Koleksi Humor Gus Dur Part 1

Jaringan Gusdurian; Melawan Melalui Lelucon, Penegak Hukum Jangan Intimidasi warga

Konfirmasitimes.com-Jakarta (05/09/2020). Dr. K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia menggantikan Presiden B.J. Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999. 

Gus Dur juga terkenal humor nya yang khas, berikut kumpulan humor ala Gus Dur:

Sopir Metromini dan Juru Dakwah

Di pintu akherat seorang malaikat menanyai seorang sopir Metro Mini. “Apa kerjamu selama di dunia?” tanya malaikat itu.

“Saya sopir Metro Mini, Pak.” Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk sopir Metro tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas.

Lalu datang Gus Dur dengan dituntun ajudannya yang setia. “Apa kerja kamu di dunia?” tanya malaikat kepada Gus Dur.

“Saya mantan presiden dan juga juru dakwah Pak…” lalu malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Melihat itu Gus Dur protes.

“Pak kenapa kok saya yang mantan presiden sekaligus juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari seorang sopir Metro..?”

Dengan tenang malaikat itu menjawab:

“Begini Pak… Pada saat Bapak ceramah, Bapak membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur… sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat sopir Metro Mini mengemudi dengan ngebut, ia membuat orang-orang berdoa ….”

Gus Dur Buat Kiai Sepuh Putus Asa

Dalam ceramahnya pada Haflah Tasyakuran Akhir Sanah Pondok Pesantren al-Hikmah Melathen, Jl. Lawu 05 Kalangbret, Tulungagung, 12 September 2004 silam, Gus Dur mengatakan bahwa mempromosikan pondok pesantren  adalah kewajiban para kiai, di antaranya adalah beliau sendiri.

“Saya di mana-mana itu menceritakan kehebatan pesantren itu begini-begini hebatnya. Tapi tidak saya ceritakan kalau pesantren itu kadang-kadang juga begitu (punya kekurangan),” ungkapnya.

Ketua Umum PBNU 1984 -1999 ini pun kemudian bercerita, bahwa ia pernah “dimarahi” oleh almarhum Kiai Syansuri Badawi, Tebuireng, Jombang.

“Saya dulu itu sekretaris Pondok Tebuireng. Saya mengundang para pastur, pendeta, dari Malang ke Tebuireng. Setelah melihat ke sana ke mari, kemudian (mereka) pulang,” cerita Gus Dur.

Kemudian, ia dipanggil Kiai Syamsuri Badawi.

“Gus!”

Dawuh, kiai”

“Ada apa sampean kok mengundang orang-orang itu?”

“Lho, kenapa?,” jawab Gus Dur, enteng.

Lha, rahasia kita kan terbongkar orang!”

“Kiai, dari jalan sana, itu sudah kelihatan, kok: sarung berantakan, kaos ditaruh tak karu-karuan. Rahasia itu sudah kelihatan dari jalan, kok,”  timpal Gus Dur.

“Bukan. (Tapi) akidahnya itu, lho!,” jawab Kiai Syansuri.

Lha akidahnya itu kan memang kita tular-tularkan, agar orang lain meniru,” jawab Gus Dur, kembali memberi alasan.

Menurut Gus Dur, seharusnya memang begitu.  Namun faktanya, kalau orang lain tahu malah tidak boleh. Hal ini, menurut Gus Dur, aneh. Ia mengatakan, sulit menjelaskan hal-hal seperti ini, khususnya kepada para kiai sepuh.

“Jadi, kadang-kadang kiai-kiai tua itu dengan saya agak putus asa,” seloroh Gus Dur, diikuti gelaktawa hadirin.

Becak dilarang masuk

Presiden Gus Dur pernah bercerita kepada salah seorang menterinya Mahfud MD tentang orang Madura yang banyak akal dan cerdik.

Ceritanya begini: Ada seorang tukang becak asal Madura yang kepergok seorang polisi ketika memasuki kawasan “Becak dilarang masuk”.

Tukang becak itu nyelonong, dan polisi pun datang menyemprit.

