Ruwatan Kabupaten Ponorogo Wujud Doa Terhindar Dari Wabah Covid-19

Ruwatan Kabupaten Ponorogo Wujud Doa Terhindar Dari Wabah Covid-19

Konfirmasitimes.com-Ponorogo (15/07/2020). Berawal dari kegelisahan Ki Suyatno Gondo Darsono, sesepuh dalang Ponorogo yang gelisah dengan adanya virus Covid-19 yang tak kunjung reda. Terbersitlah ide untuk mengadakan ruwatan Kabupaten Ponorogo. Hari Minggu pagi (12/07/2020) ruwatan Kabupaten Ponorogo pun dilaksanakan di Gedung Padhepokan Reyog Jalan Pramuaka Kabupaten Ponorogo.

“Awalnya, ide ini berasal dari bapak. Lalu, disampaikan kepada Ketua Pepadi Ponorogo, Sindhu Prawoto. Akhirnya, kegiatan ini pun disetujui oleh pemerintahan kabupaten Ponorogo,” Tutur Novi putri Ki Suyatno.

Ki Gondo Kawit sebagai dalang pada acara ruwatan kali ini mengambil lakon Murwakala yang umum dipentaskan dalam acara ruwatan. Pagelaran wayang kulit dengan durasi waktu sekitar 4 jam ini diperuntukkan sebagai wujud doa supaya masyarakat Ponorogo terhindar dari Virus Covid-19. Apalagi melihat kasus Positif Covid-19 di Ponorogo yang meningkat tajam menjadi 77 kasus. Hal ini pula yang disampaikan Wakil Bupati Ponorogo Soedjarno.

“Rekor kenaikan pasien positif Covid-19 ada di minggu ini yakni 77 kasus,” Kata Wakil Bupati Ponorogo.

Meskipun kasus penularan Covid-19 di Ponorogo semakin meningkat, pemerintahan kabupaten Ponorogo telah merencanakan penerapan new normal dalam menata kehidupan masyarakat termasuk kegiatan budaya seperti pagelaran wayang kulit dalam rangka ruwatan Kabupaten Ponorogo hari Minggu (12/07/2020) ini.

“Ruwatan sedari kecil sudah akrab dengan saya. Di acara bersih desa dan acara-acara lain, ruwatan adalah tradisi masyarakat untuk memohon do’a kepada Sang Pencipta. Apalagi dengan mewabahnya virus Covid-19 ini. Ponorogo telah menerapkan new normal dalam tata kehidupan masyarakat. Dengan begitu, kesadaran masyarakat dan penyelenggara pagelaran budaya tetap harus menerapkan prosedur kesehatan dalam masa pandemi Covid-19,” Wakil Bupati Ponorogo Soedjarno mengingatkan dalam sambutanya.

Serupa kegiatan budaya yang lain, nantinya seluruh kegiatan budaya di kabupaten Ponorogo secara perlahan akan diselenggarakan dengan tetap menjalankan prosedur kesehatan di masa Pandemi Covid-19. Termasuk Pepadi Ponorogo yang rencananya tetap akan menyelenggarakan peringatan hari wayang dunia pada 7 November mendatang.

Dalam acara tersebut hadir pula seluruh anggota Pepadi Ponorogo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta perwakilan dari pemerintahan Kabupaten Ponorogo. Masyarakat pun antusias menyaksikan pagelaran wayang dalam rangka ruwatan Kabupaten Ponorogo, meskipun kapasitan penonton dibatasi. Pembatasan penonton ini tak lain sebagai langkah panitia menerapkan prosedur protokol kesehatan dalam acara pagelaran budaya.

Wakil Bupati Ponorogo berharap penerapan new normal dalam pagelaran budaya ini kelestarian budaya tetap terjaga dan keselamatan masyarakat Ponorogo semakian meningkat “Kita hanya bisa berharap semoga kelestarian budaya dan keselamatan masyarakat Ponorogo semakin meningkat”.

Sangat disadari selain sektor ekonomi para seniman pun ikut terdampak Covid-19. Hampir seluruh seniman yang berada di Ponorogo terhenti ekspresi seninya. Pandemi yang terjadi mengakibatkan seluruh seniman, khususnya seniman wayang kulit tak bisa menggelar acara daalam melestarikan eksistensi wayang kulit sebagai warisan budaya asli Indonesia.

Seniman niku mboten mati seumpami kurang pangan, nanging mati yen mboten tanggapan! (Seniman itu tak akan meninggal kekurangan pangan, nanging meninggal kalau tak bisa pentas),” Candaan Ki Suyatno dalam sambutannya.

Dasar inilah yang membuat Pepadi bertekad kuat mengadakan ruwatan. Selain sebagai wujud doa memohon keselamatan, pagelaran wayang kulit dalam rangka ruwatan kabupaten Ponorogo ini dapat sedikit mengobati rasa rindu para seniman mulai dari sindhen, pemain gamelan dan dalang wayang kulit sendiri.

“Kami punya tekad kuat, sehingga acara ini dapat terselenggara. Semoga dengan diadakannya pangruwatan, masyarakat bisa mendapatkan keselamatan terhindar dari Covid-19,” Pungkasnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Peresmian Kampung Tohaga Lodaya di Dusun Cipeteuy

Read Next

Khitanan Gratis untuk Warga Semarang