Gubernur Jabar Dead Line BUMD Recovery Ekonomi

Pokja PWI Gesat 2

Konfirmasitimes.com-Bandung (28/07/2020). Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, Pemprov Jabar tidak pernah lelah untuk terus memberikan pembinaan dan tekanan kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar bisa terus berinovasi dan berkolaborasi demi kemajuan bersama, tidak terbelenggu dengan yang namanya pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19).

Pokja PWI Gesat 2

“Pandemi Covid-19 memang menyita waktu semua perangkat daerah, untuk terus bekerja demi menghindari agar warga masyarakat menjadi korban penyakit yang disebabkan oleh virus itu,” katanya dalam diskusi online Pokja PWI Gedung Sate yang berjudul “Siasat Recovery Ekonomi BUMD Jawa Barat di Era AKB” Senin (27/07/2020).

Selain Gubernur Jabar yang bertindak sebagai Keynote Speaker, juga hadir sebagai narasumber. Ketua Forum BUMD Jabar/Dirut PT Jaswita Jabar Deni Nurdyana Hadimin; Direktur Utama PT. Migas Hulu Jabar Begin Troys;  Direktur Utama PT. BIJB Salahudin Rafi; Kepala Biro BUMD dan Investasi Prov Jabar I Gusti Agung Kim Fajar Wiyati Oka. Moderator Ketua Pokja PWI Gedung Sate Wisnu Wage.

Emil –panggilan karib dari Ridwan Kamil mengatakan agar Jabar tetap bisa ngabret (berlari kencang –istilah yang dipopulerkan Gubernur) kerja harus dilakukan secara berimbang, selain melakukan penanggulangan dan pencegahan Covid-19, Jabar juga harus terus tetap memperhatikan perekonomian warganya. Moderator :

 “Peluang bisnis harus tetap dijalankan, tidak boleh kendor. Jawa Barat tetap harus bisa ngabret (berlari kencang),” tegasnya.

Untuk itu, jelas Emil dalam recovery ekonomi pasca-pandemi, semua pelaku ekonomi di Jabar, harus tetap bisa berinovasi dan berkolaborasi, tidak terkecuali BUMD. Metodanya, ikuti langkah pemprov Jabar. Kuncinya kepemimpinan yang bersatu dalam kebersamaan.

Covid-19 terang Emil, memberikan pelajaran bahwa barang siapa tidak siap dengan disrupsi, dia akan menjadi pecundang. Barang siapa yang mampu atau cepat bisa beradaptasi, dia jadi pemenang.

“Semua BUMD ini harus proaktif menjadi pelaku utama untuk investasi sendiri dan mitra utama investasi luar,” pintanya.

Emil menjelaskan, selama enam bulan ini ada investasi sebesar Rp 57 triliun yang datang ke Jawa Barat. Untuk itu, BUMD di Jawa Barat, harus memahami dan bekerja sama dengan para investor tersebut agar bisa mengelola manfaat dari investasinya.

Maksudnya di era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini BUMD Jabar harus aktif menjemput para investor, termasuk para duta besar, dan pengusaha.  Termasuk, berani menambah dan mengembangkan bisnis-bisnis yang berpotensi untuk menambah penghasilan daerah.

Emil menerangkan, di era AKB ini setidaknya ada tujuh usaha yang berpeluang berkembang. Pertama adalah peluang investasi perusahaan yang memindahkan usahanya ke luar Tiongkok.

Kedua adalah, BUMD membuka peluang swasembada kebutuhan dalam provinsi atau dalam negeri. Ketiga adalah pengembangan pariwisata yang digabungkan dengan pelayanan kesehatan layaknya di Singapura atau Penang.

Keempat,  memanfaatkan otomasi revolusi Industri 4.0. BUMD di Jabar harus menerapkannya dengan melakukan digitalisasi layanan dan optimalisasi karyawannya. Kelima, peluang pengembangan usaha melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Keenam, bisnis ramah lingkungan dan berkelanjutan, contohnya melirik pemasaran kendaraan listrik atau energi terbarukan. Ketujuh adalah memaksimalkan potensi pariwisata dan wisatawan lokal di Jawa Barat.

Emil pun meminta BUMD agresif ikut melakukan perbaikan ekonomi, mengoptimalkan kinerja perusahaan hingga menjaring investor. Emil juga memberitakan tantangan selama dua pekan kepada Direksi BUMD Jabar untuk dapat memberikan paparan tentang strategi dan inovasi bisnis yang dilakukan seluruh BUMD Jabar.

