ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
23 January 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Makruh dan Sempurna Wudhu

tata-cara-wudhu

Konfirmasitimes.com-Jakarta (30/11/2020). Di wudhu ada hal-hal yang perlu diperhatikan seperti kemakruhan dan bagaimana sempurna wudhu itu. Dalam hukum Islam, ada lima hukum atau kaidah yang dipergunakan sebagai patokan mengukur perbuatan manusia baik dibidang ibadah maupun di lapangan muamalah. Kelima jenis kaidah tersebut adalah al-ahkam al-khamsah atau penggolongan yang lima atau lima kualifikasi, yaitu;

  1. dibolehkan (mubah, jaiz, ibahah)
  2. dianjurkan (sunnah, mandub, mustahab)
  3. tidak disukai (makruh)
  4. wajib (wajib, fardh), hukum Islam dibedakan menjadi kewajiban perorangan (fardh’ain), seperti shalat dan puasa, dan kewajiban kolektif (fardh kifayah), pemenuhan kewajiban ini oleh sejumlah individu membebaskan individu yang lain untuk melaksanakannya, seperti shalat jenazah dan jihad, dan
  5. dilarang (haram) lawan dari halal atau segala sesuatu yang tidak dilarang.

Kemakruhan Dalam Wudhu

  • Berlebihan dalam menggunakan air.
  • Mendahulukan anggota wudhu yang kiri (tangan dan kaki).
  • Membasuh kurang dari tiga kali.
  • Melebihi tiga kali basuhan telah yang diyakini sempurna.
  • Berlebihan dalam berkumur atau menghirup air ke dalam hidung bagi orang yang puasa.
  • Mengusap air wudhu yang melekat pada anggota wudhu.

Praktek Isbaghul Wudhu (Menyempurnakan Wudhu)

1. Menghadap kiblat.

2. Bersiwak disertai niat melakukan kesunahan wudhu.
Teknisnya adalah dengan cara menggosok gigi kanan bagian luar dan dalam, kemudian gigi kiri bagian luar dan dalam. Setelah itu menggosok gigi geraham dan langit-langit mulut di atas tenggorokan secara perlahan-lahan.

3. Membaca ta’awudz dan basmalah bersamaan membasuh kedua telapak tangan sampai pada pergelangan, kemudian menyela-nyelai jari tangan dengan cara merangkapkan jari-jari tangan kiri pada jari-jari tangan kanan disertai niat dalam hati melaksanakan kesunahan wudhu.

4. Berkumur, dengan cara memasukkan air ke dalam mulut, kemudian diputar-putarkan hingga mengenai seluruh rongga mulut setelah itu dimuntahkan.

5. Menghirup air kedalam hidung kemudian menyemprotkannya ke luar.
(Mengumpulkan berkumur dan istinsyaq dengan tiga cidukan air, yaitu berkumur dari setiap cidukan kemudian istinsyaq lebih utama daripada memisah diantara keduanya).

6. Niat bersamaan membasuh wajah bagian atas serta sebagian kapala bagian depan dan lipatan-lipatan leher, kemudian air diratakan dengan tangan.

7. Membasuh tangan sampai bagian lengan di atas sikusiku, kemudian menyela-nyelai jari tangan dengan cara merangkapkan jari-jari tangan kiri pada jari-jari tangan kanan.

8. Mengusap seluruh kepala dengan cara meletakkan dua jari telunjuk pada kepala bagian depan. Sedangkan ibu jari berada di pelipis.

9. Mengusap seluruh bagian luar dan dalam kedua telinga dengan cara memasukkan kedua jari telunjuk tangan ke dalam lubang telinga dan melakukannya pada lekukan-lekukan telinga, sedangkan ibu jari dijalankan pada bagian luar telinga. Setelah itu kedua telapak tangan yang dalam keadaan basah dilekatkan pada kedua telinga.

10. Membasuh kaki sampai lutut sambil menyela-nyelai jari kaki, dengan cara memasukkan jari kelingking tangan kiri dimulai dari sela jari kelingking kaki yang kanan
sampai jari kelingking kaki kiri.

11. Membaca do’a dengan mengangkat pandangan ke atas dan kedua tangan, sebagaimana do’a diatas.

12. Sholat dua roka’at setelah wudhu dengan niat sebagai
berikut :

Sholat dua roka'at setelah wudhu

Ushalli sunnatal wudhu’i lillahi ta’aa la

Artinya: aku sengaja sholat sunnah wudhu karena Allah SWT.


Kesalahan yang Sering Terjadi Dalam Wudhu

1. Tidak menghilangkan sesuatu yang menghalangi
sampainya air pada kulit anggota wudhu, seperti cat,
bekas tip ex dan lain- lain. Konsekwensi yang harus
dilaksanakan adalah mengulangi wudhu jika nyata
ditemukan kejadian seperti itu.

2. Kurang teliti dalam membasah bagian-bagian tertentu,
seperti sudut kelopak mata, siku-siku, bawah kuku serta
bagian-bagian sulit lainnya.

3. Masukknya percikan air bekas basuhan pertama salah
satu anggota wudhu, baik dari dirinya sendiri atau orang
lain ke dalam cakupan air yang akan digunakan untuk
membasuh, kecuali jika sedikit dan tidak merubah sifat-sifat air.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Presiden: Regulasi Rumit Hambat Kreativitas Kerja

Read Next

Sudah 43 Gedung di Jakarta Diperbolehkan Gelar Resepsi Pernikahan