“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Becak tak boleh masuk jalan ini,” kata polisi itu membentak.

“Oh saya lihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada orangnya. Becak saya kan ada orangnya, berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak.

“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan becak dilarang masuk!” bentak Pak polisi lagi.

“Tidak pak, saya tidak bisa baca. Kalau saya bisa baca ya saya pasti jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini,” jawab si tukang becak cengengesan.

Jangan Maksa!

Dalam acara “Kongkow Bareng Gus Dur” di Kantor Berita Radio (KBR) 68H Jakarta, yang dipandu oleh Muhammad Guntur Romli, Presiden ke-4 Indonesia itu mengeluarkan salah satu koleksi humornya.

Alkisah, ada seorang kiai yang  mengajarkan santrinya membaca surat al-Quraisy. Gus Dur pun melafalkan bait-bait ayat itu, menirukan sang kiai.

li`īlāfi quraīsyn īlāfihim riḥlatasy-syitā`i waṣ-ṣaīf

“ṣaīf itu berhenti, waqaf, itu ilmu bacaan Al-Quran. Ilmu tajwid,” kata sang kiai, menasihati.

Akan tetapi, si murid hanya melihat huruf yang tertulis saja, sehingga tak waqaf.

“riḥlatasy-syitā`i waṣ-ṣaīfi,” baca sang murid.

“ṣaīf,” kata sang kiai, membenarkan.

“ṣaīfi,” baca sang murid, tak bisa menghindari kasrah yang tertulis.

“Sudah, baca lagi,” pinta sang kiai.

“riḥlatasy-syitā`i waṣ-ṣaīf,” secepat kilat, dengan tangannya, sang kiai pun menutup bibir muridnya yang tengah membaca.

“Begini, begini, jangan ṣaīfi,” kata sang kiai, dengan tangan masih terus menutup bibir muridnya. Sang murid pun hanya bisa menahan. Tak bisa berkutik.

Begitu tangan sang kiai dilepas, mulut sang murid refleks mengeluarkan suara yang dari tadi menggelantung di bibirnya: “Fi”

Meledaklah tawa Guntur dan seisi studio.

“Makanya kita nggak boleh memaksakan apa-apa,” pungkas Gus Dur.

Gus Dur sakit gigi

Sudah beberapa hari ini Gus Dur sakit gigi, cenat cenut. Dibuat duduk sakit, berbicara sakit, mendengarkan musik Beethoven juga masih sakit.

“Siapa bilang sakit hati lebih berat dari pada sakit gigi,” kata Gus Dur kepada seorang stafnya, mengutip lirik lagu dangdut.

“Lha kan iya lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati Gus?”

“Lebih baik sakit hati saja,” kata Gus Dur.

“Lha kenapa Gus?”

“Saya ini lagi sakit gigi…!” kata Gus Dur agak berteriak.

Staf Gus Dur tak berani bertanya lagi.

Cara Gus Dur halalkan ikan curian dari kiai

Saat Abdurrahman ad-Dakhil (Gus Dur) masih berusia belasan tahun, ia mondok di Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam atau Pesantren APITegalrejo, Magelang tahun 1957-1959. Gus Dur bersama beberapa teman-temannya merancang skenario pencurian ikan di kolam milik Sang Guru, Kiai Chudlori.

Pada waktu itu, Gus Dur menyuruh teman-temannya untuk mencuri ikan di kolam sementara Gus Dur mengawasi di pinggir kolam.

Gus Dur tak ikut terjun masuk kolam, hanya di pinggirnya saja, dengan dalih untuk mengawasi jika sewaktu-waktu Kiai Chudlori keluar dan melewati kolam.

Tak lama kemudian, Kiai Chudlori selalu keluar rumah setiap pukul 01.00 WIB untuk menuaikan shalat malam di masjid dan melintas di dekat kolam. Seketika itu juga, teman-teman bengal Gus Dur yang sedang asyik mengambil ikan langsung disuruh kabur. Sementara Gus Dur tetap berdiri di pinggir kolam dengan memegang ikan hasil curian.

