ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
20 January 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Peluang Bisnis: Vitamin A dan E Berbasis Sawit

Konfirmasitimes.com-Jakarta (10/12/2020). Peluang bisnis produksi vitamin A dan E berbasis minyak sawit cukup besar, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat Pertanian, Bungaran Saragih saat webinar Prospek Bisnis Vitamin A dan E Berbasis Minyak Kelapa Sawit di Jakarta, Rabu (09/12/2020).

Apalagi, Indonesia merupakan negara penghasil PKO dan CPO terbesar di dunia. Peluang ini harus ditangkap oleh industri dalam negeri.

Dilihat dari demand, baik dari dalam negeri dan luar negeri cukup besar. Di dalam negeri, kondisi masyarakat Indonesia yang masih banyak mengalami kekurangan gizi (malnutisisi) dan stunting menjadi peluang untuk produksi vitamin A dan E. Apalagi bahan bakunya berasal dari komoditas minyak sawit .

“Kita sudah menghasilkan PKO dan CPO terbesar di dunia. Ini menjadi sumber penghasil vitamin A dan E yang luar biasa. Prospek ada? Masalahnya bagaimana kita menjadikan bisnis. Kalau kita gagal menerjemahkan vitamian A dan E sebagai bisnis, maka kita gagal mengembangkan bisnis tersebut,” kata Bungaran.

Meksi demikian, Bungaran mengakui, untuk menjadikan minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan E yang berguna untuk kesehatan memerlukan proses panjang yang harus dikuasai industri dalam negeri, terutama mengubah dari minyak sawit.

“Prosesnya panjang dan rumit. Ada masalah enginering, sosial, bahkan politik pemerintah. Peran pemerintah sangat penting. Untuk menangkap peluang itu, jangan malu kita bekerjasama dengan asing, terutama dari sisi teknologi,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabarat mengatakan, induatri sawit dalam negerai sangat memiliki potensi besar, namun belum digarap secara serius atau secara bisnis.

Dia mencontohkan limbah cair kelapa sawit atau POME yang bisa menghasilkan listik dan gas, tandan kosong dapat diproses untuk menghasilkan listrik dan etanol, betkaroten dan tocopherol sebagai bahan baku industri makanan dan farmasi.

“Kelapa sawit atau CPO kita itu 300 ppm saja, maka dalam satu tonnya itu terdapat 0,3 kg per ton. Jika asumsi 45 juta ton cpo kita per tahun, maka ada potensi beta carotene 5 ribu ton per tahun,” ujar Rapolo.

“Begitu juga dengan tocophecrolnya, berbagai literatur yang kami cari menyampaikan bawah kadarnya itu antara mencapai 600 sampai 1000 ppm. Dengan 600 maka terdapat 0,6 kg per ton sehingga potensi yang terabaikan itu 27 ribu ton,” sambungnya.

Harga beta carotene natural untuk vitamin E di pasar internasional mencapai USD350 atau Rp7.500 per kg, sedangkan beta carotene sintesitis sebesar USD250 atau Rp2.000 per kg. Sedangkan harga tocopherol natural USD100 per kg, sedangkan yang sintetis USD20-75 per kg.

Rapolo mengatakan, market leader di globa supply chain beta carotene tak satu pun perusahan yang berasal dari Indonesia. Dari 20 perusahaan, semuanya milik asing.

“Ada lima besar yang menjadi pemain beta carotene yaitu Netherlands, Germany, Denmark, Amerika Serikat, Lycored Limited (Israel). Begitu juga pemain global untuk Tocopherol tak satupun nama perusahaan di Indonesia dari 16 pemain,” ujarnya.

Data Kementerian Pertanian pada 2017 mencapai 23 juta dollar AS atau 14,83 persen terhadap APBN. Tahun 2018 nilai ekspor minyak sawit mencpai 22,08 juta dollar AS terjadi penurunan karena harga komoditas melemah, sehingga porsi terhadap APBN hanya 13,30 persen. Sementara tahun 2019, karena terjadi pelemahana nilai komoditas global nilai ekspor kembali menurun, sehingga nilai ekspor CPO hanya 19,24 juta dolar AS atau 11,73 persen dari APBN.

Dari sisi volume, ekspor CPO terus mengalami peningkatan. Tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 3,8-3,9 juta ton. Berdasarkan data Oktober 2020, sudah mencapai 3,2 juta ton dengan nilai 26 juta dollar AS.

Sementara itu Direkur Plt Direktur Kemitraan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Edi Wibowo mengatakan, sebagai produsen terbesar minyak sawit di dunia, rata-rata ekspor crude palm oil (CPO) per tahun mencapai 21,4 miliar dolar AS. Jumlah itu 14,4 persen pertahaun dari total ekspor Indonesia. Bahkan pada masa pandemi masih bisa menghasilkan devisa. Hingga Agustus 2020 devisa yang terkumpul dari ekspor mencapai 13 miliar dollar AS di tengah lemahnya penghasilan devisa lain seperti dari migas dan pariwisata.

Perkebuan sawit juga menjadi penyumbang membuka lapangan pekerjaan. Dari mulai on farm (kebun) hingga sampai produk akhir total lapangan pekerjaan yang terserap mencapai 4,2 juta tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Sawit juga berkonstribusi pada biodiesel, energi ramah lingkungan.

“Bahkan pencampuran biodiesel dengan minyak solar pada 2020 menjadikan Indonesia pioneer dalam pencampuran atau terbesar di dunia. Ini berdampak mengurangi ketergantungan impor minyak solar,” katanya.

Kepala PUI-PT Nutrasetikal Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB, Elfahmi Yaman mengatakan, minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan E mempunyai keunggulan dalam pemanfaatan di bidang farmasi secara komersial. Bahkan penggunaan dalam bentuk crude material kasar merupakan nilai tambah bagi minyak sawit, karena mengandung beberapa kandungan lain yang bisa memberikan efek farmakologi secara sinergis.

“Karena itu inovasi riset Vitaman A dan E memberikan luaran yang sangat prospektif dalam pemanfaatan Vitamian A dan E dari minyak sawit,” katanya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Jelang Puncak Musim Hujan, BMKG Minta Warga Untuk Waspada

Read Next

Pabrik Triplek di Batang Ekspor ke Singapura