Diskusi Reyog dalam Kacamata Anak Muda

Diskusi Reyog dalam Kacamata Anak Muda

Konfirmasitimes.com-Ponorogo (16/07/2020). Kopi acapkali menjadi teman akbar diskusi. Begitu pula diskusi  bertajuk “Kacamata Anak Muda Melihat Reyog” yang diadakan pada hari Jum’at 3 Juli 2020 di cafe Dialog Nusantara yang berada di Jalan Pramuka 99, Ponorogo, Jawa Timur. Diskusi yang memantik pemuda untuk bersuara prihal budaya asli Ponorogo ini dirasa menjadi paradigma baru dalam membincang Reyog Ponorogo.

Nasib seniman di masa pandemi tak bisa lepas dari pembahasan diskusi. Dampak pandemi bagi para seniman itu mengawali diskusi. Ridwan Miftakhul Aji seorang koreografer tari pemantik pertama diskusi menuturkan kehidupan seniman yang di uji saat pandemi.  

“Budaya harus dilestarikan meskipun Covid-19 sedang melanda. Dengan begitu seniman harus mencari cara mengembalikan semangatnya. Ibarat kata, sekarang ini seniman berada di sudut mata paling luar bahkan tak lagi dipandang. Dengan kata lain seniman dipandang sebelah mata,” Papar Ridwan Miftakhul Aji sebagai pemantik pertama diskusi.

Acara yang digelar ini menjadi salah satu acara yang menampung persepektif anak muda dalam memandang kebudayaan yang berada di Ponorogo. Alif selaku salah satu pemilik Cafe Dialog Nusantara menuturkan ketika dipandang lebih rinci ternyata budaya Ponorogo sangat kaya. Namun, minimnya penelitian yang berada di Ponorogo menyebabkan seolah-olah budaya Ponorogo kurang tergali.

“Setelah dirinci secara mendalam, ternyata Ponorogo itu sangat kaya akan budaya. Tinggal kita sebagai warga Ponorogo sebisa mungkin lebih explore budaya Ponorogo dan mengobrolkannya di warung-warung kopi,” Tutur Alif.

Selain, perspektif seniman muda dalam acara ini pula dihadirkan berbagai pemantik diskusi yang turut serta terinspirasi oleh budaya ponorogo seperti Randha pemilik usaha Warok Tour yang mewujudkan usaha lewat imajinasi warok serta Najih pemilik usaha distro Culture Prabu dengan menawarkan berbagai macam imaji budaya Ponorogo lewat design kaosnya. Hal ini dimasudkan untuk memperkenalkan budaya Ponorogo kepada anak muda dengan cara pandang anak muda secara millenial.

Upaya me­-millenial-kan budaya Ponorogo ini dilakukan oleh beberapa pemuda yang notabene tergabung dalam paguyuban Kakang Senduk Ponorogo. Contohnya dengan membuat suatu gebrakan dalam grebeg suro dengan membuka Volunter Grebeg Suro, seperti yang dituturkan Hamid.

Dengan adanya Volunter Grebeg Suro acara tahunan Kabupaten Ponorogo dibuat lebih millenial. Salah satunya dengan menawarkan Kategori tiket untuk menyaksikan pertunjukan Reyog Ponorogo. Hamid salah satu pemantik diskusi mengatakan bahwa untuk menjadikan Grebeg Suro suatu pertunjukan yang akrab dengan anak muda adalah dengan mem-branding­Grebeg Suro di media sosial. Dengan begitu Grebeg Suro lebih mempunyai marwah di mata anak muda.

Branding festival Grebeg Suro menjadi sebuah festival yang mahal (bermarwah). Sesuai alam pikiran anak muda,” Kata Hamid.

Selain itu CFD (Car Free Day) sebagai ajang olahraga dan berkumpul anak muda di hari minggu mereka jadikan cara untuk memperkenalkan Reyog Ponorogo. “Ketika geliat kesenian ditampilkan di CFD, ternyata antusiasme masyarakat banyak.” Tutur Agung mahardika sebagai pemantik diskusi yang juga pelau tari Reyog.

Disamping itu, sebagai salah satu anak muda yang tergabung dalam Yayasan Reyog Indonesia Najih pun memberitahukan upaya yang dilakukan Yayasan Reyog dalam menyelesaikan permasalahan Reyog yang tak kunjung diakui oleh UNESCO.

“Saat ini Yayasan Reyog melakukan registrasi Cekathak-an (Dadak Merak) bekerjasama dengan BKSDA. Rencanaya akan dilakukan seluruh indonesia. Juga prihal standarisasi dalam pertunjukkan,” Tuturnya.

Acara perdana yang digelar di Cafe Dialog Nusantara ini terinspirasi oleh kebiasaan Alif (Saifudin Alif) yang hobi diskusi di warung kopi.  “Saya suka ngopi. Fenomena di warung kopi terkadang obrolannya ngalor-ngidul (tak terarah). Kenapa ngopi tidak disisipi dengan hal yang bermanfaat, contohnya pembahsan prihal budaya.” Turutnya.

Cafe yang didirikan Saifudin Alif dan Willy ini terisnpirasi oleh cafe-cafe yang berada di Yogyakarta. Cafe Dialog Nusantara sengaja diperuntukkan sebagai cara yang lebih santai mengembangkan pengetahuan. “Ilmu pengetahuan akan lebih menyenangkan disampaikan di tempat-tempat seperti ini,” Kata Willy.

Selain diskusi yang rencananya akan diadakan runtin, cafe Dialog Nusantara berencana mengadakan kegiatan lain seperti kursus Bahasa Inggris dan coaching clinic penulisan skripsi dan tesis. “Kegiatan lain di cafe di hari sabtu dan rabu ada kursus Bahasa Inggris  dan coaching clinic khusus tesis dan skripsi setiap hari senin. Sebagai langkah kami (Alif dan Willy) mengamalkan ilmu yang kami dipunyai” Imbuh Alif.

Mereka (Alif dan Willy) berharap dengan adanya wadah kegiatan ini masyarakat Ponorogo akan lebih literer. Dan update dengan isu-isu yang ada.

“Harapan kami masyarakat Ponorogo bisa lebih literer dan pemahaman literasinya lebih meningkat. Cafe bisa terpahamkan bukan hanya tempat selfie tapi untuk ajang menambah wawasan. Rencanya hasil diskusi setiap bulan akan ditulis lalu diterbitkan,” Pungkasnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Disnakertrans Jakarta Timur Buka Pelatihan Soft Skill Bagi Pekerja Kena PHK

Read Next

Kejaksaan Sumedang Musnahkan Barang Bukti Ini, Berharap Ada Efek Jera Bagi Pelaku Pidana