Sendang Blender Budaya Khas Warga Dukuh Plosorejo

Konfirmasitimes.com-Jakarta (20/07/2020). Sambil membawa makanan dalam wadah yang dibungkus daun dan kain, warga dukuh Plosorejo Desa Nglangitan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah mulai berdatangan ke sendang Blender.

Para warga akan melaksanakan hajatan (kenduri) dalam rangka sedekah bumi di wilayah setempat. Sebagian besar peserta hajatan di sendang Blender adalah perempuan.

Sendang Blender berada di tengah sawah, tak jauh dari permukiman warga. Sendang itu dipercaya secara turun-temurun sebagai sumber kehidupan karena sumber airnya yang cukup lancar untuk kebutuhan pertanian dan rumah tangga.

Seperti beberapa daerah lain di Kabupaten Blora, Sendang Blender Plosorejo menjadi pusat untuk melaksanakan acara tradisi tahunan setelah panen padi dan hasil pertanian lainnya.

Tak berselang lama setelah warga berkumpul dan menata makanan, Sukemi (60) salah seorang tokoh yang dituakan memimpin doa sambil bersandar di tembok mulut sendang Blender.

Sukemi berdoa dengan mengucap syukur dan memohon keselamatan kepada semua warga dukuh Plosorejo supaya aman dari gangguan, terhindar penyakit khususnya wabah Covid-19.

Selanjutnya, Sukemi kemudian mempersilakan warga untuk membagi makanan seperti nasi dan lauk, dumbek, pasung, bugis, rengginang serta buah pisang. Aneka makanan itu sengaja dibuat oleh warga setiap acara sedekah bumi.

“Sedekah bumi atau gas deso ini sudah lama dilaksanakan setelah panen padi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberi rejeki melimpah. Semoga untuk tahun depan rejekinya juga melimpah, diberi kesehatan dan wabah Corona ini segera sirna,” jelas Sukemi dalam keterangannya pada Minggu (19/07/2020).

Setelah warga saling berbagi makanan, mereka pulang dengan riang sambil membawa berkat hajatan. Namun sebelum beranjak dari tempat duduk, warga dipersilakan mengisi uang seikhlasnya pada wadah yang disiapkan. Hasil sumbangan itu dikumpulkan untuk kas kegiatan.

Sukemi menjelaskan, keberadaan sendang Blender berdasarkan cerita tutur pada mulanya adalah sebuah belik, namun sumber airnya cukup besar sehingga oleh pemerintah Desa Nglangitan, belik itu dibangun permanen dengan mulut sumur yang berdiameter lebih kurang tiga meter dan dibangun rumah untuk berteduh.

“Pada mulanya sumur belik, kemudian dibangun pemerintah desa tahun 1997, sehingga menjadi lebar dan bagus. Airnya juga masih lancar dan cukup untuk kebutuhan pertanian seperti menyiram tanaman jagung dan dipasang pompa dialirkan ke rumah warga,” terang dia.

Hanya saja, dirinya tidak tahu asal mula siapa yang pertama kali memberi nama sendang Blender itu.

“Namun ada warga yang percaya, misalnya ketika sakit parah datang ke sendang Blender kemudian membasuh dengan air tak lama kemudian sembuh,” ungkap dia.

Setelah sembuh, orang itu datang kembali sambil membawa panggang ayam ditaruh di pinggir sendang dan mengucapkan terima kasih kepada penunggu sendang Blender.    

Sementara itu, Suyono (61), salah seorang warga dukuh Plosorejo, mengatakan dari cerita tutur yang diketahui, bahwa sumber air di sendang Blender, dahulu sangat besar sehingga ditutup dengan ijuk.

“Dari cerita yang saya dapat, sumber airnya cukup besar, kemudian ditutup ijuk. Meski demikian sumbernya masih cukup deras sampai sekarang dimanfaatkan oleh warga,” ujar dia.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

GMKI Temui PTPN II terkait Konflik Eks HGU PTPN Yang Tak Kunjung Usai

Read Next

Dibuka Pendaftaran e-Learning Zakat dan Wakaf