“Tadi ikan milik kiai telah dicuri oleh santri-santri bengal dan saya berhasil mengusir para pencuri itu,? ikan hasil curiannya berhasil saya selamatkan,” kata Gus Dur kepada Kiai Chudlori.

Atas “jerih-payah” itu, akhirnya Kiai Chudlori menghadiahkan ikan tersebut kepada Gus Dur, untuk dimasak di kamar bersama teman-temannya. Dan ikan itu langsung dimasak dan dinikmati Gus Dur bersama teman-teman bengalnya.

Teman-teman bengal yang disuruh mencuri tadi mengajukan protes kepada Gus Dur. Namun bukan Gus Dur namanya jika tak bisa berdalih yang lebih penting adalah hasilnya.

“Ah kamu juga ikut makan ikannya. Lagi pula, ikan ini kan sudah halal,” kata Gus Dur enteng.

Menebak Usia Mumi

Ini cerita Gus Dur beberapa tahun yang lalu, sewaktu jaman Orde Baru. Cerita tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir. Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli Palaeo Antropologinya yang terbaik.

Akan tetapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman Orde Baru yang waktu itu masih bergaya represif misalnya banyaknya penculikan para aktivis. Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel.

Setelah sejumlah negara maju untuk menebak usai mumi, giliran delegasi Indonesia yang maju. Pak Komandan bertanya kepada panitia, bolehkan dia memeriksa mumi itu di ruang tertutup. “Boleh, silahkan,” jawab panitia.

Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringat Pak Komandan Intel itu keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri. “Usia mumi ini enam ribu dua ratus empat puluh lima tahun enam bulan tujuh hari,” katanya dengan lancar.

Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum jawaban itu tepat sekali.

Menjelang kembali ke Indonesia, Pak Komandan Intel dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobby hotel. “Anda luar biasa,” kata mereka. “Bagaimana cara Anda tahu dengan persis usia mumi itu?”

Pak Komandan dengan enteng menjawab, “Saya gebuki, ngaku dia!”

Beda NU lama dengan NU baru

Suatu hari, di bulan Ramadhan, Gus Dur bersama seorang kyai lain (kyai Asrowi) pernah diundang ke kediaman mantan presiden Soeharto untuk buka bersama.

Setelah buka, kemudian sholat maghrib berjama’ah. Setelah minum kopi, teh dan makan, terjadilah dialog antara Soeharto dan Gus Dur.

Soeharto: “Gus Dur sampai malam di sini?”

Gus Dur: “Engga Pak! Saya harus segera pergi ke ‘tempat lain’.”

Soeharto: “Oh iya ya ya… silaken. Tapi kyainya kan ditinggal di sini ya?”

Gus Dur: “Oh, iya Pak! Tapi harus ada penjelasan.”

Soeharto: “Penjelasan apa?”

Gus Dur: “Sholat Tarawihnya nanti itu ‘ngikutin’ NU lama atau NU baru?”

Soeharto jadi bingung, baru kali ini dia mendengar ada NU lama dan NU baru. Kemudian dia bertanya.

Soeharto: “Lho NU lama dan NU baru apa bedanya?”

Gus Dur: ” Kalau NU baru lama, Tarawih dan Witirnya itu 23 rakaat.”

Soeharto: “Oh iya iya ya ya… ga apa-apa….”

Gus Dur sementara diam.

Soeharto: “Lha kalau NU baru?”

Gus Dur: “Diskon 60% !”

Hahahahahaha…. (Gus Dur, Soeharto, dan orang-orang yang mendengar dialog tersebut pun tertawa.) :mrgreen:

Gus Dur: “Ya, jadi sholat Tarawih dan Witirnya cuma tinggal 11 rakaat.”

Soeharto: “Ya sudah, saya ikut NU baru aja, pinggang saya sakit.”

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Pekan Depan, Wisatawan Bisa Menikmati Restoran Terapung Sungai Siak

Read Next

Temanggung Bersiap Gelar Pembelajaran Tatap Muka Tingkat SMP