Tradisi Sebar Apem Keong Mas Kini Jadi Warisan Budaya dan Wisata

Konfirmasitimes.com-Jakarta (18/10/2020). Upacara tradisi sebar Apem Keong Mas yang sering digelar masyarakat di objek wisata Umbul Pengging, Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda atau WBTB.

Tradisi sebar Apem Keong Mas yang digelar setiap tahun pada bulan Sapar (Kalender Jawa) tersebut ditetapkan WBTB berdasarkan hasil sidang Kemendikbud secara daring di Jakarta, pada Jumat, 9 Oktober lalu. 

“Tradisi yang identik dengan prosesi arak-arakan Apem Keong Mas dari Kantor Kecamatan Banyudono, kemudian dibagikan di kawasan Masjid Ciptomulyo Pengging itu, kini sudah ditetapkan sebagai WBTB,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali, Budi Prasetyaningsih, dalam keterangannya.

Menurut Budi, penetapan tersebut berdasarkan pada beberapa syarat, misalnya tradisi dilakukan setiap tahun, merupakan ciri khas daerah setempat, dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Pada prosesi tradisi sebar Apem Keong Mas tersebut berawal arak-arakan dengan dua gunungan apem, dan biasanya dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah. Pada acara itu, kemudian dilanjutkan doa bersama di kawasan objek Umbul Pengging kemudian apem dibagikan kepada masyarakat.

Upacara tradisi tersebut mulanya untuk menolak wabah keong terhadap tanaman padi. Melalui tradisi tersebut, masyarakat berharap agar diberikan kemakmuran, pertanian subur, lancar, baik, dan sejahtera.

“Pada upacara tradisi sebar apem ini, berdampak perekonomian masyarakat setempat meningkat, dan pariwisata juga bergairah,” kata Budi.

Selain tradisi sebar apem tersebut, kata Budi, sebelumnya budaya Turonggo Seto Boyolali ditetapkan sebagai WBTB pada 2016 oleh Kemendikbud.

Pihaknya kini sedang mendaftarkan beberapa tradisi di Kabupaten Boyolali agar bisa menjadi warisan serupa seperti ritual Tungguk Tembakau di Kecamatan Selo, Kriya Tembaga di Tumang Kecamatan Cepogo, dan pakaian pengantin khas Boyolali, Wahyu Merapi Pacul Goweng. “Ritual-ritual seperti ini, tujuannya untuk pariwisata, dan akhirnya kesejahteraan masyarakat dan kemajuan kebudayaan di Boyolali menjadi luar biasa,” kata Budi.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Kini Tujuh Desa di Sinjai Sulsel Bisa Menikmati Listrik

Read Next

Diundang Kemenaker Terkait Pembahasan RUU Cipta Kerja, KSBSI tak Kirim Nama