Bermanfaat Tapi Bahaya

dokter

Konfirmasitimes.com-Jakarta (08/09/2020). Ketagihan dan ketergantungan tidak bisa dianggap sebagai hal yang ditujukan ke arah negatif seperti ketagihan dan ketergantungan terhadap obat-obatan ‘terlarang’.

Sederhananya di Indonesia sendiri, nasi bisa dikatakan sudah mendarah daging di tubuh masyarakat Indonesia.

Hingga konon belum ‘kenyang’ atau belum ‘makan’ jika tidak dengan nasi.

Dhira narayana seorang Cannabis activist dan entrepeneur, melalui artikelnya mengungkapkan,

“Lihat saja pola makan masyarakat Jakarta. Setiap hari tidak bisa lari dari makanan yang mengandung gula dan tepung. Mulai dari donat, martabak, hingga burger dan roti. Semua ini bisa membuat kita ketagihan dan ketergantungan jika konsumsi berlebihan. Bisa menimbulkan bahaya juga pada tubuh kita. Tapi mengapa tetap dilegalkan? Sedangkan tanaman kanabis (dikenal dengan sebutan ganja —red) yang dipercaya memiliki khasiat untuk kepentingan medis, justru dilarang meski hanya digunakan untuk riset?,.

Dalam artikel tersebut, Dhira juga menceritakan kisahnya saat tengah menemani sebuah keluarga yang dimana ibunya mengalami kanker payudara sebelah.

Dhira menambahkan, “Sebelum anaknya memberikan ekstrak kanabis, beliau tak bisa tidur pulas. Bahkan tidak bisa tidur telentang, menyamping apalagi tengkurap. Beliau hanya bisa duduk. Sebagian tubuhnya bengkak parah. Kurang lebih satu bulan beliau mengalami itu sampai-sampai kehilangan minat untuk berbicara. Kemudian setelah sang anak memberikan ekstrak ganja, tidak sampai satu jam ibunya langsung tertidur tanpa mengeluh sakit. Setelahnya beliau kembali bersuara, banyak bercerita dan ngobrol.  Meskipun pada akhirnya beliau meninggal, namun di akhir hayat beliau seperti tak begitu menderita dan seakan lupa pada rasa sakitnya. Inilah salah satu efek yang diberikan oleh tanaman kanabis. Ia bisa membuat tubuh dan pikiran terasa lebih relaks. Dalam kasus ibu tersebut, beliau merasakan otot-otot dan saraf yang tegang seakan mengendur. Ini bisa terjadi karena ketika sakit, pikiran kita berperan penting dalam penyembuhan. Kalau pikiran tidak relaks akhirnya tubuh pun mengalami kesulitan untuk berfungsi dengan baik. Dari pengalaman melihat sendiri proses penyembuhan ibu itu, saya semakin percaya bahwa ganja amat berkhasiat dan masih sulit tergantikan dengan jenis obat-obatan herbal lainnya”.

Kalau pikiran tidak relaks akhirnya tubuh pun mengalami kesulitan untuk berfungsi dengan baik.

Dhira juga menekankan dalam sebuah kutipan

Ganja atau mariyuana berasal dari tanaman bernama Cannabis sativa. Tanaman satu ini memiliki 100 bahan kimia berbeda yang disebut dengan cannabinoid. Masing-masing bahannya memiliki efek berbeda pada tubuh.

Delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidol (CBD) merupakan bahan kimia utama yang kerap digunakan dalam pengobatan. Perlu diketahui, THC merupakan senyawa yang membuat Anda merasa mabuk atau high.

Senyawa cannabinoid sebenarnya diproduksi juga oleh tubuh secara alami untuk membantu mengatur konsentrasi, gerak tubuh, nafsu makan, rasa sakit, hingga sensasi pada indra. Namun pada ganja, sebagian senyawa ini sangatlah kuat dan bisa menyebabkan berbagai efek kesehatan serius jika disalahgunakan.

WebMD melaporkan, mariyuana bisa menjadi obat. Dustin Sulak, seorang profesor bedah, meneliti dan menjadikan mariyuana dimanfaatkan dalam dunia medis. Sulak merekomendasikan beberapa jenis mariyuana kepada para pasiennya.

