Abu Nawas dari Kehidupan Bebas, Al i’tiraf hingga Husnul Khotimah

Konfirmasitimes.com-Jakarta (17/07/2020). Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi

Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi

Wahai Tuhanku. Aku bukanlah orang yang pantas masuk surga, tetapi aku juga tidak kuat dengan api neraka.

Karena itu berikan kepadaku kemampuan bertaubat dan ampuni dosa-dosaku. Karena hanya Engkaulah yang dapat memberikan maaf atas dosa-dosa yang besar.

Saat Gus Dur wafat 4 tahun silam, salah satu stasiun televisi kerap memperdengarkan suara Gus Dur melantunkan syair Al I’tirof dengan suara yang mendayu-dayu, serta menampilkan gambar kenangan-kenangan Gus Dur saat masih hidup.

Syair Al I’tirof diciptakan oleh pujangga besar Arab masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, Al Hasan bin Hani al-Hakami, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Nawas. Abu Nawas sendiri adalah penyair kepercayaan Raja Harun Al Rasyid.

Abu Nawas dikenal sebagai pribadi yang cerdas, jenaka, tapi kadang suka melakukan hal yang aneh-aneh. Banyak cerita lucu terkait dengan kisah Abu Nawas ini. Sosok Abu Nawas kerap dikait-kaitkan dengan Gus Dur, sebab Gus Dur adalah satu penyuka syair-syair Abu nawas di Indonesia.

Gus Dur ternyata juga mengoleksi banyak syair karya Abu Nawas. Bahkan, konon cucu pendiri Nahdlatul Ulama tersebut sampai hafal 2.000-an bait syair Abu Nawas.

“Biasanya beliau sambil jalan, sambil melafalkan syiiran Abu Nawas yang saat itu beliau masih hafal 2.000-an bait. Setiap syair yang dibaca dengan lantunan khas, diterjemahkan, dieksplor,” kata Khofifah dalam rilisnya kepada media tak lama setelah Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009 silam.

Siapakah Abu Nawas?

Dia adalah Al-Hassan Bin Hani Al-Hakami, sementara Abu Nawas adalah nama keluarganya, dan dia lahir di tahun 145 H. Ayahnya adalah seorang prajurit di pasukan Khalifah Marwan bin Muhammad, yang merupakan khalifah Ummaiyyah terakhir di Damaskus, dan ketika pasukan khalifah dikalahkan, ayahnya pindah ke Irak untuk tinggal di Irak.

Abunawas baru berusia dua tahun pada waktu itu, tetapi ayahnya meninggal pada usia muda, dan ibunya merawatnya serta membesarkannya.

Dilansir dari wikipedia (http\\www.wikipedia.org) Beliau bernama lengkap Abu Nawas Al-Hasan bin Hini Al-Hakami, lahir pada 145 H (747 M) di Persia tepatnya di kota Ahvaz. Ayahnya bernama Hani Al-Hakam, yang berasal dari Arab dan merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol.

Abu Nawas hidup pada masa Bani Abbasiyah dan menjadi penyair humoris pada masa pemerintahan Khilafah Abbasiyah (762-814M/145-199H), era pemerintahan Sultan Harun Al-Rasyid Al-Abassi, Sejak kecil ia sudah yatim, ibunya kemudian membawanya ke Bashrah (Irak). Di kota Bashrah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Dia suka menghadiri forum bisnis sejak usia muda, karena dia bekerja sebagai perfumer, setelah pekerjaannya selesai, kemudian dia pergi ke perpustakaan dan Al-Attar, bekerja dengannya, pada ahirnya yang mendorong Abunwas menghafal Al-Qur’an dan juga mempelajari jurisprudensi dan interpretasi.

Dia bertemu dengan penyair Kofi terkenal bernama Al-Baba ibn Al-Habab, dia pergi bersamanya ke Kufa, dan dia juga terkenal gila, Khula’a (bebas-red) dan minum anggur, dan Abunawas belajar puisi dan pergaulan bebas dari dia juga.

Ketika Abunawas kembali ke Basra, ia bertemu dengan penyair Khalaf Al-Ahmar, yang mengajarinya puisi yang membuatnya memiliki sudut bahasa dan sastra, karena ia biasa memberikan 30 puisi dari puisi kuno untuk menghafalnya, maka ia memintanya untuk melupakannya dan memberinya yang lain sehingga gayanya tidak terpengaruh oleh puisi lama.

Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, pengkhayal ulung, penuh canda, berlidah tajam, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual.

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh akan warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia.

Abu Nawas adalah salah satu penyair yang hidup pada masa dinasti Abbasiyah paling terkenal, puisinya yang indah, yang membuatnya sangat terkenal, dan menjadikannya teman raja dan penyair kerajaan.

