KH Abdul Hamid Pasuruan yang Lemah Lembut

KH Abdul Hamid Pasuruan yang Lemah Lembut

Konfirmasitimes.com-Jakarta (21/11/2020). KH Abdul Hamid, merupakan tokoh ulama yang berbeda dengan para ulama pada umumnya, ia dikenal tak suka menonjolkan diri dengan ceramah di depan umum. Kendati demikian, Kiai Hamid kerap mendakwahkan Islam dengan lembut, sehingga sangat dihormati dan disegani masyarakat.

KH Abdul Hamid

Pembawaan KH Abdul Hamidmenunjukkan seorang ulama yang berilmu tinggi. Suaranya pelan, sangat lirih, nyaris seperti orang yang sedang berbisik.

Saat melaksanakan shalat gerakannya tampak pelan. Begitu juga saat berzikir dan mengajarkan kitab kepada para santrinya. KH Abdul Hamid juga berbicara pelan dengan para tamu, santri, dan keluarganya.

Ulama yang memiliki nama lengkap KH Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar ini lahir di Lasem, Jawa Tengah, pada 1914, tepatnya di Dukuh Sumurkepel, Desa Sumbergirang. Awalnya, orang tuanya memberinya nama Abdul Mu’thi. Namun, setelah remaja nama itu diganti menjadi Abdul Hamid.

KH Abdul Hamid kecil kemudian tumbuh sebagai anak yang lincah dan agak nakal. Namun, kenakalan Hamid tidak seperti anak-anak zaman sekarang, yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Hamid masih dalam batas wajar.

Sehari-hari, Hamid kecil jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Bahkan, Hamid kecil bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi itu.

Setelah berusia 12 tahun, Hamid kecil kemudian belajar ke Pondok Pesantren Kasingan Rembang yang diasuh oleh KH Cholil bin Harun, mertua dari KH Bisri Mustofa.

Setelah belajar agama di pesantren tersebut, KH Abdul Hamid pindah ke Pondok Pesantren Tremas di Pacitan yang didirikan oleh KH Abdul Manan. Santri-santri di sana banyak yang datang dari berbagai pelosok negeri.

Selama 12 tahun usianya dihabiskan di sana. Setelah itu, Kiai Hamid langsung menikah dengan putri KH Ahmad Qusyairi yang bernama Nafisah. Kiai Hamid menikah di Pasuruan pada 12 September 1940. Kemudian, pada 1951, dia menjadi pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan, Jawa Timur.

Kisah menarik KH Abdul Hamid

Suatu ketika ada seseorang meminta nomor togel ke KH. Abdul Hamid. Oleh Kyai Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan Kyai Hamid.

Maka orang tersebut benar-benar memasang nomor pemberian Kyai Hamid dan menang. Saran ditaati uang dibawa kehadapan Kyai Hamid.

Oleh kyai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya.

Terlihat isinya darah dan belatung. Kyai Hamid berkata:

“Tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?”
Orang tersebut menangis dan bertaubat.

Setiap pergi ke manapun Kyai Hamid selalu didatangi oleh umat, yang berduyun duyun meminta doa padanya.

Bahkan ketika naik haji ke mekkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. darimana orang tau tentang derajat Kyai Hamid? Mengapa orang selalu datang memuliakannya? Konon inilah keistimewaan beliau, beliau derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT.

Pada suatu saat orde baru ingin mengajak KH Abdul Hamid masuk partai pemerintah. Kyai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat.

Ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, Kyai Hamid menerimanya dan menandatanganinya. Anehnya pulpen tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. Akhirnya Kyai Hamid berkata:

“Bukan saya yang gak mau tanda tangan, tapi bolpointnya gak mau”.

Itulah Kyai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya. Inilah beberapa dari banyak karomah Kyai Hamid.

Kyai Hamid adalah realita nyata tentang munculnya seorang hamba Allah yang mempunyai kekuatan ma’rifat billah yang mumpuni dan kekuatan musyahadah atas nur tajalli dengan maqam wilayah yang amat tinggi. Dan kekuatan tersebut tentu tidak mungkin beliau dapatkan dengan serta merta tanpa melalui tahapan- tahapan amaliyah dan maqamat tarekat yang beliau jalani dan beliau istiqamahkan.

Setidaknya -dari sirah KH Abdul Hamid yang dapat kita baca-, kualitas amaliyah dan maqamat itulah yang selalu beliau pancarkan dalam setiap gerak
langkah beliau. Kewara’an,kezuhudan, ketawadlu’an, kesabaran, keistiqamahan, dan riyadlah.

