Candaan Ala Salman al-Farisi Kepada Sayyidina Ali

Konfirmasitimes.com-Jakarta (06/09/2020). Suatu hari, ketika Siti Fathimah sedang sakit ia meminta dibelikan buah delima. Kala itu, Sayyidina Ali tak punya uang sepeser pun, namun tetap mengiyakan dan bergegas ke pasar.

Sayyidina Ali rencananya berniat untuk berhutang satu dirham kepada pedagang di pasar demi mendapatkan satu buah delima untuk memenuhi keinginan sang istri. Setelah mendapatkan buah delima, ia pun kembali menuju rumahnya dengan harapan istrinya akan bahagia dengan apa yang ia bawa.

Di tengah perjalanan pulang menuju rumah, Ia berhenti karena mendapati pengemis tua di pinggir jalan. Sayyidina Ali pun mulai bertanya tentang apa yang pengemis itu inginkan. Terkejut, setelah bercerita sedikit tentang dirinya, pengemis itu pun menyebutkan keinginannya, yaitu ingin memakan buah delima. Sontak Sayyidina Ali berkata dalam hati; “Aku membeli buah delima ini semata-mata untuk Fathimah, kalau aku berikan kepada pengemis ini maka Fathimah akan tetap dengan keinginannya. Namun kalau aku tak memberinya, maka celaka lah aku karena telah melanggar firman Allah SWT.

Setelah melewati perenungan singkat, Sayyidin Ali pun memutuskan untuk memberi delima itu kepada si pengemis jalanan. Ketika buah delima itu diberikan, keinginan pengemis tadi akhirnya terobati untuk memakan delima.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan Sayyidina Ali, ternyata saat itu pula keinginan Fathimah untuk memakan delima pun sudah terobati.

Sayyidina Ali melangkahkan kakinya untuk pulang dan memasuki rumah dengan rasa malu karena tak berhasil membawa buah delima untuk istri tercinta.

Siti Fathimah yang melihat Sayyidina Ali datang pun bangun dari tempatnya dan merangkul mesra sang suami seraya berkata; “Apa kamu sedang gundah ?? Demi keagungan Allah dan kebesaran-Nya, ketika kamu memberikan delima yang kamu beli kepada seseorang di pinggir jalan yang menginginkan delima, tiba-tiba keinginanku untuk memakan buah delima juga hilang”. Sayyidina Ali yang merasa bingung karena perkataan istrinya pun mulai merasa senang dan hilang kegundahannya walaupun ia masih bertanya-tanya tentang mengapa istrinya tahu bahwa ia memberikan buah delima itu kepada pengemis jalanan di tengah perjalanan pulangnya.

Selang beberapa saat, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah yang ternyata sahabat Salman Al-Farisi. Dia membawa nampan berisikan sesuatu yang ditutupi dengan selembar kain. Sayyidina Ali pun bertanya, “Ini dari siapa, Salman ??”. “Dari Allah kepada Rasul-Nya, kemudian dari Rasul-Nya untuk kamu” Jawab Salman. Ketika selembar kain itu ditarik, ternyata nampan itu berisikan sembilan buah delima.

Dengan kecerdasannya, Sayyidina Ali pun bertanya perihal nampan yang harusnya berisikan sepuluh buah delima karena amal baiknya kepada pengemis jalanan itu; “Salman, kalau memang benar delima ini untuk aku, maka seharusnya isi nampan ini ada sepuluh buah delima, karena Allah sendiri yang berfirman;

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا (سورة الأنعام: 160

“Barang siapa yang melakukan satu kebaikan, maka akan mendapat sepuluh kebaikan yang sepadan”.

Sayyidina Ali pun lanjut bertanya, “Lalu ke mana delima yang satunya ??” Mendengar hal tersebut, Salman pun hanya tersenyum dan tertawa seraya mengeluarkan satu buah delima yang ia sembunyikan di kantong lengannya. “Wahai Ali, demi Allah, memang buah delima ini ada sepuluh, namun tadi aku ingin menguji kamu saja”.

Begitulah balasan kebaikan yang berlipat ganda. Satu buah delima yang diberikan Sayyidina Ali kepada si pengemis, langsung dibalas sepuluh kali lipatnya oleh Allah. Ini baru balasan di alam dunia, belum balasan di alam akhirat. Karena sesungguhnya Allah itu maha baik, apalagi jika hamba-Nya selalu giat untuk berbuat baik. Mari kampanyekan kebaikan. Tak peduli kebaikan itu kecil atau besar, yang terpenting adalah berbuat baik.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Tegakkan PAW, Satpol PP Kota Depok Gelar Operasi Gabungan

Read Next

Migas Cepu Edupark, Wisata Baru di Blora