Karena Anak itu Masa Depan Bangsa

Karena Anak itu Masa Depan Bangsa

Konfirmasitimes.com-Sumut (02/08/2020). Humbang Hasundutan adalah salah satu kabupaten dari pemekaran Tapanuli Utara yang cepat perkembangannya. Bupati pertama terpilih, Maddin Sohombing dan Marganti Manullang menancapkan fonadasi pembangunan dengan tepat. Maka, seperti disebutkan Jhoni Allen Marbun, anggota DPR RI, Humbang pun cepat mengejar daerah-daerah lainnya.

“Tahun 80-an 90-an, aduh, susah banget kabupaten ini,” begitu Jhoni mengenang Humbang pada perayaan ulang tahun Humbang Hasundutan ke-17.  Jhoni Marbun mengaku, kampungnya di Desa Parsingguran, Pollung, Humbang Hasundutan meski lahir di Samosir.

“Tapi, posisi sekarang, saya pikir kabupaten lain juga mengakui, bagaimana pertumbuhan dan perkembangan Humbang Hasundutan dari induk-induk pemekarannya atau yang duluan mekar,” pungkasnya lagi. Yang menarik, tidak hanya di sisi infrastruktur, sisi investasi di bidang SDM pun Humbang cukup menjanjikan.

Hal ini diketahui dari data Badan Pusat Statistik Humbang Hasundutan. Menurut Rudy Harianja (31/07/2020), jumlah anak yang ikut aktif pada pendidikan prasekolah di Humbang sangat tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara.

“Pada 2019 di Humbang Hasundutan, ada 20,36 persen penduduk usia 0-6 tahun yang masih mengikuti pendidikan prasekolah di tahun ajaran 2018/2019,” demikian kata Rudy Harianja kepada awak media konfirmasitimes.com (31/07/2020). Jika dibandingkan dengan daerah lain, angka ini memang termasuk tinggi.

Bahkan, menurut Rudy juga, jika dibandingkan dengan ibu kota Sumatera Utara, yaitu Kota Medan, perolehan Humbang Hasundutan jauh lebih tinggi. Medan masih berada pada angka 14,76 persen. Angka partisipasi paling tinggi dimiliki Labuhan Batu Selatan, kemudian disusul Humbang Hasundutan. 

“Angka ini merupakan tertinggi kedua di Provinsi Sumatera Utara setelah Kabupaten Labuhan Batu Selatan dengan perolehan 20,76 persen,” tutur Rudy lagi. Secara keseluruhan, angka partisipasi rata-rata Provinsi Sumatera Utara berada pada angka 13,27 persen. Artinya, Humbang berada jauh di atas Provinsi Sumatera Utara. 

Namun, lanjut Rudy lagi, ada pemerolehan Humbang Hasundutan yang cukup menarik, yaitu tertinggi di Sumatera Utara dengan perolehan 22,40 persen. “Ada yang menarik sebenarnya. Jika dilihat persentase penduduk berumur 0-6 tahun yang masih dan pernah mengikuti pendidikan prasekolah tahun ajaran 2018/2019 di Kabupaten Humbang Hasundutan, ternyata tertinggi di Sumatera Utara, yaitu sebesar 22,40 persen,” jelasnya lagi. 

Namun, begitu pun, angka perolehan ini belum puncak. Sebab, masih dominan anak yang belum mengikuti pendidikan prasekolah. Setidaknya, secara keseluruhan sekitar 65,91 persen penduduk berumur 0-6 tahun di Kabupaten Humbang Hasundutan yang tidak atau belum pernah mengikuti pendidikan prasekolah.

Artinya, masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh Humbang Hasundutan, terutama Sumatera Utara. Pendidikan anak sangat penting diperhatikan. Apalagi, anak usia dini adalah fondasi awal. Tegal fondasi, maka kukuh pula bangunanya.

Pentingnya pendidikan anak, maka pemerintah membuat program Satu Desa Satu PAUD. Hingga akhir 2015, setidaknya sudah ada 58.174 desa yang telah memiliki lembaga PAUD. Walau begitu, terobosan ini penting untuk dirawat dan diarahkan. 

Masalah pendidikan prasekolah saat ini adalah kompetensi guru. Saat ini, kualifikasi guru PAUD masih memprihatinkan. Dari sekitar 400.000 guru PAUD, misalnya, masih hanya 26% yang berkualifikasi sarjana, selebihnya masih belum. Bahkan, konon, sekitar 180.000 ribuan dari guru PAUD masih hanya tamatan SMP. 

Fondasi pendidikan anak sangat penting diperhatikan karena ini adalah periode emas. . Schiller (2010) menyebutnya sebagai fase penting. Senada dengan itu, dalam hasil penelitian Perry dan Szalavitz (2007) serta Shonkoff dan Phillips (2000) juga disebut bahwa usia dini merupakan periode di saat otak mengalami pertumbuhan yang luar biasa; otak anak usia tiga tahun bekerja dua setengah kali lipat lebih aktif jika dibandingkan dengan otak orang dewasa.

Walau begitu, terlalu memaksa anak belajar juga bahaya, apalagi sampai memberi mereka gawai dengan bebas. Gawai akan menjadi racun bagi otak mereka. Seerti diketahui, saat ini, teknologi sudah masuk terlalu jauh ke jantung kehdupan kita.

Anak sudah kecanduan gawai. Hal ini sekilas tak berbahaya. Malah, ada dogma di pikiran kita bahwa jika anak, terlebih sekolah dasar tak memasukkan teknologi, maka sekolah dan anak itu sudah ketinggalan. Begitulah pandangan kaum awam. 

Namun, bagi pakar teknologi, hal itu justru berkebalikan. Sempat viral tentang kisah para petinggi Google, Apple, Yahoo, HP, hingga eBay yang mengirim anak-anaknya ke sekolah yang sama sekali tak punya komputer.

“Saya secara mendasar menolak gagasan bahwa kita membutuhkan bantuan teknologi digital di sekolah dasar,” kata Alan Eagle, Executive Communication Google. Atas pertimbangan itu, Eagle menyekolahkan putrinya di WaldorfSchool yang berlandaskan pada filosofi pendidikan “memanusiakan manusia”.

Semoga pemerintah serius menginvestasikan masa depan melalui pendidikan anak, terkhusus prasekolah!

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Cek Kesehatan Hewan Kurban di Masjid Istiqlal

Read Next

Volume Sampah Saat Idul Adha di Jaksel Capai 1.253,88 Ton