Pandemi, Pebisnis Tiket Hingga Hiburan Lakukan Berbagai Upaya Adaptasi

Di Rusia, Voucher untuk Konser Solusi dari Pengembalian Tiket

Konfirmasitimes.com-Jakarta (12/09/2020). Industri hiburan, salah satu sektor yang turut terdampak akibat pandemi Covid-19.

Bisnis layanan penyelenggaraan event, acara maupun tiket seperti Loket.com ikut terkena imbasnya.

Ario Adimas selaku Vice President Loket.com dalam keterangannya saat webinar Industry Roundtable, Jumat (11/09/2020) mengatakan pasca pandemi Covid-19 industri hiburan sulit dibangkitkan jika sempat terjadi kebangkrutan. Hal tersebut dikarenakan industri hiburan termasuk sektor terakhir yang dipulihkan.

“Jika terjadi collapse, industri hiburan akan sulit dibangkitkan. Industri ini akan menjadi yang paling terakhir dipulihkan, karena ini merupakan sektor tersier, ” ujar Ario dalam .

Menurut Ario, sejauh ini Loket bisa dibilang sebagai e-commerce yang menjual pengalaman, baik itu event, atraksi yang sebagian besar bergerak di bidang hiburan atau wisata. Adanya pandemi Covid-19, konser dibatalkan karena larangan kerumunan massa, akhirnya membuat banyak pelaku di industri pesimistis akan kondisi bisnisnya saat ini.

Tak mau rugi, Loket.com mencoba peruntungan dengan menggelar event online. Pada fase ini, dia menilai banyak hal positif yang didapat. Pertama, event atau konser online bisa menjangkau audiens yang lebih banyak. Kedua, biaya penyelenggaraan bisa lebih dipangkas dan proses perizinan tak begitu rumit. Maka, efisiensi waktu dan keinginan content creator untuk membuat event terus meningkat. Tak heran, terbentuklah ekosistem online yang cukup masif.

“Loket yang berusaha tetap berdiri akhirnya panen. Ticketing yang terlambat memanfaatkan momentum collaps. Angka kami, event creation di Loket lebih tinggi dibanding target sebelum pandemi. Itu benar-benar break the moment,” ujarnya.

Sementara itu Chief Marketing Officer (CMO) Tiket.com Gaery Undarsa dalam keterangannya saat konferensi pers pada Rabu (07/07/2002) lalu menyampaikan, roda perekonomian mulai beranjak perlahan pasca pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Terlihat dari hasil yang lumayan bagus dari event online yang diadakannya.

“Tapi ternyata Juni sudah lumayan. Ada live event kami buat. Lumayan bagus hasilnya,” ujar Gaery..

Transaksi pun terus meningkat hingga Juli. “Sekitar 20-25% mulai kembali,” tambahnya.

Selain itu, dalam rangka memaksimalkan transaksi, perusahaan berfokus menawarkan produk perjalanan untuk destinasi lokal.

“Saya rasa, untuk jarak jauh masih butuh waktu. Sekarang trennya local travelling distance,” katanya.

Sementara itu, menurut keterangan lain dari Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Detiknas) Ilham Akbar Habibie, perusahaan dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman dan tak memiliki alternatif selain masuk ke teknologi 4.0.

“Apa yang kita alami saat ini adalah cuplikan dari tahun-tahun mendatang. Kita harus berpikir, berkompetisi tiap detik,” kata Ilham.

Ilham menambahkan, akan menjadi sebuah tantangan agar pengusaha bersedia terjun berdampingan dengan teknologi saat ini. Sehingga diperlukan pembinaan dan pembelajaran.

“Aspek hands on itu penting sekali. Beri contoh nyata, membina sambil jalan,” katanya.

Situasi krisis seperti sekarang ini, tiap perusahaan yang bergerak di bidang industri perlu melakukan aspek surviving servicing (bertahan/melayani), preparing (bersiap), dan actualizing (melaksanakan) atau SIA, kata Pakar pemasaran yang juga pendiri MarkPlus Inc, Hermawan Kartajaya. 

“Kalau industri sedang down, maka perlu melakukan SIA. Tahun 2020 memang penuh dengan ketidakpastian,” ujar Hermawan.

Pandemi secara langsung mengubah perilaku konsumen. Oleh karena itu, pengusaha dituntut harus berinovasi termasuk momentum menemukan terobosan baru dan berkolaborasi. 

“Covid-19 ini suatu momentum. Ini zamannya berkolaborasi dengan semua orang,” kata Hermawan.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

PSBB Ketat Jakarta Munculkan Kekhawatiran Maskapai

Read Next

Viral, Lewati Gang Perumahan, Pemuda Rela Tuntun Motor