Terungkap, Peran Penting Istri Dalam Sidang Lanjutan Pendeta Cabul di Surabaya

Konfirmasitimes.com-Surabaya (16/07/2020). Sidang pendeta cabul di Surabaya, Hanny Layantara di Pengadilan Negeri Surabaya(PN), Kamis (16/07/2020) kembali bergulir. Dengan sidang tertutup, agenda yang saat ini digelar adalah keterangan dari saksi, termasuk istri terdakwa yang berinisial AN.

“Kami dalam mendengarkan kesaksian dari saksi kami hadirkan dua saksi lagi. Selain istri terdakwa juga pembantu rumah tangga dan penjaga gereja. Mereka kami hadirkan karena menurut hemat kami mengetahui peristiwa tersebut,”ungkap JPU Rista Erna ditemui di PN Surabaya, kamis (16/07/2020).

Diungkapkan oleh Rista Erna, dari keterangan saksi yaitu pembantu dan penjaga gereja, saat itu mereka dipanggil kelantai empat gereja.

“mengetahui kalau korban dipanggil pelaku untuk diminta membuat makanan,” jelasnya.

Sedangkan juru bicara korban, Bethania mengatakan  untuk istri pelaku (AN), sengaja dihadirkan di persidangan karena yang bersangkutan saat itu berhubungan intens dengan korban. “Jadi istri pelaku ini pasti tahu tentang petistiwa pencabulan ini,” katanya.

Dibeberkan oleh Bethania, bukti istri pelaku mengetahui adanya perbuatan cabul tersebut, yaitu orang tua korban diminta untuk tidak membuka kasus pencabulan tersebut  ke publik.

“Karena kenal, lalu istri pelaku minta orang tua korban tak membukanya di publik.Permintaan itu disampaikan saksi AN saat bertemu orang tua korban di salah satu hotel di Jalan Yos Sudarso, Kota Surabaya,” jelasnya.

Bethania menambah pihaknya berharap majelis hakim memutus perkara tersebut seadil-adilnya dan menghukum terdakwa dengan hukuman berat mengingat beban psikologis yang harus disandang oleh korban akibat perbuatan cabul dari terdakwa.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pendeta  Gereja Happy Family Center di Surabaya bernama Hanny Layantara dilaporkan salah satu jemaatnya karena melakukan perbuatan cabul. Korban yang berinisial IW, melalui juru bicara keluarga melapor ke SPKT Polda Jatim dengan nomor LPB/ 155/ II/ 2020/ UM/ SPKT, pada Rabu 20 Februari 2020.

Berdasarkan keterangan korban, peristiwa pencabulan berlangsung selama 14 tahun, saat korban masih berusia 12 tahun  dan korban saat ini berusia 26 tahun.

Atas ulahnya tersebut, pelaku ditetapkan sebagai tersangka dan dianggap melanggar Pasal 82 Undang-Undang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara dan atau Pasal 264 KUHP dengan ancaman hukuman hingga 9 tahun penjara.

Selama menjalankan aksinya Pendeta Hanny Layantara mengancam korban akan menghancurkan hidupnya jika melaporkan perbuatannya kepada siapapun termasuk orang tuanya.

Aksi bejat yang dilakukan pendeta tersebut dilakukan di ruang tamu dan kamar tidurnya di lantai 4 gereja Happy Family Center.

Dalam aksinya, pendeta Hanny Layantara memaksa memeluk korban, kemudian memaksa untuk telanjang, mencium badan korban, menyuruh korban memegang kemaluan pelaku.Tak hanya itu, lebih bejat lagi korban dipaksa untuk mengulum kelamin pelaku hingga keluar sperma dan memaksa korban untuk menelan sperma dari pelaku.

Atas laporan ini, pelaku ditetapkan sebagai tersangka dan dianggap melanggar Pasal 82 Undang-Undang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara dan atau Pasal 264 KUHP dengan ancaman hukuman hingga 9 tahun penjara.

Sekedar diketahui, Pasal 82 UU Perlindungan anak berbunyi:

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Hana Hanifah Sudah Bisa Tertawa

Read Next

Viral, Istri Curhat Suami Direbut Pelakor