Bacaan Niat Dan Petunjuk Qadha Shalat Maghrib

qadha shalat shubuh, Qadha Shalat Maghrib

Konfirmasitimes.com-Jakarta (24/10/2020). Shalat 5 waktu adalah kewajiban yang tidak boleh di tinggalkan oleh seluruh umat islam, terutama jika sudah pada usia baligh menurut syariat. Barang siapa yang meninggalkan Sholat, maka harus menggantinya atau mengqadha shalat tersebut dengan segera.

Dalil Wajibnya Mengqadha Shalat Fardhu

اتَّفَقَ العُلَمَاءُ عَلَى أنَّ قَضَاءَ الصَّلَاةِ وَاجِبٌ عَلَى الناَّسِيّ وَ النّاَئِمِ لِمَا تَقَدَّمَ مِنْ قَوْلِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، أنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفرِيْطٌ. وَ إنَّمَا التَّفْرِيْطُ فِيْ الْيَقْظَةِ. فَإذَا نَسِيَ أَحَدٌ صَلاَةُ أوْ نََامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّيْهَا إذَا ذَكَرَهَا

Para ulama sepakat bahwa melunasi hutang shalat yang ditinggalkan itu wajib hukumnya, baik karena lupa ataupun tertidur. Seperti pernah disampaikan Rasul: Tertidur itu bukan kelengahan karena yang dikatakan lengah itu bila seseorang tidak tidur. Apabila ia lupa atau tertidur dan tidak mengerjakan shalat, shalatlah ketika teringat. (Lihat dalam FIqhus Sunnah, Juz II, hlm. 185)

Lebih cepat membayar Shalat yang ditinggalkan, lebih baik. Misalnya, kita baru saja hutang shalat Subuh karena bangun kesiangan maka waktu yang terbaik dapat dikerjakan jam tujuh atau jam delapan pagi ketika kita bangun dari tidur, atau ketika kita sempat membayamya dan tidak perlu ditunda-tunda. Meski pada dasarnya hutang (qadha) shalat Subuh dapat dikerjakan di waktu shalat Zhuhur, Maghrib, Ashar, atau kapan saja.

Sekarang, bagaimana jika hutang shalat satu minggu karena sakit belum bisa membayarnya keburu meninggal, siapa yang harus membayar?

Hutang shalat tadi bisa dibayar lewat dua cara. Cara pertama, dilunasi keluarganya; dan cara kedua, bisa melunasinya dengan membayar fidyah (denda), yaitu 1 waktu shalat yang ditinggalkan sama dengan 6 ons beras atau makanan pokok lainnya. Berarti, keluarga harus membayarkan 6 ons beras x 5 x 7 dan diberikan kepada tetangga yang miskin.

وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلاَةٌ فَلا قَضَاءَ وَ لاَ فِدْيَةَ. وَ فِيْ قَوْلٍ كَجَمْعِ الْمُجْتَهِدِيْنَ أنَّهَا تَقْضَى عَنْهَا لِخَبَرِ البُخَارِي وَ غَيْرِهِ. وَ مِنْ ثَمَّ اخْتاَرَهُ جَمْعٌ مِنْ أئِمَّتِناَ وَ فَعَلَ بِهِ السُبْكِي عَنْ بَعْضِ أَقاَرِبِهِ

ٍSiapa meninggal dunia sedang ia punya hutang shalat, baginya tak perlu diqadha. Tetapi menurut sebagian besar ulama Mujtahidin: bagi keluarganya tetap terkena kewajiban membayar karena ada hadits riwayat Imam Bukhari, dll. Rupanya pendapat terakhir ini cenderung diikuti ulama-ulama, Syafi’iyah, antara lain Imam Subki dan sebagian sahabatnya. (Lihat Ahkamul Fuqoha, Juz II, hal 50)

الصَّحِيْحُ هَوَ الإفْتاَءُ الأوَّلُ بِإخْرَاجِ الْفِدْيَةِ أرْبَعِيْنَ مُدًّا لِتَرْكِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ فِيْ خَمْسِ مَكْتُوْباَتٍ

… yang benar adalah fatwa pertama yang mengatakan: harus mengeluarkan fidyah (denda) 40 mud (1 mud = 6 ons) bagi yang telah meninggalkan shalat selama 8 hari, yang seharusnya dia mengerjakan shalat 5 kali sehari. (Lihat dalam I’anatut Thalibin, Juz II, hal 229)

Niat Qadha Shalat Magrib

اُصَلِّيْ فَرْضَ اْلْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ قَضَا ءً لِلَّهِ تَعَالَى

Usholli Fardlol maghribi tsalaasa raka’aatin mustaqbilal qiblati qadaan lillaahi ta’aalaa.

Artinya : Aku sengaja melakukan shalat fardhu maghrib 3 rakaat, menghadap qiblat, Qadha, karena Yang Mahakuasa ta’ala

Petunjuk Dan Tata Cara Mengqadha Shalat Maghrib

Jika seseorang menjalankan shalat pada waktunya itu dinamakan ada’ (tepat waktu), dan jika seseorang menjalankan shalat di luar waktunya itu dinamakan qadha’ (di luar waktu shalat) seperti seseorang yang lupa melaksanakan shalat maghrib karena kesibukan atau hal lain yang membuatnya lupa, maka setelah ingat ia wajib meng-qadha’-nya.