Abu Nawas mendapatkan posisi penting di antara khalifah Abbasiyah Harun al-Rashid dan putranya yang setia, namun ia beberapa kali dipenjara atas perintah Harun al-Rashid dan putranya yang setia karena kata-katanya yang kasar.

Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah menjadi religius. Puisi berisi tentang syair pengingat dosa dan kematian yang di karang Abu Nawas, boleh dibilang begitu melegenda, seperti nama besar pengarangnya Abu Nuwas yang hingga kini tetap dikenang dan diperbincangkan semua kalangan di timur dan dibarat, muslim ataupun non muslim.

Dia juga dikenal sepanjang hidupnya karena keanehannya dan mengumbar dosa sampai dia disebut penyair anggur, tetapi dia juga menjadi terkenal karena pertobatannya sebelum kematiannya dan penulis bait-bait puisi yang dianggap sebagai salah satu buku terbaik yang ditulis dalam penebusan dosa dan pengampunan sepanjang zaman yang membuktikan bahwa dia mengahiri hidupnya husnul khotimah (dengan ahir yang baik-red).

Meski syair itu telah berumur hampir 11 abad, namun tampaknya tetap akan abadi. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan.

Teks Syair 

إِلَهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلًا # وَلَا أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ

فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِيْ # فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ

ذُنُوْبِيْ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً يَاذَا الْجَلاَلِ

وَعُمْرِيْ نَاقِصٌ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ # وَذُنُبِيْ زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

إِلَهِيْ عَبْدُكَ الْعَاصِيُّ أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

وَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ # وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْ سِوَاكَ

Ilaahi lastu lil firdausi ahlan #Walaa aqwa alannaaril jahiimi

Fahablii taubatan waghfir dzunuubii #Fainnaka ghaafiru dzambil azhiimi

Dzunuubi mitslu a’daadir rimali #Fahablii taubatan Yaa Dzal Jalaali

Wa’umri naaqishun fii kulli yaumi #Wa dzambil zaidun kaifah timaali

Ilaahii ‘abdukal ‘aashi ataaka #Muqirran bidzdzunuubi waqad d’aaka

Fa in taghfir lidzaaka ahlun #Wa in tadrud faman narjuu siwaaka 

Terjemahan Syair

Ya Tuhanku, aku pantas menjadi penghuni surga-Mu #  Namun, aku juga tidak kuat dengan siksa api neraka

Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku #Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar

Dosa-dosaku laksana butiran pasir #Maka terimalah taubatku Wahai Pemilik Keagungan

Sisa umurku berkurang setiap hari #Dan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu #Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu

Seandainya Engkau mengampuni, memang Engkaulah Pemilik Ampunan #Dan seandainya Engkau menolak taubatku, kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain hanya kepada-MU.

Gaya Bahasa dalam Syair AlI’tiraf

Pembahasan Syair taubat Abu Nawas yang berjudul “Al-I’tiraf”, merupakan puisi penyesalan beliau atas dosa-dosa yang telah ia perbuat selama hidupnya.

Telaah terhadap syair Abu Nawas “Al-I’tiraf ” ini menganut teori Al-Hasyim (dalam Mahliatussikah, 2015) melalui ‘aqlykhayaly, ‘athify dan fanny yang dipadukan dengan teori struktural Sangidu (dalam Mahliatussikah, 2015) melalui tema dan bangunan, daya bayang dan daya imajinasi, diksi atau pilihan kata dengan sentuhan makna dan pilihan kata dengan sentuhan bunyi atau rima dan irama.

Unsur ‘Aqly

Syair Abu Nawas yang berjudul “Al-I’tiraf” diatas dibangun dalam 6 bait, dengan mathla’nya yang berbunyi:

إلهي لست للفردوس أهلا # ولا أقوى على نار الجحيم

Kepiawaian penyair dengan merendahkan dirinya dalam menuliskan syair menunjukkan adanya makna istirham yang tersimpan dalam kalam khabar. Dua ungkapan tersebut dihubungkan dengan wawu washol, pada ungkapan kedua terdapat lafadz النار yang memiliki makna berlawanan dengan lafadz فردوس pada ungkapan pertama, dimana dalam ilmu balaghah disebut aththibaaq.

فهب لي توبة واغفر ذنوبي # فإنك غافر الذنب العظي

Ungkapan pertama pada bait ini merupakan bentuk kalam insya’ thalabi yaitu bentuk amr, sedangkan pada ungkapan kedua merupakan bentuk kalam khabar, namun pada ungkapan kedua ini diawali dengan fa’ amr karena dlorurotusy syi’r. Ungkapan فهب لي توبة dan واغفر ذنوبي merupakan bentuk ithnab yakni pengulangan makna yang sama dalam konteks yang berbeda.

