur atau era Batam sekarang.

”Kita mengambarkan before dan after infrastruktur Batam, di bawahnya ada masa kota administrasi,” ucapnya.

Wisnus asal Jambi, Melisa antusias berkunjung ke Musuem Batam Raja Ali Haji. Terlebih kunjungannya ini dipandu langsung oleh Kepala Disbudpar Kota Batam.

“Luar biasa, kami tersanjung disambut Kadis, kita pikir tour biasa ternyata waw,” katanya bahagia.

Setiap koleksi musuem tersebut sangat menarik, seperti dari sejarah sampai kegunaan benda tersebut. “Kami tadi dijelaskan tentang bangkeng, cogan, meriam, dan paling terkesan saya juga membaca ada kisah raja mempunyai empat istri salah satu istrinya dari Jambi artinya Batam dan Jambi punya hubungan,” ucapnya.

Ia mengaku perdana ke Kota Batam bersama rekan kerja. Setibanya di Batam, rombongannya langsung di ajak tour guide ke Musuem Batam Raja Ali Haji. “Kami stay di Batam selama tiga hari bersama Riztour Travel,” katanya.

Sebelumnya, Ardiwinata menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Belakang Padang telah menghibahkan meriam bukti perjuangan pahlawan melawan penjajah. Meriam tersebut langsung diletakkan di tata pamer tepatnya di Khazanah Masa Belanda.

“Kita terus berupaya mengisi Museum Batam Raja Ali Haji, dan bersyukur hari ketujuh setelah diresmikan kita mendapat meriam dari Belakang Padang,” kata dia, di Museum Batam Raja Ali Haji, Dataran Engku Putri, Batam Centre, Kamis (24/12/2020).

Selain menjadi destinasi wisata budaya, Museum Batam Raja Ali sebagai tempat edukasi bagi pelajar di Kota Batam khususnya dan umumnya Kepri. Setelah diresmikan bertepatan Hari Jadi Batam (HJB) Ke-191 Tahun Jumat (18/12) lalu, pengunjung terus berdatangan, baik remaja, maupun  orang tua.

Ardi menuturkan, Museum Raja Ali Haji sudah didaftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama 475 museum lainnya di Indonesia. Isi dari museum ini, menampilkan sejarah peradaban Batam mulai dari Batam sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, Jepang, masa Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kepri, Otorita Pertama, era BJ Habibie, Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, Khazanah Melayu, dan infrastruktur atau era Batam sekarang.

Camat Belakang Padang, Yudi Admaji mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarah dan pahlawan. Meriam ini adalah saksi bisu perjuangan melawan penjajah.

Menurut sejarah, meriam ini dibawa dari Pulau Buluh ke Belakang Padang sebagai Ibu kota Kecamatan Batam pada dekade 80-an pada masa Camat Mustafa Saleh dan diletakkan di Kantor Camat lama. Pada tahun 1992 Kantor Camat Belakang Padang dibangun.

“Baru dan pindah ke Sekanak Raya saat kepemimpinan Camat Bapak Said Hasyim meriam ini dipindahkan ke Pulau Sekanak. Sejak itu saat itu meriam bersejarah ini kokoh mengapit tiang Bendera Merah Putih Kantor Kecamatan Belakang Padang,” kata dia.

Bertepatan dengan Hari jadi ke-191 Batam tepat tanggal 18 Desember 2020 Museum Batam Raja Ali Haji diresmikan. Museum tersebut mengambarkan sejarah perkembangan Kota Batam dari masa ke masa. Pada penghujung akhir tahun 2020 masyarakat Belakang Padang menyerahkan meriam sebagai koleksi dari Museum Batam Raja Ali Haji.

“Ini menjadi catatan sejarah bahwa Belakang Padang mempunyai peran penting dalam sejarah pembangunan kota Batam,” kata dia.

Sebelum diserahkan, Yudi mengajak masyarakat Belakang Padang mengelar doa selamat memohon kelancaran selama perjalanan menuju Museum Batam Raja Ali Haji. “Pukul 10.00 dari Pelabuhan Belakang tiba di Pelabuhan Sekupang pukul 11.00, dan langsung disambut oleh Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata, dan langsung dibawa menuju Museum Batam Raja Ali Haji, di Dataran Engku Putri,” terang dia.

Selama 40 tahun berada di Belakang Padang meriam tetap terjaga dengan baik. Adanya Museum membuatnya termotivasi mencari benda sejarah lainnya di Belakang Padang. Sehingga makin banyak masyarakat Kota Batam mengetahui tentang sejarah Belakang Padang. “Memotivasi kami menggali dari orang tua kami di sini, seperti kantor camat pertama dahulu kami akan telusuri,” ucap dia.

Perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Yudistira mengatakan, meriam ini salah satu aset sejarah di Kota Batam dan Indonesia. Diletakkan di museum salah satu langkah menjaga aset tersebut.

“Museum pusat pemajuan kebudayaan dan hadiah tersebesar Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), saya berharap museum mengkaji sejarah komprehensif sehingga bisa diceritakan kepada anak cucu,” ungkap dia.

Ardi juga menuturkan, Museum Raja Ali Haji diresmikan (soft opening) oleh Wali Kota Batam, Muhammad Rudi bertempatan dengan Hari Jadi Batam (HJB) ke-191 tahun. Musuem ini sudah didaftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama 475 museum lainnya di Indonesia.

“Kita berharap museum ini destinasi wisata budaya di Kota Batam dan media edukasi masyarakat Batam, khususnya para pelajar untuk mengetahui sejarah dan perkembangan Batam dari masa ke masa,” pintanya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Sandiaga, Gerak Cepat Kembangkan 5 Destinasi Super Prioritas

Read Next

Pesawat Ultralight Haerul Sampai Tahap Pengerjaan Prototype