Berkhidmah, jadi Sumber Logistik Para Ulama dalam Membesarkan NU

Berkhidmah, jadi Sumber Logistik Para Ulama dalam Membesarkan NU

Konfirmasitimes.com-Jakarta (22/07/2020). Untuk menggerakkan sebuah organisasi tak dipungkiri sangat bergantung pada ketersediaan logistik. Begitu pula yang dihadapi oleh organisasi islam terbesar Nahdlatul Ulama (NU).

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Suwadi D Pranoto dalam dialog bertema “Inilah yang Membuat NU tersebar cepat di indonesia” di akun Youtube 164 channel sebagaimana dilansir Konfirmasitimes.com, Senin (20/07/2020) lalu berkisah perihal logistik yang didapat para Kiyai, untuk kemudian dipakai sebagai berdakwah dan membesarkan organisasi.

“Yang jelas enggak pakai proposal. Perlu dicatat ya para pendiri pesantren termasuk orang orang yang sudah menyediakan dirinya untuk berkhidmah (mengabdi) di bidang itu, termasuk dalam hal pendirian Nahdlatul ulama,” papar Suwadi.

Adapun berkhidmah sendiri bisa dilakukan dengan tiga macam cara. Pertama berkhidmah bin nafs (dengan fisik atau tenaga). Kebanyakan cara ini banyak dilakukan oleh santri di pondok pesantren. Biasanya santri ikut di ndalem (kediaman) Kiyai untuk membantu-bantu pekerjaan rumah tangga kiai.

Berkhidmah cara kedua kedua yakni dengan cara bil mal (dengan harta). Yang ketiga, yakni berkhidmah dengan cara biddu’a (dengan doa). Namun disarankan untuk melakukan khidmah jenis yang pertama atau yang kedua terlebih dahulu dan cara ketiga sebagai pilihan terakhir.

Disebut Suwadi, kebanyakan ulama NU adalah pribadi yang sudah mapan secara ekonomi.  Hingga persoalan logistik tak menjadi problem lagi.

“Syaikh KH.Hasyim Asy’ari, sebelum fokus di pesantren itu beliau adalah pemasok kuda dari Bima ke pulau jawa. Artinya sudah settle, ekonominya sudah settle. Yang saya telusuri tidak ada zaman itu pesantren yang bikin proposal,” papar Suwadi.

“Artinya logistik tidak perlu dipersoalkan lagi, sesungguhnya apakah karena sebab yang bersangkutan sudah settle atau karena ada pihak-pihak yang berkepentingan untuk khidmah,” sambungnya lagi.

Selain itu, sebut juga Suwadi, banyak pihak yang dengan secara sukarela menyumbangkan hartanya sebagai tradisi tabaruk atau ngalap berkah.

“Karena ingin mendapatkan keagungan ilmunya. Karena tradisi yang kuat itulah maka sesungguhnya logistik mengalir sendiri dari mereka-mereka yang ingin ikut khidmah,” terangnya.

Bahkan saat Muktamar NU ke-13  yang diselenggarakan tahun 1938 di Menes, Banten pada  1938 silam, dikisahkan Suwadi tak sedikit ibu-ibu membawa barang-barang pangan hingga ternak tertentu yang disumbangkan ke panitia. Belum lagi ditambah dengan bantuan in natura dari masyarakat berupa beras, gula, minyak goreng, kerbau sapi, sayuran kue dan sebagainya

Diceritakan pula pada saat itu, Hadratus syeikh Hasyim Asy’ari mendermakan uang sebesar 30 rupiah. Selain itu juga banyak ulama lain yang memberikan sumbangan, seperti Rois Syuriah NU Banten menyumbang sebesar 10 rupiah,  lalu KH Ismail Pandeglang menyumbang 20,68 rupiah. 

Total kontribusi dari wilayah dan cabang untuk muktamar tersebut mencapai 471 rupiah.  Dengan demikian dana penyelenggaraan muktamar tersebut  seluruhnya ditopang warga Nahdliyin sendiri, tanpa adanya sumbangan dari penjajah Belanda. Uang tersebut lantas dipakai untuk menjamu para Muktamirin, juga digunakan untuk membangun berbagai gedung dan panggung pelaksanaan Muktamar.

Organisasi Lain Melebur ke NU

Dalam dialog ini juga dibahas soal banyaknya organisasi Islam yang sudah mapan, lalu memilih melebur ke NU ketika berdiri. Suwadi menyebut ada beberapa alasan mengapa banyak organisasi yang melebur ke NU, sehingga NU menjadi kian besar.

“Punya kesamaan dalam hal-hal kitab Mu’tabar yang dipakainya, sebagian tadi karena kesamaan di guru tertentu, sebagian lagi karena kesamaan di spek dasarnya, ada yang karena merasa sama-sama Syafe’i, ada yang karena sebab sama di Mursyid Tarekat, ada yang sama-sama ini sudah ada dan ini berpotensi lebih masif maka gabung ke situ,” jelasnya.

“Tapi prinsipnya peleburan atau aliansi terbatas tadi itu karena kesamaan di spek dasar di frekuensinya, prinsipnya karena sama itu,”  imbuhnya.

Tradisi Pesantren dan Literasi

Selain logistik, sanad yang kuat, salah satu yang membuat NU berkembang pesat adalah kesadaran literasi, publikasi yang dilakukan para ulama NU zaman itu.

Nahdlatul Ulama diketahui telah memiliki Majalah untuk mengabarkan dan mempublikasikan kegiatannya sejak Shafar 1347 H bertepatan dengan tahun 1928 M. Majalah pertama NU ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon.  

Majalah yang saat itu diberi nama Swara Nahddlatoel Oelama itu selain memberitakan internal kegiatan dan perjuangan NU, juga memuat perkembangan dunia Islam, masalah pemerintahan dan juga ilmu pengetahuan.

Disebut Suwadi, kesadaran literasi sudah tumbuh di pesantren.

“Pesantren itu sendiri sudah literasi, tradisi ngalogat tu sudah literasi, karena itu soal kemudian ketemu pers ini kan persoalan teknis saja. Tradisi pesantren yang sudah kebentuk ratusan tahun ini sendiri sudah literasi,” terang Suwadi.

Ngalogat sendiri adalah menerjemahkan teks bahasa Arab dalam kitab kuning secara kata per kata di bawah kata yang dimaksud dengan menggunakan huruf bahasa Arab dengan tujuan untuk mengetahui kedudukan kata tersebut dalam gramatikal bahasa Arab dan mempermudah dalam penerjemahan serta pemaknaanya. 

Secara sederhana Ngalogat adalah menerjemahkan. Istilah Ngalogat lebih populer digunakan di lingkungan pesantren Jawa Barat.

“Coba kita lihat apakah kitab-kitab yang tanpa bahasa arab tanpa makna, ataukah buku-buku yang ditulis dalam buku jawi, huruf-huruf melayu, atau huruf-huruf lainnya itu sudah literasi,” tutup Suwadi. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Masih Zona Kuning, Sekolah di Riau Tetap Terapkan Belajar Secara Online

Read Next

Kini Puskesmas Keliling Aceh Barat Bisa Gunakan Sepeda Motor