Seseorang yang terlelap tidur saat waktu ashar lalu terbangun ketika sudah masuk waktu shalat isya’, maka saat itu juga ia wajib meng-qada’ shalat maghrib yang telah ditinggalkannya karena tertidur. Hal ini ebagaimana hadits Rasulullah:

إذا نام أحدكم عن الصلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها

“Jika seseorang tertidur sampai tidak melaksanakan shalat atau juga lupa, maka ketika ia ingat wajib melaksanakan saat itu juga.”

Selain itu, berdasarkan keterangan yang terdapat dalam kitab Tuhfatu al-Thullab karangan Imam Zakariya Al-Anshari:

يقضي الشخص ما فاته من مؤقت  وجوبا في الفرض متى تذكره وقدر على فعله إلا إن خاف فوت حاضرة فيبدأ بها

“Seseorang wajib meng-qadha’ shalat (fardlu) yang telah terlewat waktunya ketika ia mengingatnya dan memungkinkan untuk melaksanakannya, keuali jika dikhawatirkan terlewatinya menjalankan shalat ada’ (pada waktunya), maka ia harus mendahulukan shalat ada’ terlebih dahulu.”

Meninggalkan Shalat Fardhu Dan Kewajiban Meng-qadha-nya

Menurut kesepakatan para ulama, ada dua keadaan yang perlu diketahui mengenai qadha salat, yaitu:

1. Meninggalkan Shalat dengan Tiada Disengaja

Jika tidak sengaja meninggalkan shalat seperti ketiduran, lupa dan lain sebagainya hingga waktu shalat sudah habis, maka hukumya wajib diqadha. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang terlewat shalat karena tidur atau karena lupa, maka ia wajib shalat ketika ia ingat”.

“Barangsiapa yang lupa shalat, atau terlewat karena tertidur, maka kafarahnya adalah ia kerjakan ketika ia ingat” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadis tersebut, jelas bahwa ketiadasengajaan meninggalkan shalat dikarenakan ketiduran, ataupun lupa tidaklah berdosa, namun tetap harus dilakukan yakni dengan cara di-qadha ketika ia terbangun ataupun teringat.

2. Meninggalkan Shalat dengan Sengaja

Imam ibnu Hazm Al Andalusi menyatakan shalat orang yang meninggalkan dengan sengaja tidak wajib diqadha adalah pendapat. Beliau mengatakan “Adapun orang yang sengaja meninggalkan shalat hingga keluar waktunya, maka ia tidak akan bisa mengqadhanya sama sekali.

Maka yang ia lakukan adalah memperbanyak perbuatan amalan kebaikan dan shalat sunnah. Untuk meringankan timbangannya di hari kiamat. Dan hendaklah ia bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah Taala.

Selain itu, beliau juga mengatakan hal tersebut berdasarkan firman Allah taala seperti: “Celakalah orang yang shalat. Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya” (QS. Al Maun: 4-5).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “dan Kemudian datanglah setelah mereka orang-orang yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat dan mereka akan menemui kesesatan” (QS. Maryam: 59).

Selain itu, juga terdapat hadits dari Buraidah al-Hashib al-Aslami , ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia kafir“. (HR. Tirmidzi).

Ada juga hadits dari Jabir, aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang membedakan seseorang dari Syirik dan kekufuran adalah meninggalkan shalat“. (HR Muslim, Tirmidzi, Ibn Abi Syaibah).

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum meninggalkan shalat dengan sengaja. Bahkan ada beberapa ulama mengatakan orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dosanya lebih besar dibanding dengan dosa membunuh, berzina dan minum khamr.

Imam Sufyân bin Sa’id ats-Tsauri, Abu ‘Amr al-Auza’i, Abdullâh bin al-Mubârak, Hammad bin bin Zaid, Waki’ bin al-Jarrah, Mâlik bin Anas, Muhammad bin Idris asy-Syâfi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahûyah dan murid-murid berfatwa jika seseorang yang meninggalkan shalat dihukum bunuh.

Lalu, mereka juga berbeda pendapat tentang cara hukum bunuh terhadap orang tersebut. Kebanyakan mereka berkata jika dibunuh dengan pedang dengan cara dipenggal lehernya. Sedangkan sebagian pengikut dari Imam Syafi’i berkata orang tersebut akan dipukul dengan kayu sampai ia menunaikan shalat atau mati.

Sementara Ibnu Suraij berkata, orang tersebut akan ditusuk pedang sampai mati sebab hal ini lebih sempurna dalam menghentikan dan lebih diharapkan untuk kembali atau taubat.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Cerita Abu Nawas: Mengambil Mahkota Dari Surga

Read Next

15 Besar Terbaik Jateng, Dua Pondok Pesantren di Temanggung