Saat pasien diberikan mariyuana yang memiliki sakit kronis, pasien tersebut mengalami perbaikan kondisi dari sebelumnya. Kemudian pasien dengan multiple sclerosis juga mengalami lebih sedikit kejang otot dibanding sebelumnya. Bahkan, pasien dengan peradangan usus parah mulai bisa makan kembali.

Penelitian Sulak ini cukup kuat dan menambahkan sejarah panjang manfaat ganja yang dapat digunakan sebagai obat terapeutik. Namun masalahnya, karena tergolong barang ilegal, sulit untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas ganja dalam dunia medis.

Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan, ganja bermanfaat bagi kesehatan, yang mungkin jarang diketahui banyak orang.

1. Mencegah glaukoma

Glaukoma adalah penyakit yang meningkatkan tekanan dalam bola mata, merusak saraf optik, dan menyebabkan seseorang kehilangan penglihatan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan National Eye Institute di awal 1970-an, ganja dapat menurunkan intraocular pressure (IOP), alias tekanan bola mata, pada orang dengan tekanan normal dan orang-orang dengan glaukoma. Efek ini mampu memperlambat proses terjadinya penyakit ini sekaligus mencegah kebutaan.

2. Mencegah kejang karena epilepsi

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2003 memperlihatkan bahwa ganja bisa mencegah kejang karena epilepsi. Robert J. DeLorenzo, dari Virginia Commonwealth University, memberikan ekstrak tanaman ini dan bentuk sintetisnya pada tikus epilepsi.

Obat ini diberikan kepada tikus yang kejang selama 10 jam. Hasilnya, cannabinoid dalam tanaman ini mampu mengontrol kejang dengan menahan sel otak responsif untuk mengendalikan rangsangan dan mengatur relaksasi.

3. Meningkatkan kapasitas paru

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association pada Januari 2012, disebutkan bahwa ganja tidak merusak fungsi paru-paru. Bahkan, bahan yang satu ini bisa meningkatkan kapasitas paru-paru. Kapasitas paru adalah kemampuan paru untuk menampung udara ketika bernapas.

Didalam penelitian tersebut, para peneliti mengambil sampel dari 5.115 orang dewasa muda sepanjang kurang lebih 20 tahun. Perokok tembakau kehilangan fungsi paru-parunya sepanjang waktu tersebut, tapi pengguna ganja malah memperlihatkan peningkatan kapasitas paru-parunya.

Hal ini berkaitan dengan cara penggunaan mariyuana yang biasanya diisap dalam-dalam. Oleh sebab itu, peneliti menyimpulkan hal ini mungkin menjadi semacam latihan untuk paru. Namun, tentu saja paparan jangka panjang asap mariyuana dengan dosis tinggi bisa merusak paru-paru.

4. Mematikan beberapa sel kanker

Kandungan dalam ganja yang bernama cannabidiol dapat menghentikan kanker dengan mematikan gen yang disebut Id-1. Bukti ini didapat dari sebuah studi yang dilakukan sejumlah peneliti dari California Pacific Medical Center di San Francisco, yang dilaporkan pada tahun 2007. Dalam banyak kasus, dipercaya bahwa ganja mampu mematikan sel-sel kanker lainnya.

Selain itu, bukti menunjukkan bahwa ganja juga bisa membantu melawan mual dan muntah sebagai efek samping kemoterapi. Akan tetapi, meski banyak penelitian menunjukkan keamanannya, tanaman ini tidak efektif dalam mengendalikan atau menyembuhkan kanker.

5. Memperlambat perkembangan alzheimer

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Molecular Pharmaceutics menemukan fakta bahwa THC mampu memperlambat pembentukan plak amiloid. Plak-plak yang terbentuk ini bisa membunuh sel-sel otak yang berkaitan dengan alzheimer.

THC membantu menghalangi enzim pembuat plak ini di otak agar tidak jadi terbentuk. Namun, penelitian juga ini masih berada di tahap awal sehingga butuh lebih banyak studi penguat.

