ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
21 January 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Defisit APBN Mencapai Rp764 Triliun, Utang Bertambah Rp958 Triliun

Defisit APBN Mencapai Rp764 Triliun, Hutang Bertambah Rp958 Triliun

Konfirmasitimes.com-Jakarta (24/11/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan, Januari hingga Oktober 2020, APBN mengalami defisit sampai Rp764,9 triliun atau 4,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kondisi tersebut bisa terjadi karena dari sisi pendapatan negara, terjadi kontraksi sebesar 15,4 persen atau Rp1.276,9 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp2.041,8 triliun.

“Dari sisi belanja negara terjadi pertumbuhan 13,6 persen. Kalau kita lihat dengan pendapatan, maka defisit kita mencapai Rp764,9 triliun, atau 4,67 persen dari GDP,” jelas dia dalam Konferensi Pers Virtual APBN KITA, Senin (23/11/2020).

Realisasi penerimaan negara per akhir Oktober adalah 75,1 persen dari target dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 72/2020 yang capai Rp 1.699,9 triliun.

Penerimaan negara selama sepuluh bulan ini harus diwaspadai. Sebab, persentase pelemahannya sudah di atas target penerimaan negara akhir tahun yang semula diprediksi minus 10% yoy.

Faktor lain bisa dipengaruhi realisasi penerimaan perpajakan yang melemah. Secara rinci Sri Mulyani menjelaskan, kontraksi di sisi penerimaan terjadi karena setoran perpajakan sampai Oktober tercatat hanya menerima Rp991 triliun atau 70,6 persen dari target. Angka tersebut turun 15,6 persen dibanding pendapatan negara di periode yang sama tahun lalu.

Kemudian ada pula Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah Rp94,8 triliun atau 94,8 persen dari target. Angka tersebut turun 16,3 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu. Serta yang ada pula penerimaan negara dari hibah yang mencapai di Rp7,1 triliun atau 548,6 persen dari target.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani juga merinci sudah menarik utang sebesar Rp958 triliun hingga akhir Oktober 2020. Adapun, utang tersebut berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) neto dan pinjaman neto.

“Ini sejalan dengan realisasi defisit anggaran yang melebar ke level 6,34% pada 2020 atau setara Rp1.039,2 triliun,” kata Sri Mulyani.

Kata dia, total pembiayaan utang yang mencapai Rp958,6 triliun tersebut berasal dari SBN neto sebesar Rp943,5 triliun dan pinjaman sebesar Rp15,2 triliun.

Sementara untuk pembiayaan investasi terkontraksi Rp 28,9 triliun hingga akhir Oktober 2020.

“Ada aanggaran investasi kepada BUMN, investasi kepada BLU, dan investasi kepada lembaga atau badan lainnya mengalami kontraksi,” katanya.

Sedangkan untuk pemberian pinjaman realisasinya Rp1,9 triliun atau 32,3% dari target Rp5,8 triliun. Lalu kewajiban penjaminan kontraksi Rp3,4 triliun, dan terakhir pembiayaan lainnya Rp0,2 triliun.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Amerika dan Kebangkitan ISIS

Read Next

Israel dan Arab Saudi Bisa Gagalkan Rencana Timur Tengah Biden