ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
16 January 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Bambu Hitam Di Sulap Jadi Produk Bernilai Ekonomis

Bambu Hitam Jadi Kerajinan Tangan

Konfirmasitimes.com-Jakarta (27/11/2020). Bambu hitam ternyata berpotensi memiliki nilai ekonomis

Pasalnya ditangan masyarakat Desa Jatilaksana, Kecamatan Pangkalan telah membuktikannya.

Bersama dengan mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), penduduk Jatilaksana mampu bertahan ditengah krisis seperti sekarang ini.

Ide untuk membuat kerajinan tangan dari bambu hitam sebenarnya bukan yang pertama. Jauh sebelumnya sudah ada pengrajin bambu hitam di Jatilaksana. Namun, seiring waktu berjalan, mereka stop produksi. Kini,

Mulai Juli 2020, kerajinan bambu hitam bangkit lagi. Meski ide untuk membuat kerajinan tangan dari bambu hitam sebelumnya sudah ada pengrajin di Jatilaksana. Tetapi, mereka stop produksi seiring waktu berjalan.

Mahasiswa Unsika di bawah PHP2D (Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengajak masyarakat mengatasi dampak pandemi dengan membuat Rumbela (Rumah Belajar).

Menurut keterangan salah seorang mahasiswa, Dewinta Novilisia menerangkan, selama tiga bulan program berjalan, Rumbela Desa Jatilaksana sudah menghasilkan tiga macam kerajinan tangan dari bambu hitam, yaitu asbak, lampion, dan pot.

“Sasaran PHP2D ada tiga. Pemuda desa, ibu-ibu PKK, dan masyarakat desa secara umum. Alhamdulillah program berjalan dengan lancar,” kata Dewinta, dalam keterangannya kepada media, beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, para mahasiswa berencana merancang buku saku yang rencananya akan memandu anggota Rumbela untuk memasarkan produk bambu hitam.

“Karena pelatihan kreativitas sudah selesai, sekarang ini kami sedang menyusun pelatihan kewirausahaan. Bedanya, pelatihan kreativitas berisi bagaimana caranya memanfaatkan bambu hitam jadi kerajinan tangan, kalau kewirausahaan berisi bagaimana cara memasarkan kerajinan tangan. Kami juga akan memfasilitasi masyarakat untuk pelatihan cara mengemas produk yang baik dan benar,” terang Dewinta.

Masalah strategi pemasaran, walaupun belum diputuskan berapa harga satuan kerajinan tangan, produk kerajinan tangan bakal dipasarkan secara daring dan luring. “Kalau daring, dipasarkan via online shop dan media sosial. Kalau luring, dititipkan ke toko-toko suvenir dan oleh-oleh di sekitar Loji-Pangkalan,” sambungnya.

Dewinta dan rekan mahasiswa lainnya tetap optimistis, produk bambu hitam bakal laris manis mengingat Desa Jatilaksana adalah jalur emas pariwisata gunung andalan Karawang.

Sementara itu pada kesempatan lain, menurut ketarangan Ketua Rumbela Jatilaksana yang juga menjabat sebagai aparatur desa, Acim Bahrudin, S.Ip, ia mengatakan, potensi Rumbela dalam meningkatkan ekonomi masyarakat belum bisa diprediksi karena masih dalam proses pemasaran. Namun, adanya Rumbela di tengah masyarakat bisa menjadi inspirasi.

Menurutnya, Rumbela juga memproduksi bros dari limbah rumah tangga, jadi tidak hanya kerajinan tangan dari bambu hitam.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Harap Bersabar, Presiden Baru Putuskan Senin Depan Soal Libur Akhir Tahun dan Cuti Bersama

Read Next

China: Cabut Sanksi AS Terhadap Suriah