6. Mengurangi nyeri kronis

Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh National Academies of Sciences, Engineering, and Medicines melaporkan fakta bahwa dalam dunia medis, mariyuana kerap digunakan untuk mengatasi rasa sakit kronis. Hal ini karena mariyuana mengandung cannabinoid yang bisa membantu menghilangkan rasa nyeri ini.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, tanaman yang satu ini bisa meringankan rasa sakit akibat multiple sklerosis, nyeri saraf, dan sindrom iritasi usus. Tak hanya itu, tanaman yang satu ini bahkan banyak digunakan untuk penyakit yang menyebabkan nyeri kronis, seperti fibromyalgia dan endometriosis.

7. Mengatasi masalah kejiwaan

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Clinical Psychology Review menunjukkan bukti bahwa mariyuana membantu mengatasi masalah kesehatan jiwa tertentu. Para peneliti menemukan bukti bahwa tanaman ini bisa membantu menghilangkan depresi dan gejala gangguan stres pasca trauma.

Akan tetapi, mariyuana bukan obat yang tepat untuk masalah kesehatan jiwa, seperti gangguan bipolar dan psikosis. Pasalnya tanaman yang satu ini justru bisa memperparah gejala orang dengan gangguan bipolar.

Bahaya Konsumsi Ganja Berlebih

Ganja memang disebut-sebut membantu pengobatan medis, jika digunakan secukupnya dan dengan dampingan tenaga profesional.

Konsumsi ganja sebaiknya dihindari karena bisa menyebabkan kecanduan yang berujung pada penyalahgunaan. Kabar buruknya, menurut berbagai sumber penyalahgunaan ganja bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Di antaranya adalah sebagai berikut:

Menyerang Paru-Paru 

Efek samping dari penggunaan ganja juga bisa menyerang paru-paru. Kandungan tar yang ada pada ganja disebut bisa 3 kali lebih tinggi dibandingkan tar pada tembakau, dan hal itu sama sekali tidak baik untuk kesehatan paru-paru. Tak hanya itu, asap dari ganja juga disebut memiliki kandungan yang lebih berisiko menyebabkan kanker dibandingkan asap rokok tembakau. 

Merusak Otak 

Salah satu organ tubuh yang paling mungkin berdampak dari penyalahgunaan ganja adalah organ otak. Tanaman ini memicu gangguan pada kemampuan berpikir dan merusak struktur otak. Pemakaian ganja dalam jangka panjang bisa menyebabkan seseorang kehilangan memori serta menghambat fungsi otak secara keseluruhan atau sebagian. 

Mudah Sakit

Kebiasaan mengonsumsi ganja juga bisa membuat seseorang mudah sakit. Hal itu berkaitan dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Lemahnya sistem kekebalan tubuh bisa menyebabkan seseorang lebih mudah terserang penyakit dan sulit melawan infeksi. 

Gangguan Mental

Penggunaan ganja dalam jangka waktu panjang bisa memengaruhi kesehatan mental. Ada banyak kondisi yang berkaitan dengan gangguan mental bisa terjadi karena konsumsi ganja. Penggunaan ganja juga bisa memperburuk atau meningkatkan risiko gejala psikotik pada pengidap skizofrenia. Penggunaan ganja juga bisa menyebabkan seseorang mengalami halusinasi, delusi, rasa cemas, dan serangan panik. 

Sistem Peredaran Darah

Penggunaan ganja juga bisa menyebabkan gangguan pada sistem peredaran darah. Hal ini bisa menyebabkan jantung berdetak tidak normal. Konsumsi ganja bisa membuat detak jantung lebih cepat dari biasanya dan menjadi tidak teratur. Kondisi ini bisa berbahaya pada orang yang memiliki riwayat penyakit jantung karena peningkatan detak jantung bisa meningkatkan risiko serangan jantung. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Petani Blitar Kembangkan Kawasan Padi Sehat Presisi Integrasi Ternak Sapi

Read Next

Sistem Drainase Modern Atasi Banjir di Kawasan Wisata Religi Sekumpul