Mengkultuskan Sebab Keturunan adalah Perbudakan Spiritual

Mengkultuskan Keturunan adalah Perbudakan Spiritual

Konfirmasitimes.com-Jakarta (22/11/2020). Menyoroti sikap masyarakat yang kerap mengkultuskan seseorang yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, Mantan Ketum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii menganggap sikap seperti itu sebagai perbudakan spiritual.

“Bagi saya mendewa-dewakan mereka yang mengaku keturunan Nabi adalah bentuk perbudakan spiritual,” cuit Buya dalam akun Twitter @SerambiBuya, Sabtu (21/11/2020).

Buya Syafi’i menjelaskan, Ir Sukarno dulu juga mengkritik keras sikap masyarakat yang terlalu mendewakan seseorang sebagai keturunan Nabi, karena dianggap tak sehat dalam kehidupan bermasyarakat di NKRI.

“Bung Karno puluhan tahun yang lalu sudah mengkritik keras fenomena yang tidak sehat ini,” terangnya.

Buya tak menyinggung kelompok masyarakat yang kerap mendewakan seseorang yang mengaku keturunan Nabi. Belakangan sosok yang tengah ramai diperbincangkan dan jadi sorotan masyarakat adalah pemimpin FPI Rizieq Syihab. Banyak masyarakat yang mengelu-elukan pemimpin FPI ini yang akhirnya pulang setelah 3,5 tahun menetap di Arab Saudi.

Sosok Rizieq dan gerombolannya kerap mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW. Meski demikian, tak sedikit yang mempersoalkan sosok Rizieq Syihab sebagai seorang keturunan Nabi Muhammad SAW karena keras dan kotor kata-kata yang dilontarkan, yang dirasaka tidak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, termasuk saat mengkritik pemerintah atau menyinggung pihak lain.

Sebagaimana diketahui bersama, ajaran Islam hanya menganjurkan sanjungan, pujian hanya pantas ditujukan kepada Allah SWT semata.

Allah swt. berfirman di dalam QS: al-An’am (6): 1, yaitu :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Artinya: Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.

yang lebih simple dari ayat tersebut adalah yang tersebut di dalam surat al-Fatihah (1): 2, yaitu :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Kedua ayat tersebut diawali dengan kata Hamdu yang artinya pujian, sanjungan, ungkapan rasa syukur atau terima kasih yang  ditujukan kepada Allah swt, biasa disebut dengan kata tahmid. 

Dalam sehari semalam umat Islam minimal menngucapkan kalimat tersebut 17 kali karena dalam shalat lima waktu selalu membaca al-fatihah.  Belum lagi sesudah shalat kemudian berdzikir dengan membaca kalimat tahmid sebanyak 33 kali dan dikalikan 5 waktu sudah 165 kali.  Belum lagi ketika bersin dan mendapatkan nikmat yang sangat membahagiakan kalimat tahmid selalu dilantunkan.  Betapa ringannya mengucap kalimat tahmid bagi lisan orang muslim.

Kalimat tahmid itu kalimat yang ringan diucapkan tapi sangat berat kandungan maknanya.  Di dalam kalimat tahmid ada dua kandungan makna, yaitu :

Pertama, penegasan pujian dan sanjungan seharusnya hanya ditujukan kepada Allah swt.  Dengan makna seperti itu, maka kita dilarang memuji atau menyanjung orang lain secara berlebihan.

Pujian dan sanjungan yang berlebihan kepada seseorang hanya akan melahirkan sikap kultus yang mengarah pada bentuk kemusrikan,  orang yang sudah dikultuskan maka akan dianggap sebagai orang yang selalu benar dan tidak pernah salah hingga muncul kebenaran mutlak dan penyerahan diri secara total kepada orang yang dikultuskan dan itulah bentuk kemusyrikan.

Kedua, Penegasan pujian itu hanyalah milik Allah swt.  dengan makna seperti itu maka kita tidak perlu menjadi orang yang rakus dan gila pujian.  Marah apabila tidak dipuji atau disanjung.  Sebagai seorang muslim hendaknya jika dipuji tetap bersikap biasa dan jika tidak dipuji pun bersikap biasa karena menyadari bahwa pujian itu hanya milik-Nya Allah swt. 

Orang yang gila dan rakus pujian hanya akan melahirkan kesombongan.  Sikap sombong dilakukan oleh setan dan iblis.  Manusia pada dasarnya tidak mempunyai potensi untuk bersikap sombong, karena itu manusia yang sombong karena terlena dalam godaan iblis atau setan. Ajaran Islam melarang keras sikap sombong.

Masih maukah mengkultuskan seseorang atau dikultuskan sesorang???

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Banyak Uang Palsu Beredar! Begini Cara Membedakannya

Read Next

Sebanyak 10 Orang Pekerja Terkubur Di Tambang Sedalam 65 Meter