Peningkatan Digital Literacy: Upaya UNNES Menanggapi Permasalahan Pendidikan di Masa Pandemi

Konfirmasitimes.com-Jakarta (21/09/2020). Buku di era millenial tak lagi menjadi perhatian siswa. Siswa lebih condong pada hal-hal praktis
yang hampir semuanya ada digenggaman siswa. Terlebih dengan diberlakukannya kelas daring, instansi pendidikan dituntut lebih inovatif dalam membuat media pembelajaran yang menarik
bagi siswa. Permasalahan ini ditangkap oleh tim pengabdian kepada masyarakat, yang
beranggotakan Dr. Kusmuriyanto, M.Si (ketua), Kardiyem, S, Pd., M.Pd (anggota) dan Dwi Puji
Astuti, S, Pd., M.Pd (anggota) dari Fakultas Ekonomi UNNES sebagai permasalahan yang harus segera dituntaskan.

Menurut Kusmuriyanto, para guru di era millenial ini mutlak harus menguasai digital literacy. Mengingat, alam berpikir siswa di era ini telah mengalami perubahan masif ke arah serba
digital.

Terlebih, semua aspek kehidupan dapat terkontrol dan berjalan melalui gawai.

“Melihat berkembangnya zaman, pastinya siswa pun ikut akrab dengan berbagai fasilitas
kecanggihan teknologi. Instansi pendidikan mutlak harus mengikuti arus perkembangan zaman
untuk menanamkan nilai-nilai tujuan pendidikan kepada siswa,” Tutur Kusmuriyanto, selaku
ketua program pengabdian kepada masyarakat.
Seperti kegiatan peningkatan digital literacy guru melalui pelatihan pembuatan electronic book
(e-book) sebagai media pembelajaran di SMK YPPM BOJA, Kabupaten Kendal.

Tim pengabdian kepada masyarakat FE UNNES mengupayakan para guru di SMK YPPM BOJA mampu menguasai materi berbasis text-books yang lebih praktis dan mendukung kemandirian belajar siswa. Hal lain yang mendasari tema pengabdian ini adalah visi dan misi UNNES menjadi kampus konservasi, yang salah satunya adalah nir-kertas. Kebijakan nir-kertas merupakan program meminimalisasi penggunaan kertas dengan memanfaatkan teknologi informasi, salah satunya dalam pembelajaran misalnya menggunakan e-book. Chairul Huda Atma Dirgatama, S.Pd., M.Pd. (dosen D3 manajemen administrasi sekolah vokasi UNS) selaku narasumber pun menuturkan berbagai aktivitas online di era digital telah mendorong sebuah tren bernama paperless, yaitu paradigma pengurangan pengunaan kertas.

“Sudah saatnya media pembelajaran beralih dari paper book menjadi digital book. Mengingat, buku berbasis kertas kurang praktis, mudah rusak dan hilang. E-book dapat menjadi solusi yang tepat untuk media pembelajaran praktis, aman, dan mudah diakses. Selain itu, e-book juga merupakan cara yang tepat untuk mengurangi penggunaan kertas. Dengan begitu penebangan pohon sebagai bahan baku kertas pun berkurang. Alam ini akan semakin lestari,” Tutur Chairul Huda Atma Dirgatama saat mengawali sesi pelatihan daring.

Kusmuriyanto pun menegaskan, Upaya mewujudkan media pembelajaran praktis yang ramah lingkungan ini sebagai salah satu gerakan atas permasalahan ekologi.

“Peningkatan pemahaman
digital literacy bagi para guru tersebut memang sebagai langkah menggapai permasalahan
ekologi yang saat ini menjadi isu global. Selain itu, kami juga menyasar kurangnya motivasi
guru menciptakan media pembelajaran yang inovatif. Khawatirnya, jika nantinya siswa akan
lebih tertarik dengan hal-hal negatif dari penggunaan gawai.”

Dunia pendidikan tak luput dari dampak pandemi Covid-19. Paling nampak adalah cara-cara
pembelajaran dan menjaga ketertarikan siswa. Dengan permasalahan tersebut, tim pengabdian
dari FE UNNES menawarkan solusi lain berupa pembuatan materi, latihan soal, dan membuat
games pembelajaran yang menarik dan inovatif melalui aplikasi Zmartbook Designer.

“Aktivis Sekolah yang sementara dilakukan berbasis daring ini pasti menimbulkan shock
cultur (kekagetan budaya “kebiasaan”) bagi siswa. Gawai yang biasa dijadikan wahana bermain
berangsur-angsur menjadi media yang menuntut siswa melakukan presensi kehadiran, membaca
materi sampai mengerjakan berbagai tugas. Sudah pasti siswa akan merasa jenuh dengan segala aktivitas yang tidak menyenangkan ini. Dengan membuat sedikit rasa enjoy (senang) siswa sesuai pengalaman mereka menggunakan gawai, Siswa akan lebih nyaman.” Tutur
Kusmuriyanto.

Drs. Supriyatno selaku Kepala Sekolah SMK YPPM Boja menyambut baik atas kerjasama yang
dilakukan oleh tim pengabdian kepada masyarakat FE UNNES.

“Salah satu kompetensi yang
harus dimiliki guru di abad-21 ini adalah menghadirkan pembelajaran yang interaktif dan
membuka wawasan peserta didik dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, inilah yang disebut sebagai kompetensi literasi digital. Harapan kami (Sekolah SMK YPPM Boja) acara seperti ini dapat kembali diselenggarakan,” Tutur Kepala Sekolah SMK YPPM Boja.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

World Cleanup Day Juga Diperingati Warga Sekip Baru

Read Next

Kampanye Ala Manusia Silver Sosialisasikan Protoko Kesehatan