Sempat Trending di Twitter, Siapakah Sosok Tan Malaka

Konfirmasitimes.com-Jakarta (11/10/2020). Hastag “Tan Malaka” menjadi trending topik di media sosial Twitter pagi ini, Minggu (11/10/2020).

Ada ribuan twit yang mengandung kata kunci tersebut, mulai dari buku hingga kutipan-kutipan dari Tan Malaka. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam pergerakan nasional Indonesia.

Tan Malaka adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pendiri Partai Murba. 

Kisah hidupnya pun penuh dengan cerita.

Ia banyak menyuarakan perjuangan kemerdekaan Inddonesia melalui tulisan, berperang di medan pertempuran, bicara di forum internasional, hingga keluar masuk penjara.

Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatera Barat pada 2 Juni 1987. Ia merupakan anak dari pasangan HM. Rasad dan Rangkayo Sinah.

Menurut berbagai sumber dari media, Tan Malaka lahir dengan nama Sutan Ibrahim. Sementara itu, nama Tan Malaka berasal dari gelarnya, yaitu Datuk Sutan Malaka.

Pada 1908, ia masuk ke sekolah guru atau Kweekschool di Bukit Tinggi. Dengan kecerdasannya, salah seorang gurunya, GH Horensma menyarankan Tan untuk bersekolah di Belanda.

Setelah itu, ia pun menempuh pendidikan selama enam tahun di Belanda.  Saat berada di sana, ia pun larut dalam pergerakan kaum kiri dan menemukan minatnya pada Revolusi Oktober di Rusia serta membaca buku-buku Marxis.

Melansir Britannica, setelah kembali dari Eropa pada 1919, Tan Malaka mulai mendukung pergerakan doktrin komunis.

Bahkan, di tahun berikutnya, ia berusaha mengubah pemogokan pegawai pegadaian pemerintah menjadi pemogokan umum.

Akan tetapi, upaya tersebut gagal. Pejabat Belanda pun memerintahkannya untuk meninggalkan Hindia Belanda.

Tan Malaka sempat mewakili Indonesia pada Kongres Keempat Komintern (Komunis Internasional) pada 1922. Saat itu, ia ditunjuk sebagai agen Komintern untuk Asia Tenggara dan Australia. 

Tan menentang pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1926 dan disalahkan oleh pendukungnya atas kegagalan pemberontakan.

Di tahun selanjutnya, ia mengorganisir sebuah kelompok di Bangkok yang disebut sebagai Partai Republik Indonesia.

Tujuannya adalah untuk mengembangkan kader bawah tanah untuk bekerja di Indonesia.

Partai ini memperoleh kekuatan, tetapi hanya sedikit keberhasilan yang terlihat dalam melemahkan pemerintahan kolonial.

Tan Malaka kembali ke Jawa saat pendudukan Jepang dalam Perang Dunia II, yaitu pada 1944.

Setelah itu, ia bersaing memperebutkan kekuasaan dengan Presiden Indonesia Soekarno.

Namun, Soekarno berhasil mengungguli Tan Malaka dengan membawa Sutan Sjahrir sebagai perdana menteri.

Tan Malaka pun menciptakan koalisi yang disebut sebagai Persatuan Perjuangan untuk menentang usaha-usaha diplomasi dengan Belanda oleh Sjahrir.

Saat Sjahrir mengundurkan diri pada Februari 1946, Tan Malaka diminta membentuk kabinet.

Akan tetapi, anggota koalisi gagal mencapai kesepakatan dan Sjahrir dipanggil kembali.

Tan Malaka berusaha melakukan kudeta dan terperangkap dalam rencana orang lain. Ia diangkap pada 6 Juli 1946 dan ditahan selama dua tahun tanpa pengadilan.

Saat itu, Belanda dan Indonesia berperang untuk menguasai negara. Soekarno-Hatta juga menjadi tahanan dan banyak pemimpin komunis terbunuh. Setelah pemberontakan PKI/FDR berhasil ditumpas pada akhir November 1948, ia menuju Kediri dan membentuk pasukan Gerilya Pembela Proklamasi.

Tujuannya adalah sebagai perlawanan total terhadap Belanda demi mewujudkan prinsip: Merdeka 100 Persen.  Namun, upaya Tan Malaka tidak mendapat dukungan dari TNI.

Pihak TNI memutuskan mengakui resolusi dewan PBB yang menetapkan jalan perundingan dan menjamin kemerdekaan Indonesia dan tidak ingin diganggu oleh suatu perjuangan rakyat.

Gelar pahlawan nasional

Melansir dari media, Sabtu (17/12/1994), seorang sejarawan Belanda, Harry A. Poeze menyebutkan bahwa Tan Malaka dan pengikutnya dieksekusi dengan cara ditembak.

Mereka ditangkap pada Februari 1949 di Pethok, Kediri, Jawa Timur oleh pasukan TNI pimpinan Letnan II Soekotjo.

Batalyon tersebut berada di bawah komando Brigade S yang panglimanya adalah Letkol Soerachmad dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

“Tan Malaka ditembak mati di sebuah dusun di pinggir sungai Brantas, wilayah Kediri, Jawa Timur,” kata Poeze.

Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya bagi berdirinya Republik Indonesia, Tan Malaka mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Gelar ini didapat melalui Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963 dan menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.

Apresiasi terhadap jasa Tan Malaka juga telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota.

Sebuah jalan diberi nama Tan Malaka menghubungkan pusat kota Payakumbuh menuju Suliki, desa tempat kelahiran Tan Malaka.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Seru! Konser Online BTS Map of the Soul ON:E

Read Next

Luhut Ajak Huawei dan Tencent Agar Berinvestasi di Bali