Tiga Tradisi Khas Buleleng Ditetapkan WBTB Nasional

buleleng

Konfirmasitimes.com-Jakarta (11/10/2020). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan sebanyak tiga tradisi khas Buleleng, Bali ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional.

“Tiga tradisi khas tersebut adalah keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional Lukisan Kaca Desa Nagasepaha, Tradisi dan Ekspresi Lisan Megoak-goakan Desa Panji serta Adat Istiadat Masyarakat Ngusaba Bukakak Desa Giri Emas,”ujar Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara saat ditemui usai sidang pleno penetapan secara virtual, Jumat (09/10/2020).

Dody menjelaskan setelah ditetapkan menjadi WBTB, pihak Dinas Kebudayaan akan melakukan seminar atau webinar untuk menyebarluaskan apa hasil penetapan ini. “Agar masyarakat menjadi tahu dan lebih paham.”katanya.

Pada tahun 2021, akan dilakukan proses perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dari tiga WBTB nasional ini. Selain tiga ini, sebelumnya ada empat WBTB nasional di Kabupaten Buleleng. “Jadi ada tujuh WBTB di Kabupaten Buleleng dan kami akan melestarikan WBTB Nasional tersebut melalui berbagai program,”kata Dody.

Sasaran prioritas dari pengembangan dan pelestarian WBTB ini adalah kalangan milenial. Agar remaja-remaja di Kabupaten Buleleng menjadi lebih paham dan tahu akan kebudayaan di Buleleng.

Dengan tujuan supaya ada regenerasi selanjutnya bagi kalangan-kalangan yang bisa melestarikan WBTB-WBTB ini. Hal ini perlu dukungan seluruh pihak.

“Oleh karena itu, ini menjadi penting dan tidak lupa kami mengucapkan terimakasih bagi ketiga komponen yang sudah ditetapkan menjadi tiga WBTB nasional,”ujar Dody.

Dody menyebutkan perbaikan-perbaikan akan dilakukan bagi usulan yang tidak terakomodir. Ada dua produk kebudayaan yang tidak lolos verifikasi nasional yaitu Gambuh Desa Bungkulan dan Megangsing.

Itu yang akan diusulkan ulang dengan perbaikan-perbaikan dan termasuk lebih menggali lagi. “Ada hal-hal yang akan disampaikan oleh pihak terkait yang perlu dilengkapi dengan berbagai catatan-catatan,” sebutnya.

Hal ini senada dengan apa yang dilontarkan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat menghadiri gelaran lomba metapak barong oleh salah satu Sekaa Truna Truni di Buleleng.

Pada kesempatan itu dirinya mengatakan hal-hal yang bersifat pengembangan dan pelestarian kebudayaan serta atraksi itu penting untuk kemajuan daerah. Jangan berpikir setiap gelaran budaya dikatakan festival yang tidak jelas tujuannya.

“Justru dengan gelaran budaya atau festival tersebut ada ruang mereka untuk tampil. Ada ruang untuk berkesenian. Kalau tidak ada ruang, kapan berkembangnya kesenian. Itu sebenarnya maksud dan tujuannya,” ujar Agus Suradnyana. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

UU Cipta Kerja; Ekonom: Kalau Hoax, Mana Draf Finalnya

Read Next

Lebih dari 23 Ribu Warga Blora Terima BLT