ذنوبي مثل أعداد الرمال # فهب لي توبة ياذا الجلال

Dalam bait ketiga ini ungkapan pertama merupakan bentuk kalam khabar dan ungkapan kedua merupakan bentuk kalam insya’ thalaby yang berupa amr.

وعمري ناقص في كل يوم # وذنبي زائد كيف احتمال

Dalam bait keempat ini ungkapan pertama merupakan kalam khabar, sedangkan ungkapan kedua merupakan bentuk kalam insya’ thalabi bentuk istifham bermakna istirham, dua ungkapan tersebut dihubungkan dengan wawu washol, dalam bait ini terdapat bentuk thibaq yaitu lafadz ناقص dan زائد. ungkapan كيف احتمال merupakan jawab dari ungkapan   وذنبي زائد # وعمري ناقص في كل يوم 

إلهي عبدك العاصي أتاك # مقرا بالذنوب وقد دعاك

Dalam bait kelima ini terdapat dua kalimat yang mempunyai kedudukan yang sama dalam i’rabnya yang dalam ilmu balaghah dinamakan isytirak fi mahalli ali’rab, kedua ungkapan ini merupakan bentuk kalam khabar.

 وإن تغفر فأنت لذاك أهل # وإن تطرد فمن نرجو سواك

Dalam bait keenam ini ungkapan pertama dan kedua merupakan bentuk kalam khabar. Pada ungkapan pertama ungkapan فأنت لذاك أهل merupakan jawab dari وإن تغفر sedangkan pada ungkapan kedua ungkapan فمن نرجو سواك  merupakan jawab dari وإن تطرد.

Unsur Khayaly dan ‘Athify

Upaya menjaring pesona pembaca terhadap pesan yang dikemukakan dalam puisi I’tiraf antara lain dengan variasi bentuk perbandingan atau tasybih.

a)      Pada bait kedua terdapat bentuk tasybih dlimni,فهب لي توبة واغفر ذنوبي # فإنك غافر الذنب العظيمPada bait diatas ungkapan kedua merupakan hujjah dari ungkapan pertama.

b)      Pada bait ketiga terdapat bentuk tasybih ghoiru tamtsily yaitu pada ungkapan ذنوبي مثل أعداد الرمال yang wajah syabahnya adalah sesuatu yang tidak terbatas.

Unsur fanny

Syair I’tiraf merupakan kategori puisi semi modern karena diikat oleh irama atau bahr yang sama dan bunyi akhir atau qafiyah yang beragam. sedangkan qofiyah yaitu jama’nya qowafi artinya tengkuk atau belakang leher, secara istilah adalah bagin (taf’ilah) terakhir dari suatu bait, yang dihitung mulai dari dua huruf mati yang terakhir dan satu huruf hidup yang ada sebelum kedua huruf mati tersebut. 

  • Bait pertama dan kedua berqafiyah mimiyah
  • Bait ketiga dan keempat berqafiyah lamiyah
  • Bait kelima dan keenam berqafiyah kafiyah

Pada bait ketiga terdapat kata الرمال dan الجلال , pada bait kelima terdapat kata أتاك dan دعاك.

Puisi I’tiraf ini diawali dengan bait: إلهي لست للفردوس أهلا # ولا أقوى على نار الجحيم bisa dikategorikan sebagai bara’atul istihlal atau pesona awal, dan diakhiri dengan bait: وإن تغفر فأنت لذاك أهل # وإن تطرد فمن نرجوسواك Bisa dikategorikan sebagai bara’atul ikhtitam atau pesona akhir.

Husnul Khotimah

Sahabat Abu Nawas, Abu Khalikan, menuturkan (dalam Wafiyatul A’yan 2:102) bahwa sebelum wafatnya, Abu Nawas menulis bait-bait syair yang ia sembunyikan di bawah bantal.

Abu Khalikan menceritakan bertemu Abu Nawas dalam mimpi dimana ia berkata, “Wahai Abu Nawas, apa balasan Allah terhadapmu?”

Abu Nawas menjawab, “Allah Mengampuni dosaku.”

Abu Khalikan kemudian mendatangi kediaman keluarga Abu Nawas, ia menemukan secarik kertas berisi syair di bawah sebuah bantal.

Di antara penggalan bait syair yang ditulis Abu Nawas berbunyi:

Wahai Tuhanku, Jika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja,

Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon?

Aku tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali sebuah pengharapan,

Juga bagusnya pintu maaf-Mu, kemudian aku seorang muslim.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Update Virus Corona 17 Juli 2020 Semua Provinsi Indonesia

Read Next

Vonis Rendah Penyerang Novel Tuai Kecaman, Dinilai Hanya Sandiwara