Keterkaitan Sanad Guru Hingga Tradisi Berkunjung, Percepat Tumbuhnya NU

Keterkaitan Sanad Guru Hingga Tradisi Berkunjung, Percepat Tumbuhnya NU

Konfirmasitimes.com-Jakarta (02/08/2020). Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Suwadi D Pranoto berbicara mengenai setting sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).

Disebut Suwadi, ada beberapa hal yang menjadikan NU, yang notabene lahir pada 31 Januari 1926, kemudian berkembang sangat cepat. Salah satu faktornya adalah di lihat dari sisi regional, yakni adanya kesamaan latar belakang.

Hal itu dikatakan Suwandi dalam dialog bertema ‘Genealogi dan Setting Pendirian NU’ di akun Youtube 164 channel sebagaimana dilansir Konfirmasitimes.com, Sabtu (01/08/2020).

“Masyarakat Asia Tenggara atau Nusantara itu dipersatukan oleh kesamaan latar belakang baik dari sisi fiqih baik dari sisi tasawuf, baik dari sisi  teologi,” katanya.

Ketersambungan sanad, sambung Suwandi juga menjadi penyebab mudahnya NU berkembang hingga ke seluruh nusantara.

“Ulama-ulama pada masa itu merupakan kelanjutan dari ulama-ulama yang sudah dakwah sebelum-sebelumnya, sebelum-sebelumnya yang mendapatkan dari yang sebelum-sebelumnya, demikian seterusnya setidaknya kita bisa ambil dari sejak periodenya Syekh Abdurrauf As-singkili (Tengku syiah kuala, 1615M-1639M) Aceh,” paparnya.

Disambung Suwandi, Syiah Kuala adalah seorang Ulama Besar yang sangat ahli tentang Hukum pada masa kesultanan Iskandar Muda, dan pada masa itu ada juga ulama yang mengusai tentang Adat. Beliau merupakan keponakan dari ulama sufi terkenal Hamzah Fansury.

“Syekh Abdurrauf itu punya murid satu diantaranya Syekh Burhanuddin Ulakan, Abdul Muhyi dari Pamijahan, seterusnya, nah ini tersambung jadi ulama-ulama nusantara ini secara sanad tersambung, secara hubungan guru murid tersambung satu sama lainnya,” sambungnya.

“Misalnya ada orang Pati ziarah Syekh Yusuf Makassar karena mbah Mutamakkin (Syekh Ahmad Mutamakkin) murid Syekh Yusuf Makassar.  Syekh Yusuf Makassar sambungan sampai Syekh Abdurrauf As-singkili,” papar Suwandi.

“Kesamaan sanad guru ini lah yang membuat titik temu antara ulama-ulama di Asia Tenggara mulai dari Sumatera, Thailand wilayah selatan Malaysia sampai Maluku tersambung semua.  Pesantren Sumatera Thawalib Parabek misalnya itu sanadnya bisa kita tarik sampai Syekh Zaini Dahlan. Syekh Zaini Dahlan punya murid-murid di Indonesia bukan main banyaknya,” imbuhnya lagi.

Kesamaan guru dan murid inilah yang menjadi perekat para ulama, khususnya ulama yang ada di Asia Tenggara. Dengan berdirinya NU, secara otomatis para sanad guru mengikuti.

“Karena itu berdirinya NU otomatis ulama-ulama yang ada titik temu pada sanad guru ya otomatis ikut, kalau tidak ketemu sanad guru di KH Hasyim Asy’ari, ketemu di Syekh Nawawi atau lainnya misalnya ketemu di Syekh Juned (Syekh Junaid Al-Baghdadi). Syekh  Junaid Al-Baghdadi punya murid berapa kan kt bisa lihat juga,” rincinya.

“Ini contoh saja, titik temu antar tokoh-tokoh  itu dipersatukan sekurang-kurangnya oleh sanad guru yang sama, yang ini mencerminkan kuatnya tradisi bermahzab  ulama-ulama di nusantara. Diantara ciri dari kuatnya tradisi bermahzab itu adalah sanad yang bersambung, jadi  gampang ngecek orang NU itu kemana, kiriman fatihah disitu disitu menunjukan siapa gurunya, ila hadroti menunjukkan siapa gurunya,” imbuhnya lagi.

Tradisi Saling Berkunjung Ulama

Selain sanad yang kuat, disebut Suwandi ada tiga hal, sebagaimana yang dilakukan oleh para muasis (pendiri), dalam membesarkan organisasi NU.

“Satu saling berkunjung, dua saling mengingatkan ketiga saling tolong menolong, nah saling berkunjung ini, silaturahmi ini yang menjadi konsolidasi penting,” sebutnya.

Contohnya, KH Abdul Wahab Hasbullah dan Kiai Abdul Halim Leuwimunding, pada awal mendirikan NU keduanya kerap menemui tokoh-tokoh dan bahkan singgah hingga berhari-hari di beberapa tempat.

“Forum-forum  semacam itu menjadi alat penting sosialiasi ide meyakinkan pentingnya mempersatukan orang-orang semahzab, sewadah dalam lembaga bernama NU,” imbuhnya.

Selain itu disebut Suwandi, ulama-ulama yang menjadi muasis NU, ada kaitan pula dengan tokoh-tokoh pergerakan.  

“Dari sanad guru tadi bahwa ulama-ulama yang menjadi muasis NU, yang menjadi ulama-ulama  di beberapa tempat ada kaitan dengan tokoh-tokoh yang di tahun 1800-an mengirim orang-orangnya, kader-kadernya ikut perang Diponegoro. Perang diponegoro itu sekalipun perangnya di Jawa Tenga tapi diikuti oleh banyak orang di berbagai pulau , bahkan beberapa nama batalyonya menyebut nama asal tempat,” kisahnya.

“Kita bisa lacak 3 sampai 4 generasi sebelum ulama-ulama itu adalah generasi-generasinya antara Sunan Prapen atau Syekh Maulana Fatikhal. Sunan Prapen adalah putera dari Sunan Dalem atau Syekh Maulana Zainal Abidin, dan cucu dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin), untuk wilayah timur ya. Kalau wilayah Barat, bisa kita cek generasi sebelum Syekh Nawawi, Syeikh Abdul Samad al-Falimbani, Syekh Burhanuddin Ulakan, sebelumnya lagi Syekh Abdurrauf As-singkili,” sambung Suwandi/

Sementara itu menurut mendiang KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, ada tiga fase proses islamisasi di Nusantara.

“Sebelum walisongo, fase sebelum antara walisongo dengan ulama-ula,a generasinya Syekh Abdurrauf As-singkili yakni ulama-ulama Asia Tenggara yang studi di kawasan Hijaz ataupun mesir, kemudian fase setelah itu, jadi tiga fase ini yang menjadi tanda penting islamisasi di nusantara di kawasan asia tenggara ini mempunyai kekhasan tertentu,” pungkasnya. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Pengantin Dapat Kartu Nikah

Read Next

Cek Kesehatan Hewan Kurban di Masjid Istiqlal