“Saya kasih waktu dua pekan untuk dapat memaparkan strategi dan inovasi bisnis bagi seluruh Direksi BUMD Jabar”, tegasnya.

Ketua Forum BUMD Jabar, Deni Nurdyana Hadimin, mengatakan BUMD di Jabar akan terus berupaya menggarap berbagai bisnis yang berpotensi berkembang baik selama pandemi Covid-19 atau setelah pandemi berakhir nanti. Bisnis-bisnis yang menguntungkan tersebut di antaranya bisnis kesehatan, e-commerce, teknologi informasi, dan pangan.

“Kita sedang bersiap untuk ngabret. Seperti diketahui, sektor pariwisata dan penerbangan sendiri sekarang tengah terpukul dengan adanya pandemi. Kita akan berusaha tetap survive, dan mengembangkan bisnis-bisnis yang jadi winner di tengah pandemi ini,” katanya.

Deni yang juga merupakan Direktur Utama PT Jasa dan Kepariwisataan Jabar ini mengatakan jika dulu BUMD-nya terkenal dengan sebutan juragan kontrak karena hanya mengontrakkan aset-aset Pemprov Jabar yang bisa dikerjasamakan.

“Kini perusahaannya mulai menjajaki mengelola restoran atau hotel di luar negeri seperti Turki, Jordania, dan Aljazair, selain sejumlah hotel dan restoran di Jawa Barat,” katanya.

Direktur Utama PT Migas Hulu Jabar, Begin Troys, mengatakan BUMD-nya berencana mulai menggarap bisnis lain di luar usaha pengelolaan participating interest (PI) blok Offshore North West Java (ONWJ).

Begin mengatakan pihaknya sudah merancang menggarap bisnis baru di luar PI 10 persen ini sesuai permintaan pemegang saham agar bersinergi dengan BUMD lain milik Pemprov Jawa Barat. Kerjasama sudah mulai dilakukan seperti dengan BIJB, Agronesia, kemudian Tirta Gemah Ripah.

“Kami pun berencana menggarap jasa konstruktri infrastruktur energi dan ketenagalistrikan. Jadi kalau selama ini MUJ dibilang hanya nunggu PI saja, bisa terbantahkan dengan proyek-proyek baru kami,” katanya.

Direktur Utama PT Bandarudara Internasional Jawa Barat, Salahudin Rafi, mengatakan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka yang dikelolanya memang tengah terpengaruhi oleh pandemi Covid-19. Namun demikian, pihaknya tengah berupaya menyambut angin segar dari perampungan Tol Cisumdawu yang rencananya beroperasi akhir 2021.

“Jika pandemi ini selesai, kita juga harus siap kembali aktif. Kalau kuliah sudah dibuka, mahasiswa dari se-Indonesia akan ke Jabar lagi, yang punya banyak universitas. Apalagi kalau 45 menit dari Bandung ke Kertajati lewat Cisumdawu sudah bisa,” katanya.

Rafi mengatakan pihaknya pun kembali menjajaki penerbangan haji dan umrah bersama sejumlah maskapai. Juga membuka peluang penerbangan kargo melalui pesawat carteran. Selama ini pelanggan Bandara Kertajati adalah yang akan bepergian untuk bisnis, sekolah, atau kebutuhan keluarga dan wisata.

Kepala Biro BUMD dan Investasi Provinsi Jawa Barat, I Gusti Agung Kim Fajar Wiyati Oka, mengatakan untuk berperan aktif dalam pemulihan ekonomi di Jabar, pertama harus terus mencari dan menganalisis kemungkinan bisnis yang bisa dikembangkan untuk menunjang pembangunan dan sektor ekonomi.

“Selain menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah dan memberikan kebermanfaatan, kami memberikan keleluasaan, silakan berikan relaksasi pemulihan BUMD. Dimohon juga, berapa pun, berikan deviden. Saya siap untuk menagih,” katanya.

I Gusti mengatakan dalam masa pandemi Covid-19, diharapkan recovery tidak terlalu lama. Semua BUMD harus melakukan refocusing dan regrowing menggunakan skema capaian program. Pihaknya pun melibatkan akademisi untuk terus membenahi dan mengembangkan BUMD di Jabar.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Diduga Mesin Mati, Kapal Bermuatan 24 Penumpang Hampir Tenggelam

Read Next

SMA ini Menuju Schoology dan Examview