ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
18 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Sholat Dhuha Berjamaah

Sholat Dhuha Berjamaah

Konfirmasitimes.com-Jakarta (16/12/2020). Sebelum mengetahui tata cara sholat dhuha berjamaah, alangkah baiknya kita ketahui apa itu sholat dhuha.

Sholat dhuha adalah sholat sunnah yang dilakukan setelah terbit matahari hingga menjelang masuk waktu dzuhur.

Niat Sholat Ashar, sholat dhuha berjamaah

Sholat dhuha jam berapa

Sholat dhuha dimulai jam berapa? Waktu Dhuha adalah waktu pada saat matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta mulai dari terbitnya matahari (sekitar pukul 07.00 pagi) sampai waktu dzuhur (sekitar pukul 12.00 siang).

Baiknya, afdhalnya dilakukan pada pagi hari di saat matahari sedang naik (sekitar pukul 09:00 pagi).

Sholat dhuha berapa rakaat

Sholat dhuha dikerjakan minimal dua rakaat. Akan tetapi, tidak ada larangan untuk menambah jumlah rakaat sholat dhuha. Nabi Muhammad pernah melakukan sholat dhuha 8 rakaat, berdasarkan riwayat Ummu Hani’, “Nabi saw. pada tahun terjadinya Fathu Makkah beliau sholat dhuha delapan rakaat.” (H.R. Bukhari). Jika sholat dhuha dikerjakan lebih dari dua rakaat, maka pengerjaannya diutamakan sekali salam untuk dua rakaat.

Tata cara sholat dhuha berjamaah

Niat sholat dhuha berjamaah sebagai imam:

“Usholli sunnatan dhuhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati imaaman lillaahi ta’aalaa.”

Artinya:

“Aku niat shalat sunnah dhuha dua rakaat menghadap kiblat, sebagai imam, karena Allah Ta’ala.”

Niat sholat dhuha berjamaah sebagai ma’mum:

“Usholli sunnatan dhuhaa rok’ataini mustaqbilal qiblati ma’muuman lillaahi ta’aalaa.”

Artinya:

“Aku niat shalat sunnah dhuha dua rakaat menghadap kiblat, sebagai ma’mum, karena Allah Ta’ala.”

Bolehkah sholat dhuha dikerjakan berjamaah

Dari Mujahid, beliau mengatakan: “Saya dan Urwan bin Zubair masuk masjid, sementara Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu duduk menghadap ke arah kamarnya Aisyah. Kemudian kami duduk mendekat beliau. Tiba-tiba ada banyak orang melaksanakan sholat dhuha (di masjid). Kami bertanya: “Wahai Abu Abdirrahman, sholat apa ini?” Beliau (ibn Umar) menjawab: “Bid’ah..!” (HR. Ahmad 6126, kata Syaikh Al Arnauth: Sanadnya shahih sesuai dengan persyaratan Bukhari dan Muslim).

Al Qodhi Iyadh, An Nawawi dan beberapa ulama lainnya mengatakan: “Ibn Umar mengingkari mereka karena perbuatan mereka yang terus-menerus mengerjakannya, kemudian mereka lakukan sholat itu di masjid, dan dengan berjamaah. Bukan karena hukum asal sholat tersebut menyelisihi sunnah (perbuatan bid’ah). Hal ini dikuatkan dengan riwayat Ibn Abi Syaibah (7777) dari Ibn Mas’ud, bahwasanya beliau (Ibn Mas’ud) melihat beberapa orang sholat dhuha, kemudian beliau mengingkarinya, sambil mengatakan:

إِنْ كَانَ وَلَا بُدَّ فَفِي بُيُوتِكُمْ

“Jika memang harus melaksanakan sholat dhuha, mengapa tidak di rumah kalian.” ( Fathul Bari, 3:53).

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin ditanya tentang tafsir perkataan Ibn Umar yang membid’ahkan sholat dhuha sebagaimana riwayat di atas. Beliau menjawab: “Hal ini (perkataan Ibn Umar) –wa Allahu A’lam– karena mereka mengerjakan sholat dhuhanya secara berjamaah, kemudian beliau (Ibn Umar) menilai hal itu sebagai perbuatan bid’ah.” (Syarh Shahih Bukhari Kitab Al Hajj).

Selanjutnya, ada beberapa riwayat yang menunjukkan  bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan sebagian sahabat melaksanakan sholat dhuha berjamaah, diantaranya:

Pertama, hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ’anhu, beliau bercerita: “Ada seorang laki-laki dari anshar berkata (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam): “Saya tidak bisa sholat bersama Anda.” Dalam lanjutan hadis dinyatakan:

فَصَنَعَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا، فَدَعَاهُ إِلَى مَنْزِلِهِ، فَبَسَطَ لَهُ حَصِيرًا، وَنَضَحَ طَرَفَ الحَصِيرِ فَصَلَّى عَلَيْهِ رَكْعَتَيْنِ

Kemudian beliau membuat makanan untuk Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan mengundang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam agar datang ke rumahnya. Dihamparkan tikar dan beliau memerciki bagian ujung-ujungnya dengan air, kemudian sholat dua rakaat di atas tikar tersebut.” Ada seseorang dari keluarga Al Jarud bertanya kepada Anas: “Apakah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melaksanakan sholat dhuha?” jawab Anas: “Saya belum pernah melihat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melaksanakan dhuha kecuali hari itu.” (HR. Bukhari No.670).

Hadis ini dibawakan oleh Bukhari dalam bab: “Apakah Imam sholat bersama orang yang tidak bisa berjamaah.” Karena zahir hadis menunjukkan bahwa beliau mengerjakannya berjamaah dengan orang Anshar tersebut.

Al Hafidz Al-Aini menyebutkan beberapa pelajaran penting dari hadis ini. Diantara yang beliau sebutkan adalah bolehnya mengerjakan sholat sunah secara berjamaah. (Umdatul Qori, 5:196).

Kedua, riwayat dari Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Uthbah, beliau megatakan:

دخلت على عمر بن الخطاب بالهاجرة، فوجدته يسبح، فقمت وراءه، فقربني حتى جعلني حذاءه عن يمينه، فلما جاء (يرفأ) تأخرت فصففنا وراءه

“Aku masuk menemui Umar di waktu matahari sedang terik, ternyata aku melihat beliau sedang sholat sunah, lalu aku berdiri di belakangnya dan beliau menarikku sampai aku sejajar dengan pundaknya di sebelah kanan. Ketika datang Yarfa’ (pelayan Umar) aku mundur dan membuat shaf di belakang Umar radhiallahu ’anhu.” (HR. Malik dalam Al Muwatha’ 523 dan dishahihkan Syaikh Al Albani di As Shahihah catatan hadis 2590).

Selama itu hanya dilakukan kadang-kadang dan tidak dijadikan kebiasaan maka sholat dhuha berjamaah dibolehkan. Dan ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam dan Syaikh Ibn Al Utsaimin. (Al Fatwa Al Kubro Ibn Taimiyah 2/238 & Majmu’ Fatawa Ibn Al Utsaimin 4).

Panduan lengkap sholat wajib 5 waktu dan macam-macam sholat sunnah.

(Dari berbagai sumber)

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Studi: Kemalasan Bisa Menjadi Gejala Penyakit Serius

Read Next

Lokasi dan Jadwal SIM Keliling Hari Ini, Rabu 16 Desember 2020