Santri Ponpes Nurul Kholil Mampu Buka Peluang Usaha yang Andal dan Produktif

Konfirmasitimes.com-Jakarta (16/09/2020). Siapa bilang menjadi santri hanya pandai dalam hal pendidikan agama? nampaknya anggapan ini harus sudah mulai ditepis.

Dalam keterangannya Sekretaris Koperasi Pesantren (Kopontren) Nurul Kholil, Abd Malik, Selasa (15/09/2020) mengatakan bahwa Pondok Pesantren Nurul Kholil Bangkalan, kita akan melihat bahwa banyak hal yang bisa dilakukan santri selain belajar agama. Bahkan santri secara mandiri bisa membiaya sekolahnya dari kegiatan tersebut.

Ponpes Nurul Kholil Bangkalan mempunyai koperasi pesantren yang mempunyai beragam usaha. Mulai dari mini market, distro, air kemasan, hingga konveksi. Dari sekian usaha itu, konveksi Kopentren Nurul Kholil menjadi daya tarik sendiri.

Sebab tak sedikit santri putra yang tertarik di bidang ini, bahkan hasil dari keahlian menjahit mereka bisa membantu membayar biaya sekolahnya.

“Alhamdulillah dari konveksi yang dikembangkan Kopontren Nurul Kholil, sudah mampu memberdayakan santri bahkan alumni,” ujarnya.

Di Ponpes Nurul Kholil, kita akan melihat beberapa santri putra yang serius memotong kain, membuat pola, dan menjahit seragam atau baju lainnya. Mulai membuat seragam sekolah, baju sehari-hari santri, hingga pakaian seragam majlis keluarga kyai.

“Kami mengakomodir semua kebutuhan pakaian santri. Kalau ada santri ingin menjahit seragam baru bisa kami kerjakan, bahkan bila sarungnya sobek pun bisa dijahit di sini,” kata Malik.

Sampai saat ini konveksi Kopontren telah memberdayakan 7 santri yang terampil dalam menjahit dan membuat pola. Malik berharap jumlah santri yang terampil di bidang konveksi ini semakin bertambah.

Oleh karena itu di Ponpes Nurul Kholil dibuka kelas kejuruan Tata Busana untuk tingkat Madrasah Aliyah (MA). Dibukanya kelas doble tack ini dengan harapan agar semakin meningkatkan keterampilan-keterampilan santri dalam berwirausaha, utamanya di bidang konveksi.

Santri yang aktif di kegiatan konveksi ini rata-rata mereka yang duduk di sekolah tingkat MA. Di tingkat ini mereka memang sudah mulai diarahkan untuk mengambil spesialis kejuruan sesuai minat.

“Santri yang aktif mengerjakan pesanan-pesanan di konveksi akan memperoleh honor, dan honor itu pun bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan pendidikan di ponpes. Jadi orang tua mereka teringankan dengan keterampilan anaknya yang bisa menghasikan uang,” ucap Malik.

Ongkos satu potong baju, kata Malik, dihargai Rp 50.000. Namun harga ini menyesuaikan keinginan model baju pemesan. Bila model baju agak rumit maka harga bisa jadi lebih mahal.

“Alhamdulillah per bulan omzet kami bisa mencapai antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta,” ungkap Malik.

Alumni MandiriKonveksi Kopontren Nurul Kholil dibuka sejak tiga tahun terakhir. Hingga saat ini sudah melayani berbagai kebutuhan santri dalam hal pakaian dan seragam. Bahkan bila saat-saat tertentu sampai kewalahan mengerjakan pesanan karena saking banyaknya pesanan dan masih kurangnya santri yang mengerjakan.

“Untuk mengatasi banyaknya pesanan, kami biasanya meminta bantuan alumni yang sudah mampu berwirausaha sendiri di bidang konveksi. Mereka pun dengan senang hati membantu sehingga berbagi rezeki,” tutur Malik.

Menurut Malik, ada beberapa alumni santri Ponpes Nurul Kholil yang sudah mampu berwirausaha sendiri melalui kehalian jahit-menjahit. Mereka membuka jasa jahit di rumahnya dan hasilnya pun mampu menyokong ekonomi mereka.

“Jadi, pesantren di sini terbukti tidak hanya menjadi tempat untuk menuntut ilmu keagamaan. Pesantren juga menjadi tempat untuk menggembleng para santri, untuk menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang tangguh dan kreatif,” tuturnya.

Dengan berwirausaha, santri dituntut untuk menjadi kreatif, inovatif, dan pantan menyerah. Kopontren juga menjadi salah satu solusi bagi permasalahan ketenagakerjaan di wilayah Madura.

Tidak meratanya lapangan kerja bagi angakatan kerja usia produktif dapat diatasi dengan membiasakan sedini mungkin orang muda di Madura untuk menciptakan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri, salah satunya melalui program koperasi pesantren dengan beragam usahanya.

Malik berharap Program One Pesantren One Produk (OPOP) Jatim terus mendampingi santri-santri di Ponpes Nurul Kholil untuk mengantarkan mereka menjadi wirausaha yang andal dan produktif.

“Dengan begitu generasi kita tidak hanya menjadi generasi yang berkompeten dalam hal religi, namun juga menjadi pribadi yang mandiri baik secara sosal maupun ekonomi,” tuturnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Siap-siap, Subsidi Gaji Gelombang III Segera Cair

Read Next

Fix Diblokir, Ponsel Ilegal Tidak Dapat Jaringan Telekomunikasi