Mengenal Aliran Adem Hatie Temanggung

Mengenal Kong Cho TanTik Sioe di Adem Hatie

Konfirmasitimes.com-Jakarta (28/10/2020). Di kawasan Hutan Kota Gumuk Lintang di Temanggung, Jawa Tengah, tepat di sisi hutan, pada lahan pekarangan seluas sekitar 300 meter persegi berbentuk segitiga, berdiri bangunan pemujaan terbuat dari kayu seluas 3×3 meter persegi, dengan ukiran-ukiran khas Jepara.

Pada sisi kanan dan kiri bangunan terpampang tulisan ‘Adem Hatie’ dengan Bahasa Jawa dan Huruf Cina. Serta tepat di atas pintu tertera tulisan ‘Tan Tek Sioe, Adem Hatie’.

Hal ini sebagai penanda bahwa bangunan tersebut merupakan Sanggar Pemujaan untuk aliran kepercayaan Adem Hatie Temanggung.

“Tulisan huruf Jawa dan Cina disisi kanan dan kiri pintu menandai akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa dari para anggota sanggar. Orang Jawa dan Tionghoa membaur dan bergaul dengan baik di sini,” terang Dani (48) salah seorang anggota sekte Adem Hatie, dalam keterangannya, Selasa (27/10/2020).

Dibeberapa sudut luar bangunan terdapat dupa yang masih menyala. Sedikit asap dengan bau yang lebih kuat menyeruak dari dalam ruangan, melalui sedikit pintu yang terbuka. Kiranya dari sinilah asal munculnya aroma harum yang menyebar seantero hutan hingga tepi jalan raya.

Kendati berada tak jauh dari jalan raya, area sanggar ini tidak terlihat dari jalan.

Rimbunan pohon menutupinya, sehingga lokasi ini nampak menempel erat pada area hutan. Padahal lokasinya terpisah, berdiri sendiri dan milik perseorangan, atau bukan bagian dari hutan kota.

Seorang anggota bernama Heri (65 th) tinggal di lokasi ini pada bangunan kayu yang terpisah dari area pemujaan. Ia bertugas menjaga sanggar.

Aliran Adem Hatie memiliki ratusan anggota di Temanggung. Kendati para anggotanya berasal dari berbagai agama, namun sekte Adem Hatie ini bukanlah agama.

Semua anggota memuja Dewa Tan Tik Sioe atau kerap disebut ‘Romo Murti’. Dewa ini lebih akrab disapa Kong Cho Tan Tik Sioe. Sekte Adem Hatie berpusat di Sumber Agung, wilayah Tulung Agung, Jawa Timur.

Adapun bangunan sanggar, dijelaskan Joko, anggota lainnya asal Temanggung, berdiri sekitar tahun 2002. Pemilik tanah dan bangunan sanggar diketahui berasal dari Jepara, Jawa Tengah.

Namun anggota sekte terus berdatangan dari berbagai daerah. Antara lain dari Semarang, Surabaya, dan Temanggung.

“Kami datang ke sini waktunya tidak tentu, jadi tidak bersamaan. Ada yang datang untuk sembahyang, ada yang cuma duduk-duduk, ngobrol, sharing pengalaman. Yang penting datang ke sini harus sopan,” ujar Joko.

Agung (39 th) anggota asal Temanggung, mengutarakan, sanggar ini bukan tempat untuk meminta kekayaan. Para anggota datang ke sanggar untuk meneladani laku suci Kong Cho Tan Tik Sioe dan memujanya.

Kong Cho mengajarkan agar orang lebih sabar iklas, tabah dan tawakal dalam menjalani hidup.

“Kita diingatkan untuk tidak hidup semaunya sendiri. Manusia harus sadar dan berhati-hati. Kita sama-sama belajar adem hati disini. Kita meditasi, puasa, mengingat yang kuasa, dan mengendalikan hawa nafsu,” katanya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Wisata Burai Pakiah Na’ali Nagari Sabu Batipuh Tawarkan Pesona Air Terjun

Read Next

Rumah Alami Kerusakan, Gempa 5,4 M Guncang Mamuju Tengah