Akses ke Malioboro Dibatasi, Catat Jadwalnya

Konfirmasitimes.com-Jakarta (04/11/2020). Mulai kemarin hingga 15 November 2020 mendatang, telah resmi diberlakukan uji coba manajemen rekayasa lalu lintas (MRLL) untuk pedestrianisasi Jalan Malioboro.

Sejumlah ruas menjadi satu arah menyesuaikan mode giratori yang berlawanan dengan arah jarum jam. Kemudian, di titik tertentu akses kendaraan bermotor dibatasi.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ni Made Dwi Panti Indrayanti menjelaskan, ada beberapa ruas jalan selain Malioboro yang menjadi objek rekayasa lalu lintas ini.

Meliputi, Jalan Malioboro beserta penyangga atau sirip-siripnya; Jalan Mataram dan Suryotomo dari selatan ke utara; Abu Bakar Ali dan Pasar Kembang dari timur ke barat.

“Sirip dua arah tetapi gak boleh melintas Malioboro. Kalau boleh itu kemarin kan kalau yang beraktivitas, penghuni di sana, boleh bawa kendaraan tapi dituntun,” kata Made, dalam keterangannya.

Lalu, Jalan Gandekan dan Bhayangkara dari selatan ke utara; Jalan Pembela Tanah Air dari barat ke timur; Jalan Letjen Suprapto dari utara ke selatan. Jalan Ahmad Dahlan hingga Pangeran Senopati masih 2 arah ke timur dan barat. Uji coba ini berlaku 24 jam dari tanggal 3-15 November 2020.

“Kita kolaborasi sama Pemkot, karena mereka yang punya kewenangan terkait jalan perkotaan. Kita bagi tugasnya. Dari pemerintah kota dalam hal ini Dishub, UPT Malioboro itu melakukan koordinasi di masing-masing wilayah yang terkena ini,” tuturnya.

Bersamaan dengan penerapan sistem satu arah di beberapa ruas, diberlakukan pula larangan bagi kendaraan bermotor melintasi kawasan Malioboro.

“Yang boleh melintas Kawasan Malioboro, Bus Trans Jogja, kendaraan tidak bermotor, ambulans, pemadam kebakaran,” paparnya.

Waktunya tidak 24 jam, melainkan pada waktu-waktu tertentu saja akses menuju Malioboro dibatasi. Khusus uji hari pertama dari pukul 11.00-22.00 WIB dan seterusnya sampai 15 November pukul 06.00-22.00 WIB.

Menurut Made, masih ada satu kendaraan lagi yang diperkenankan melewati Jalan Malioboro. Yakni, becak motor alias bentor. Akan tetapi jumlahnya dibatasi.

“Kami membatasi (bentor) itu ada dua shift, satu shift seratusan bentor. Tapi, sebenarnya gak sebanyak itu karena mereka kan secara income itu (Malioboro) bukan ada di ruas utamanya. Yang mereka mendapatkan fee dari bakpia atau batik itu kan tidak di ruas utama,” terangnya.

Pemerintah dan para pengemudi bentor sejauh ini masih berkompromi supaya ada solusi yang bisa diterima masing-masing pihak. Adapun rencana fasilitasi becak listrik sebagai gantinya.

“Kadang kita harus kompromi dengan situasi, nanti mungkin kita akan ada pendekatan yang lain, yang mukin lebih nyaman diterima kedua belah pihak. Tapi, nanti kita liat ke depan,” pungkasnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Stres?, Ini 10 Lagu DAY6 yang Bikin Tenang

Read Next

Danone Indonesia Tanggapi Seruan Boikot Produk Prancis