Perajin Anyaman Bambu Desa Sumurboto Masih Eksis Meski Pandemi

Desa Sumurboto

Konfirmasitimes.com-Jakarta (19/10/2020). Di Desa Sumurboto, Kecamatan Kepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Perajin anyaman bambu masih bertahan produksi pada masa pandemi Covid-19. Mereka enggan tergerus di tengah maraknya perkakas dan perabotan plastik.

Meskipun sebagai pekerjaan sambilan, kerajinan ini masih ditekuni secara turun-temurun, sehingga menjadi ikon industri rumahan berbasis kearifan lokal bagi Pemerintah Desa Sumurboto.

Kerajinan anyaman bambu seperti membuat bakul nasi, dunak dan anting (wadah tempat makanan) di Desa Sumurboto cukup dikenal masyarakat baik dari dalam dan luar kabupaten Blora. Jika ada yang minat, mereka bisa datang ke Desa Sumurboto dan pesan pada salah satu perajin.

“Tetap membuat karena ada pesanan. Saya sejak remaja sudah belajar membuat bakul bambu,” kata Dami (69), salah seorang perajin anyaman bambu, dalam keterangannya, Minggu (18/10/2020).

Setiap hari, Dami mampu membuat dua buah bakul ukuran kecil untuk wadah nasi. “Ini pun sudah pesanan untuk acara hajatan,” katanya.

Dia mengaku, selama pandemi Covid-19, omzet penjualan kerajinan yang dibuat menurun. “Menurun pesanan dibandingkan dengan sebelum Covid-19. Tapi saya tetap membuat, untuk stok, biasanya ada pedagang yang butuh dan beli dalam jumlah banyak,” tambah dia.

Harganya relatif murah dan terjangkau. Untuk bakul nasi berukuran kecil yaitu Rp2.500,00 hingga Rp3.000,00 per buah. “Murah, dari dahulu juga bertahan harganya. Bakul ini untuk wadah nasi dan lauk bagi warga yang punya hajat. Meskipun ada corona, tetap membuat dan mengerjakan di rumah,” terang dia.

Untuk bahan bambu apus, dia tidak kesulitan karena sudah ada pemasok yang datang kepada para perajin. “Alhamdulilah bisa menambah penghasilan keluarga,” kata dia.

Sementara itu Sakur (45), warga Desa Sumurboto mengaku, saat ini produksi perajin perabotan anyaman bambu sudah kalah bersaing dengan plastik. “Sekarang ini sudah kalah bersaing dengan produk plastik. Tapi sejumlah perajin di Desa Sumurboto masih bertahan. Meski tidak banyak, tapi masih laku dan dicari pembeli,” ucap dia.

Menurutnya, sebelum para perajin membuat anyaman terlebih dahulu disiapkan batang bambu apus kemudian dipotong dan dibuat sayatan sesuai kebutuhan.

Seiring perkembangan, kata dia, ada beberapa warga yang membuat aneka kreasi, seperti wadah buah dengan berbagai variasi dan dunak dengan penyangga kayu. “Kalau yang sudah variasi, harganya berbeda. Biasanya memang dipesan khusus,” terang dia.

Sakur mengungkapkan, meski ada yang mengakui keterbatasan permodalan, tetapi bukan menjadi penghalang saat mengisi waktu luang untuk memenuhi pesanan. Telaten dan semangat disertai keterampilan khusus saat menganyam, merupakan modal utama agar hasilnya bisa maksimal, bertahan dan dikenal oleh masyarakat luas.

“Misalnya, untuk menyelesaikan satu buah dunak berukuran besar diperlukan waktu lebih kurang dua hari. Jika mendapat banyak pesanan, mereka mengerjakan bersama-sama kerabat dan keluarga lainnya,” ungkap dia.

Kepala Desa Sumurboto, Suprapti mengungkapkan, selama masa pendemi Covid-19, para perajin anyaman bambu diminta patuh protokol kesehatan. Bahkan pihak Pemerintah Desa Sumurboto telah menyiapkan dan membagikan secara gratis tempat cuci tangan kepada semua warga sejak awal Corona. “Meskipun itu dikerjakan di rumah, tetap kita antisipasi. Diminta semua patuh protokol kesehatan,” jelas dia.

Menurut dia, sejatinya warga di wilayahnya sangat berpotensi untuk mengembangkan produk anyaman bambu. Hanya saja dinilai sulit untuk maju karena beberapa faktor. “Sangat bepotensi, tapi masih belum bisa maju, itu karena para perajin masih individual, artinya masih dilakukan pada perorangan tiap rumah, belum terbentuk kelompok. Tetapi mereka juga saling berinteraksi dan kerja sama jika ada pesanan dalam jumlah banyak,” ungkap dia.

Faktor lainnya adalah pekerjaan menganyam dilakukan bukan sebagai mata pencaharian pokok, melainkan sebagai penopang waktu luang ketika mereka sedang tidak menggarap sawah.

Kemudian, para perajin anyaman bambu, rata-rata sudah berusia tua, sedangkan yang muda dinilai kurang minat untuk belajar menganyam bambu. “Berbagai upaya sudah kami lakukan bersama pihak terkait. Harapannya, desa kami sebagai salah satu sentra kerajian anyaman bambu yang bertahan di Kabupaten Blora dan menarik warga untuk berkunjung. Semoga Covid-19 segera sirna,” jelas dia.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Bawaslu Blora Perpanjang Pendaftaran Calon Pengawas TPS

Read Next

Dampak Bangkitnya Ekonomi China Terhadap Harga Komoditas Andalan Indonesia