Polri Bekuk Sindikat Penipuan Jual Beli Ventilator Covid-19, Uang Rp56,8 M Disita

sindikat penipuan jual beli ventilator

Konfirmasitimes.com-Jakarta (08/09/2020). Jajaran Bareskrim Polri berhasil membongkar kasus penipuan pembelian ventilator Covid-19 yang melibatkan sindikat internasional Indonesia-Nigeria. Korban dari kejahatan dari komplotan ini adalah perusahaan asal Italia Althea Italy S.p.a dan perusahaan asal China, Shenzhen Mindary Bio Medical Elektronics Co. Ltd.

Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan, pihaknya berhasil menangkap tiga warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam sindikat ini. Tak hanya itu, Polri juga berhasil mengamankan barang bukti senilai Rp5,6 miliar lebih.

“Kejadian ini terjadi kurun waktu antara bulan Maret hingga Mei 2020,” kata Listyo saat jumpa pers di Gedung Bareskrim Polri, Senin (07/09/2020).

Kasus bermula adanya kecurigaan bank swasta di Indonesia atas terjadinya transaksi mencurigakan dari salah satu rekening dan kecurigaan pihak NCB Interpol Italia.

“Awalnya perusahaan Italy yang bergerak dibidang pelaksanaan kesehatan melakukan transaksi jual beli dengan perusahaan Cina,” sambung Listyo.

Sindikat Nigeria-Indonesia ini melakukan tindak pidana penipuan dengan modus BEC (Business Email Compromise) atau membajak email disaat perusahaan Althea Italy tengah menjalani transaksi jual beli ventilator dan monitor untuk keperluan penanganan Covid-19 dengan Shenzen Bio Medical Electronica Co. Ltd.

“Mereka melakukan kontrak jual beli, dengan melakukan transfer pembayaran sebanyak tiga kali mulai dari Maret hingga Mei 2020 melalui Bank of China,” jelas Listyo.

Namun di tengah transaksi, tersangka membajak email, lalu mengirim email kepada perusahaan Althea Italy S.p.a dan mengaku sebagai General Manager perusahaan Shenzhen Mindary Bio Medical Elektronics Co. Ltd. Isi dari email itu yakni memberitahu bahwa ada revisi rekening untuk pembayaran ventilator dan monitor Covid-19 ke rekening di Bank Mandiri Syariah.

“Alasannya, ada masalah pembayaran sehingga atas pesan yang masuk dari email tersebut, rekening untuk pembayaran diubah menggunakan bank di Indonesia,” sambung Listyo.

Saat disadari email tersebut adalah palsu, NCB Interpol Italia mendapat laporan tindak pidana penipuan yang kemudian memberitahukan ke NCB Interpol Indonesia lalu diteruskan oleh Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Ditipideksus) Bareskrim Polri.

“Berdasarkan hasil penelusuran, kami menduga ada tindak pidana dilakukan oleh sindikat internasional Nigeria-Indonesia dengan modus BEC (Business Email Compromise) perusahaan Althea Italy,” ungkapnya.

Atas laporan ini, penyidik Bareskrim Polri langsung bergerak dan berhasil menangkap ketiga pelaku yang seluruhnya adalah WNI, yakni inisial yaitu SB, R dan TP. Ketiga pelaku tersebut ditangkap di tempat berbeda, yakni Jakarta, Padang, dan Bogor.

Adapun tersangka SB berperan menjadi Direktur Shenzen Mindary Bio Medical Electronics Co. Ltd, lalu membuat perusahaan fiktif dan membuka rekening penampung hasil kejahatan.

Lalu, tersangka R alias J berperan sebagai Komisaris Shenzhen Mindary Bio Medical Electronics Co.Ltd. R juga membuat rekening atas nama Shenzhen yang domisilinya ditulis di Cilegon, Banten.

Dalam penangkapan tersebut, polsi mengamankan barang bukti berupa uang Rp 56,8 miliar, 2 unit mobil, aset tanah dan bangunan di Banten dan Sumatera, serta dokumen perusahaan setara Rp 2 miliar.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 378 KUHP atau Pasal 263 KUHP atau Pasal 85 UU No.3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana dan atau Pasal 45A ayat (1) Jo Pasal 28 Ayat (1) tentang ITE Jo Pasal 55 KUHP atau Pasal 56 KUHP dan Pasal 3 dan atau Pasal 4 dan atau Pasal 5 dan atau Pasal 6 dan atau Pasal 10 UU No 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Buru WN Nigeria

Ditambahkan Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan pihaknya kini masih memburu satu tersangka lagi yakni bernama Dima yang merupakan warga negara Nigeria. Dia diduga merupakan otak dari jaringan tersebut.

“Satu pelaku lagi yang diduga warga negara Nigeria bernama Dima alias Brother yang berperan sebagai aktor intelektual saat ini masih DPO,” sambung Listyo.

Disambung Listyo, pihaknya sedang melakukan pencarian terhadap yang bersangkutan, dan berjanji akan merilis jika sudah ditangkap.

“Akan segera dilakukan langkah-langkah selanjutnya untuk kemudian nanti akan kita rilis dalam kesempatan berikutnya,” janjinya.

Disambung Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Helmy Santika, bahwa tersangka yang masih DPO ini diduga sebagai mastermind atau otak di balik penipuan.

“Sedangkan tiga pelaku yang orang Indonesia menyiapkan dokumen-dokumennya,” timpal Helmy.

Meski begitu, Helmy mengaku sejauh ini pihaknya masih belum mengetahui keberadaan dan asal-muasal tersangka WNA tersebut. Pihaknya kini  tengah bekerjasama dengan Direktorat Siber untuk melakukan tracing dan kerjasama dengan Interpol Italia untuk bisa mengetahui ip address pelaku. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Efektif Berlaku 14 September, Sanksi Pelanggar Protokol Kesehatan

Read Next

Mengenal Lebih Dekat Teknologi Chip yang Tertanam di e-KTP