ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
17 January 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Tips Hindari Investasi Bodong versi OJK

Tips Hindari Investasi Bodong versi OJK

Konfirmasitimes.com-Jakarta (06/12/2020). Investasi salah satu hal yang menggiurkan dan bisa mendatangkan keuntungan. Namun, tidak sedikit masyarakat yang terjebak dan tertipu penawaran investasi bodong.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hoesen.

Hoesen memberikan tips agar terhindar dari penipuan investasi yang masih marak terjadi.

Pertama, masyarakat diminta waspada terhadap penawaran investasi yang memaksa atau dengan bujuk rayu, karena sebetulnya investasi itu harus rasional.

Kedua, masyarakat juga harus memastikan bahwa orang atau perusahaan yang menawarkan investasi telah berizin dari lembaga berwenang dan berkegiatan sesuai dengan izinnya.

Ketiga, perhatikan tawarannya ini logis atau tidak, jangan terlalu cepat dan terlalu muda tergiur dengan iming iming pihak yang menawarkan investasi.

“Nanti kamu kalau beli ini masuk surga, misalnya gitu. Surga di mana, surga di dunia atau di akherat. Nah itu logis atau tidak. Pokoknya mereka umumnya mengiming-imingi dengan sesuatu yang sangat luar biasa,” terang hoesen.

Keempat, Harus waspada dengan modus investasi replikasi (misalnya investasi berkedok MLM) dan penguncian dana (misalnya uang tidak boleh diambil dalam jangka waktu tertentu).

Menurut Hoesen, secara tipologi, penipuan investasi biasanya menjanjikan keuntungan yang tidak wajar dan dalam waktu cepat. Selain itu, masyarakat juga dijanjikan bunga tinggi dan bebas risiko.

“Dalam investasi, kita juga harus berpikir secara jernih dan wajar. Jadi jangan tergiur dengan bunga tinggi, jadi high risk high return, makin tinggi return pasti makin tinggi risikonya, terutama risiko penipuan,” lanjutnya.

Penipuan investasi umumnya juga menyasar masyarakat yang belum paham investasi. Hoesen menuturkan, saat ini dari 268 juta penduduk Indonesia, baru 3 juta penduduk yang telah menjadi investor di pasar modal.

Kelima, penipuan investasi biasanya juga memanfaatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, atau selebriti.

Keenam, dari sisi legalitas, ciri-ciri penipuan investasi biasanya tidak memiliki izin. Biasanya memiliki izin kelembagaan, tapi tidak ada izini usaha.

Ada pula yang telah memiliki izin kelembagaan dan usaha, tapi kegiatannya tidak sesuai izin.

Kasus terakhir yang “booming” adalah kasus PT Jouska Finansial Indonesia yang mendeklarasikan sebagai perencana finansial, namun berpraktik sebagai penasihat investasi.

Izin yang dimilikinya hanya kegiatan jasa pendidikan lainnya, bukan sebagai penasihat investasi.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Bangladesh Mulai Relokasi Pengungsi Rohingya ke Pulau Terpencil

Read Next

Kecelakaan Tambang Batu Bara di China, 18 Orang Tewas