Curi Perhatian, Cara Merawat Topeng Khas Dayak

Konfirmasitimes.com-Jakarta (16/09/2020). Menarik perhatian, begitu kira-kira kesan yang tersampaikan manakala cara perawatan topeng diperagakan dihadapan peserta kegiatan pengenalan cara perawatan benda-benda koleksi yang bernilai sejarah, di Auditorium UPT Museum Balanga Palangka Raya, Selasa (15/09/2020) pagi. 

Ketertarikan para peserta yang terdiri dari perwakilan siswa-siswi tingkat SMP dan SMA serta perwakilan mahasiswa di Kota Palangka Raya itu tidaklah berlebih, mengingat topeng yang merupakan bagian dari hasil karya seni ternyata memerlukan tatacara dalam merawatnya.

“Iya, topeng khas Dayak merupakan karya cipta seni budaya leluhur nenek moyang suku Dayak yang tinggi.Karenanya memerlukan tata cara perawatan tersendiri pula,” ungkap Hendri salah seorang peserta, saat dibincangi disela-sela kegiatan.

Sementara itu Kepala UPT Museum Balanga Palangka Raya Hasanudin mengatakan, kegiatan pengenalan cara perawatan topeng merupakan hari kedua dari rangkaian kegiatan pengenalan cara perawatan guci, topeng dan piring malawen yang dilaksanakan mulai 14 sampai dengan 16 September 2020.

“Sehari sebelumnya atau usai pembukaan sudah dilaksanakan kegiatan pengenalan cara perawatan guci. Hari ini cara perawatan topeng dan esok (hari terakhir) cara perawatan piring malawen,” ungkapnya. 

Disampaikan Hasanudin, pengenalan cara perawatan guci, topeng dan piring malawen, merupakan program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Kalteng melalui UPT Museum Balanga Palangka Raya.

Kegiatan ini diharapkan membangkitkan motivasi generasi penerus untuk ikut melestarikan karya cipta seni budaya daerah. 

“Tak kalah penting diharapkan, agar para generasi muda ini bisa memanfaatkan keberadaan Museum Balanga, mengingat banyak benda serta koleksi bernilai tinggi di dalamnya yang dapat menjadi sumber edukasi,” tambah Hasanudin. 

Sebelumnya Kepala Disbudpar Kalteng, Guntur Talajan saat pembukaan kegiatan tersebut mengatakan, program pemerintah pusat dan daerah saat ini tengah diarahkan untuk mendorong masyarakat.

Terutama pelajar, mahasiswa, komunitas dan budayawan untuk lebih mencintai budaya dan sejarah daerahnya, 

“Seperti perawatan guci, topeng dan piring malawen, selain dapat menumbuhkan wawasan generasi muda, disisi lain dapat membangun kecintaan terhadap warisan budaya yang ada di Kalteng,” katanya. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Izin Ruislag Aset Wakaf Terdampak Lumpur Lapindo Resmi Terbit

Read Next

Siap-siap, Subsidi Gaji Gelombang III Segera Cair