Polri Sebut Kebakaran Gedung Kejagung Ada Unsur Pidana

Konfirmasitimes.com-Jakarta (17/09/2020). Bareskrim Polri memutuskan untuk meningkatkan ke penyidikan kasus kebakaran yang melanda gedung utama Kejaksaan Agung (Kejagung).

Diketahui, gedung yang terletak di Jalan Sultan Hasanuddin Dalam No. 1, Kelurahan Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terbakar pada Sabtu (22/08/2020) malam sekitar pukul 19.10 WIB.

Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo mengatakan, kasus kebakaran ini ditingkatkan ke penyidik karena ditemukan unsur pidana. Hal ini sebagaimana temuan dari rangkaian olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) oleh Puslabfor Bareskrim Polri dengan menggunakan instrument gas chromatography-mass spectrometer (GC-MS).

“Hari ini kami melaksanakan gelar bersama Jampidum (Jaksa Agung Muda Pidana Umum), Jamwas (Jaksa Agung Muda Pengawasan) dan Jambin (Jaksa Agung Muda Pembinaan) dan sepakat untuk meningkatkan penyelidikan menjadi penyidikan untuk memudahkan pemeriksaan dan penyidikan berikutnya,” kata Listyo dalam jumpa pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (17/09/2020).

Selain dilakukan gelar perkara, untuk meningkatkan penyelidikan kasus ini ke penyidikan, sambung Listyo pihaknya sudah melakukan pemeriksaan kepada 131 saksi. Tak hanya itu, Bareskrim juga meminta keterangan ahli pidana dan ahli kebakaran.

“Pemeriksaan yang dilakukan terhadap 131 saksi dengan menggunakan alat poligraf/uji kebohongan, ahli kebakaran (untuk periksa asal api dengan teori segitiga api) dan ahli pidana, maka penyidik berkesimpulan terdapat dugaan peristiwa pidana,” paparnya.

Unsur Pidana

Ditambahkan Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo, kebakaran yang meludeskan seluruh bangunan gedung utama itu diduga karena adanya unsur pidana.

“Peristiwa yang terjadi sementara penyidik berkesimpulan terdapat dugaan peristiwa pidana,” sambung Listyo.

Oleh karena itu, Kabareskrim menegaskan tak akan ragu-ragu dalam menindak siapapun yang terlibat. Kabareskrim juga berjanji akan transparan menuntaskan kasus ini. Diketahui akibat kebakaran ini, Kejagung merugi hingga lebih dari Rp 1 Triliun.

“Kami akan tidak ragu-ragu untuk menindak, mengusut ini secara transparan, kita sepakat untuk meningkatkan penyelidikan menjadi penyidikan,” cetusnya.

Dilanjutkan Kabareskrim, api yang membakar gedung utama tersebut berasal dari lantai 6 yakni ruang rapat biro kepegawaian. Hal itu diungkapkannya setelah gelar perkara dengan Kejaksaan.

“Asal api diduga dari lantai 6 ruang rapat biro kepegawaian lalu menjalar ke ruangan lantai lain,” papar Kabareskrim.

Api lalu dengan cepat menjalar lantaran pada lapisan luar gedung terdapat sejumlah cairan minyak dan kondisi gedung disekat bahan mudah terbakar.

“Ada beberapa cairan minyak lobi yang mengandung senyawa hidrokarbon dan kondisi gedung hanya disekat bahan mudah terbakar, mempercepat proses terjadinya kebakaran,” ungkapnya.

Api mulai berkobar mulai pukul 19.00 WIB dan baru bisa dipadamkan setelah petugas berjibaku selama 11 jam memadamkan api.

Sementara itu, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Fadil Zumhana mengaku mendukung pihak Bareskrim Polri mengusut tuntas peristiwa kebakaran yang terjadi di markas Korps Adhyaksa tersebut.

“Pada prinsipnya pimpinan Kejagung dukung penuh pengungkapan kebakaran ini kami lakukan sama- sejak awal terbentuknya posko bersama, kami berusaha sungguh-sungguh untuk ungkap peristiwa ini sehingga kami sepakat untuk lebih detail untuk ungkap peristiwa pidana ini ke penyidikan, penyidikan untuk menemukan tersangka dan bukti terkait pidana,” singkat Fadil.

Sebelumnya Kejaksaan Agung memperkirakan kerugian materil akibat kebakaran yang melanda Gedung Utama Kejagung mencapai total  1.118.549.352.829 triliun.

Kerugian akibat kebakaran tersebut, dibagi dalam dua bagian. Pertama kerugian gedung kemudian, kedua kerugian barang yang ada di dalam gedung.

“Belum dihitung rinci tapi gambaran perkiraan sementara ada 2 jenis perkiraan kerugian. Gedung dan bangunan perkiraan kerugian 178.327.638.121 rupiah. Kerugian yang ada di dalam peralatan, mesin, ada juga peralatan perkiraannya senilai 940.221.714.708 rupiah,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Hari Setiyono.

Sementara itu, Kementerian Keuangan menaksir biaya renovasi gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) mencapai Rp 161 miliar.

“Karena bangunan tahun 1970, waktu itu nilainya Rp 7 jutaan, tapi revaluasi terakhir Rp 155 miliar. dengan ada beberapa tambahan renovasi nilai buku terakhir yang dicatat itu Rp 161 miliar. Jadi itu mungkin estimasi yang bisa memberikan gambaran berapa kebutuhan untuk pembangunan kembali,” kata Dikatakan Direktur Jenderal (Dirjen) Kekayaan Negara Kemenkeu Isa Rachmatawarta.

Diketahui gedung utama yang terbakar merupakan ruangan-ruangan untuk menangani masalah SDM, kemudian intelijen, lalu kantor jaksa agung dan wakil. Dipastikan pihak Kejagung, tidak ada alat bukti maupun berkas perkara yang disimpan di Gedung Utama tersebut. Karena dokumen perkara hanya tersimpan di Gedung Jampidum dan Jampidsus yang gedungnya terletak jauh dari gedung utama. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Pemprov DKI Bantu UMKM di Tengah Pandemi Covid-19

Read Next

Petani Tanam Komoditi Selain Padi Saat Kemarau