ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
25 January 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Gunung Ile Lewotolok Meletus, 5 Anak Dilaporkan Hilang

Gunung Ile Lewotolok

Konfirmasitimes.com-Jakarta (30/11/2020). Usai meletusnya Gunung Ile Lewotolok, lima anak dilaporkan hilang.

Kelima anak yang berasal dari Desa Waienga, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata itu hilang kontak pasca meletusnya Gunung Ile Lewotolok, Minggu (29/11/2020) kemarin.

Dugaan sementara kelima anak itu berlari menuju hutan ketika terjadi letusan Gunung Ile Lewotolok.

Paulus Toon Langotukan bersama warga, orang tua, kerabat, dan aparat Polres Lembata serta personel TNI berupaya mencari memasuki hutan di malam gelap, menyusuri jalan yang diprediksi dilalui kelima anak tersebut.

Paulus Toon Langotukan, seorang politisi dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (30/11/2020) menyampaikan dugaan sementara kelima anak ini panik sehingga berlari menuju hutan dan hingga kini belum juga kembali.

“Karena khawatir kami melakukan pencarian namun juga belum ditemukan,” katanya.

Kelima anak dari Desa Waienga itu adalah Philipus Kopong (difabel), Cicilan (kelas 1 SD), Meski (kelas 1 SD), Naldo (kelas 2 SD), dan Holni (kelas 4 SD).

Paulus mengharapkan bantuan semua pihak yang kemudian mendapat informasi keberadaan kelima anak ini bisa melaporkan kepada pihak berwajib.

Sebagaimana diketahui, Hamburan pasir batu dan abu vulkanik belum berhenti hingga hari Minggu 29 November 2020.

Erupsi Gunung Ile Lewotolok sendiri telah terjadi sejak Jumat 27 November 2020 pagi.

Dilaporkan oleh KESDM, Badan Geologi, dan PVMBG Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok erupsi pertama terjadi pada Jumat terjadi sekitar pukul 05.57 Wita.

Saat itu, teramati tinggi kolom abu lebih kurang 500 meter di atas puncak, sekitar 1.923 meter di atas permukaan laut.

Erupsi itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 milimeter dan durasi lebih kurang dua menit.

Akibat erupsi tersebut menyebabkan sejumlah desa di sekitar lereng gunung diguyur abu dan pasir.

Gunung Ile Lewotolok yang mengalami erupsi sejak Jumat diketahui terus mengalami peningkatan aktivitas.

Jika sebelumnya kolom abu teramati setinggi 500 meter di atas puncak, pada Minggu (29/11/2020) kolom abu meningkat menjadi 4.000 meter di atas puncak.

“Kolom abu teramati berwarna abu dengan intensitas tebal condong ke arah timur dan barat.

Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 35 mm dan durasi kurang lebih 10 menit,” ungkap Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok, Alselmus Bobyson Lamanepa kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Minggu.

Terkait dengan peningkatan aktivitas gunung itu, pihaknya meminta warga untuk menghindari area puncak dengan radius 2 kilometer.

Menyikapi peningkatan aktivitas Gunung Ile Lewotolok, warga yang tinggal di sekitar lereng gunung memilih untuk mengungsi.

Teddi Lagamaking, warga di sekitar Gunung Ile Lewotolok mengatakan, saat ini warga sudah banyak yang mengungsi ke kantor Bupati Lembata.

Hal itu dilakukan karena warga mulai panik. Mengingat erupsi Gunung Ile Lewotolok sudah tiga hari terakhir belum juga berhenti.

“Tadi pukul 11.00 WITA warga berangkat menuju kantor bupati Lembata karena panik melihat erupsi kembali terjadi disertai hujan kerikil, batu pasir, dan abu vulkanik. Mau tidak mau harus mengungsi,” terangnya.

Sementara itu, dikabarkan masih ada ratusan warga di kawasan sekitar Gunung Ile Lewotolok, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih ada yang belum dievakuasi ke daerah aman dengan alasan sudah lanjut usia.

“Masih banyak sekali warga yang memilih bertahan di kampung halaman mereka dengan alasan sudah tua. Pemerintah sudah mengambil langkah evakuasi, tetapi masih banyak yang bertahan di kampung dengan alasan sudah tua, menjaga barang adat, hewan piaraan dan sebagainya,” kata Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, dalam keterangannya, Senin (30/11/2020).

Menurutnya, ada 14 desa di Kecamatan Ile Ape dan Kecamatan Ile Ape Timur yang terkena dampak erupsi dari gunung berupa abu dan kerikil.

Sejauh ini setidaknya 4.000 warga telah meninggalkan desa dan mengungsi ke daerah-daerah aman.

Mereka tidak saja menempati posko yang disiapkan pemerintah, tetapi juga rumah-rumah penduduk.

“Saya baru selesai mengunjungi sembilan titik, dengan jumlah mereka berkisar 27-55 orang,” katanya.

Sementara jumlah yang menempati pos utama di Nubatukan sampai pagi ini berjumlah 3.474 orang.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Menkeu Beberkan Alasan Beli Minuman Dibebankan Pajak

Read Next

Keren! Anak SD Berani Lontarkan Pertanyaan Menohok ke Sri Mulyani