Dan yang jelas, kekuatan ma’rifat dan wilayah tersebut hingga saat ini telah menjadi hamparan hikmah yang maha luas dan menebarkan harum pada sanubari tiap orang yang mengenalnya.

Hingga siapapun tak akan pernah kehabisan untuk mengais suri tauladan atas keagungan akhlaknya dan menempa keberkahan yang telah beliau sebarkan dalam setiap relung hati dan palung hidup kita.

Sebelum menjadi kyai, semasa beliau mondok di Termas, Abdul Hamid (nama asli Kyai Hamid) banyak melakukan suluk tarekat secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan khalwat dan dzikir. Tapi kalau ada orang datang, ia pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa dia sedang berkhalwat.

Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, Kyai Hamid segera membaca wirid ketika teman- temannya tidak melihatnya.

Lambat laun, aktifitas suluk Kyai Hamid dengan dzikir sirri (qalbi) dan membaca awrad semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, Kyai Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid tarekat tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar. Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat,
semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan.

“Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama.

Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas. Beliau sangat menghormati pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat),bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia. Sikap tawadhu’ itulah, diantara rahasia keberhasilan beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., ” Barangsiapa bersikap tawadhu, Allah akan mengangkatnya.

”Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental.

Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa.

Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah. Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri.
“Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan
suara halus sekali.

Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka.

“Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil, maka, berarti bukan rezeki kita,,
“kata beliau”.

Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget,dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi. Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok. Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu.

“Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih.

Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka.

Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH.Abdur Rahman yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.

Menghilangkan rasa takabur memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh.

Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan meng-gunjing orang lain.

Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain. Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini.

Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir.

Sampai KH. Ali Ma’shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”

Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain.

Beliau adalah soko guru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja,dimana-mana dirubung orang, kemana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).
Tanggal 9 rabiul awal 1403 H beliau berpulang ke rahmatulloh. Umat menangis, gerak kehidupan di Pasuruan seakan terhenti.

Ratusan ribu orang membanjiri Pasuruan, memenuhi relung Masjid Agung Al Anwar dan alun alun serta memadati gang dan ruas jalan.

Beliau dimakamkan di belakang masjid agung Pasuruan. Ribuan umat menziarahinya setiap waktu mengenang jasa dan cinta beliau kepada umat.

Karomah Doa Mbah Hamid Pasuruan

Hubungan antara para wali Allah sungguh sangat dekat. Salah satunya hubungan Mbah Hamid Pasuruan dan Habib Ja’far bin Muhammad Al-Kaff Semarang. Habib Ja’far dikenal sebagai habib yang penuh karomah, demikian pula Mbah Hamid Pasuruan.

Sewaktu Mbah Hamid Pasuruan masih hidup, kebiasaan Habib Ja’far al-Kaff adalah jalan-jalan dan menginap di rumah yang jelek. Kali ini beliau ingin mampir di sebuah rumah jelek di daerah Pasuruan.

Setelah dipersilakan tuan rumah, Habib Ja’far mendapati salah satu penghuni rumah akan melahirkan. Dinanti satu jam, dua jam lebih sang bayi belum mau keluar juga. Akhirnya Bidan memvonis, “Kandungan ini harus dioperasi!” Seketika seluruh penghuni rumah sedih bukan kepalang.

“Duh gusti, uang dari mana lagi. Untuk makan saja susah,” keluh salah satu penghuni rumah.

Lalu Habib Ja’far al-Kaff berkata, “Ini daerah Pasuruan kan?” “Iya,” jawab mereka. “Kalau memang Mbah Yai Hamid benar-benar seorang wali, maka sebentar lagi beliau pasti akan datang di daerah yang merupakan kekuasaannya ini.” Tak butuh lama, tiba-tiba dari arah depan pintu ada orang yang mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum…” Semuanya bergegas menyambut. Dan ternyata yang datang adalah Mbah Yai Hamid dengan bungkusan plastik berisi air putih di tangannya.

Setelah bersalaman dan berangkulan dengan Habib Ja’far, Mbah Hamid berkata, “Ini Yek pesanan njenengan. Langsung diminumkan saja, InsyaAllah sembuh.” Lalu beliau langsung pamit. Air putih itu kemudian diminumkan ke ibu hamil. Seketika dengan lancarnya sang jabang bayi keluar, dan tidak jadi dioperasi. (Diceritakan oleh Habib Umar al-Muthahar yang waktu itu ikut menemani Habib Ja’far al-Kaff).

Baca mengenai tokoh lainnya disini

Sumber: Dari berbagai sumber

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Sunnah Wudhu

Read Next

KKB Kembali Tembak Warga Sipil di Papua