Mendukung Mereka yang tak Mau Mengotori Pikiran

Mendukung Mereka yang tak Mau Mengotori Pikiran

Konfirmasitimes.com-Sumut (21/07/2020). Pandemi memaksa semua pihak untuk berdamai. Berdamai dengan banyak arti: bekerja dengan patuh pada protokol kesehatan atau mencari pekerjaan lain yang lebih aman. Namun, mencari pekerjaan saat ini bukan hal mudah. Maka, banyak pihak merasakan dampaknya. Seniman adalah salah satunya. Apalagi, seniman selalu dekat dengan istilah keramaian. Tanpa keramaian, seniman dan budayawan hampir mustahil bisa survive.

Seniman umumnya tidak mempunyai pendapatan tetap. Semua tergantung situasi. Maka, pada masa tak menentu, nasib seniman hampir pasti di ujung tanduk. Seniman pesta, misalnya, nyaris tak punya pendapatan karena pesta sempat dilarang. Perlu kepedulian bersama bagi seniman. Bagaimana pun, seniman adalah maestro negara ini.

“Setiap bulan, saya harus membeli buku baru. Namun, Juli ini, saya tak mampu lagi beli buku baru,” begitu Thompson Hs bercerita (20/07/2020). Thompson Hs adalah kutu buku sejati. Di rumahnya, lebih 6.000 judul buku tertata rapi. Baginya, membaca buku adalah menenangkan pikiran. 

Namun, karena pandemi, pendiri TWF dan pemberi nama sanggar Bale Marojahan dan Sanggar Sitopak Sada ini urung diri membeli buku. Thompson Hs bukan seseorang yang gila kekayaan. “Saya tak mau mengotori pikiran saya sendiri dengan finansial,” demikian Thompson Hs mengaku.

Pengakuan Thompson Hs ini seakan menjadi kritik tanpa harus memprotes para jutawan. Jutawan selalu memburu uang sehingga terkadang, pikirannya tak sempat untuk berbagi, malah untuk mencuri. Andai saja pikiran mereka tak terlalu kotor akan finansial, barangkali negara ini bisa lebih maju. Begitulah salah satu cara Thompson Hs menggugat keadaan.

“Juli saya harus dibantu,” kata Thompson Hs. Sebelumnya, Thompson Hs menampik bantuan yang diprakarsai Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU) bagi yang terdampak Covid-19. “Saat itu saya katakan tidak usah karena masih cukup. Namun, pada bulan Juli ini saya sudah perlu dibantu,” aku Thompson Hs.

Menurut Thompson Hs, ini bukan soal butuh atau tidak butuh. Baginya ini soal moral. Sebab, soal terdampak atau tidak, semua orang terdampak. Namun, tak semua orang bisa memikirkan orang lain. Tak semua orang jujur dengan kebutuhannya.
Thompson Hs bukan orang royal. Pengeluarannya soal perut tidak sebanyak orang biasa. Dia lebih banyak membeli buku. Bahkan kadang, memberikan honor berkeseniannya kepada para rekannya. “Saya hanya makan sekali sehari. Tapi, orang lain belum tentu begitu,” ujar Thompson Hs.

Thompson Hs tak menyerah dengan keadaan. Berbagai karya tetap ia lakukan. Ia menulis puisi. Ia juga mencari beberapa puisi lamanya yang rencananya akan ia terbitkan dengan judul “Kisah Penjaga Danau”. Sesekali menjadi pembicara di berbagai webinar.

Karena covid, berbagai rencana yang sempat dijadwalkan harus ditata ulang lagi. Bahkan, rumah sewa untuk kepentingan grupnya (Pusat Latihan Opera Batak/PLOt) yang biasa disewa sekaligus 2 tahun menjadi 1 tahun. “Seharusnya Agustus ini Opera Batak akan berangkat ke Austria, Kroasia, dan Jerman,” kata Thompson Hs.

Namun, secara resmi, dari pihak Austria, rencana itu sudah ditunda. “Ditunda hingga tahun depan,” tambah Thompson Hs. Padahal, berbagai pra-acara sebelum kunjungan Opera Batak ketiga negara itu sudah sempat juga dijadwalkan, seperti dengan ISI Padang Panjang yang didorong dari dana hibah Kemenristek. Namun, acara ini pun mungkin akan disesuaikan.

Seniman memang betul-betul terdampak Covid. Pendapatan mereka tak tetap. Karya mereka juga tak bisa laris di pasaran, apalagi di masa seperti ini. Perlu gotong royong dan kemauan berbagi dari para jutawan. Seniman bukan tak berkarya. Mereka kadang live streeming, seperti yang dilakukan Octa dan kawan-kawan melalui Sanggar Sitopaksada.

Sementara itu, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud mencatat 58 ribu seniman di seluruh Indonesia ikut terdampak COVID-19. Dari berbagai sumber disebut, akan ada 27 ribu seniman yang mendapat bantuan tunai Rp 1 juta. Ini merupakan skema bantuan pertama, sedangkan bantuan kedua menggunakan skema lain, seperti bekerja sama dengan pemerintah daerah atau Kemensos. Seniman adalah penjaga kewarasan negeri ini. Karena itu, adalah pantas mereka dipikirkan bersama

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Warga Pulau Tidung Kembangkan Budidaya Ikan Lele

Read Next

Update Virus Corona 21 Juli 2020 Semua Provinsi Indonesia