Mengapa Sekolah Vokasi tak Diminati?

Mengapa Sekolah Vokasi tak Diminati?

Konfirmasitimes.com-Sumut (15/07/2020). Pendidikan vokasi kurang diminati oleh calon siswa. Sampai-sampai, sistem zonasi tak diterapkan ke sekolah berlabel zonasi, seperti SMK.

Zonasi hanya diberlakukan untuk sekolah umum saja. Ini menyiratkan, sekolah vokasi tak diminati.

Padahal, pada akhirnya, siswa bersekolah agar bekerja.

Bekerja butuh skill. Dan, di Sekolah Vokasi, seperti Sekolah Menengah Kejuruan, skill lebih diutamakan daripada pengetahuan. SMK fokus pada skill dan SMA pada pengetahuan. Namun, mengapa SMK justru tak diminati?

Dalam “Bincang Edukasi” yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Republik Indonesia, Guru Besar ITB, Iwan Pranoto menyarankan, sekolah vokasi harus lebih ditajamkan, seperti dengan membuat sertifikasi profesi supaya perbedaan antara sekolah umum dan vokasi terlihat terang.

Sebab, konon, seperti dikatakan Iwan Pranoto, saat ini sekolah vokasi seperti kehilangan arah dan identitas. “Keadaan sejarang. Semoga kita berubah. Banyak sekolah dan institusi vokasi yang sebetulnya menjalankan sekolah umum,” kata Iwan (11/07/2020).

Ia kemudian mencontohkan sebuah SMK khusus kelautan di Madura yang justru diajari oleh guru SMA biasa. Selain itu, permasalahan lain yang dicontohkan Iwan, SMK Kejuruan kelautan tersebut tidak punya alat peraga, seperti kompas, bahkan sampan.
Sekolah umum dan sekolah kejuruan seharusnya berbeda sehingga dibedakan. Hanya saja, belakangan perbedaan kedua sekolah ini semakin tidak ada. 

“Ke depan, sepertinya akan menghilang. Batasannya akan semakin tipis. Yang umum ingin seperti vokasi, dan begitu sebaliknya,” jelas Iwan. Karena itu, tambah Iwan, pendidikan vokasi harus mengembangkan kecakapan diri seiring kemajuan dunia industri.

Mau tak mau lulusan vokasi harus senantiasa belajar. Sepaket dengan itu, Iwan juga menegaskan, sekolah kejuruan sudah harus berbenah karena banyak jurusan yang tidak terlalu dibutuhkan lagi untuk dunia vokasi.

“Satu hal lagi, yang ingin saya lungkapkan itu, pendidikan vokasi itu harus menyeleksi lagi sekarang. (Sebab,) ada kejuruan-kejuruan yang kemungkinan sudah dekat dengan tenggelam. Pada titik dekat dengan ,” jelasnya.

Lebih lanjut, Iwan menyebutkan, akan ada jurusan-jurusan baru yang saat ini lebih dibutuhkan untuk dikembangkan. “Tetapi, ada pekerjaan-pekerjaan yang memang kemungkinan justru akan semakin dibutuhkan. Ini butuh tangan dingin Pak Dirjen di sini,” saran Iwan Pranoto.  

Menanggapi itu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto mengakui hal itu. “Memang betul ada SMK yang harus empoyer, afirmasi. Kalau jurusan yang jenuh (maksudnya tidak relevan lagi) tidak akan diperpanjang lagi,” jelas Dirjen. Dirjen menyebutkan, SMK maritim bukan jurusan jenuh karena memang, Indonesia daerah maritim.

Lebih lanjut, Dirjen Wikan pun menjelaskan nantinya akan dibentuk kebijakan mengenai kurikulum yang lebih fleksibel.  Sehingga, kurikulum pendidikan vokasi dapat mengikuti perkembangan industri. 

“Kurikulum ke depan adalah kurikulum yang fleksibel. Kurikulum yang nanti akan dikembangkan sendiri oleh SMK masing-masing sesuai dengan kebutuhannya dan kasus ‘link & match’.  Kita juga merancang pembelajaran yang berbasis project, dengan mengerjakan real project dalam tim sehingga peserta didik akan menerima portofolio dari project tersebut,” jelas Wikan.

Yang terpenting bagi Wikan, program “link & match” diharapkan bisa mencetak banyak SDM yang kompeten dan terserap oleh industri.Wikan menargetkan dalam jangka waktu dua tahun ini lulusan vokasi diserap oleh industri atau masuk ke dunia wirausaha sebesar 80 persen.

“Kalau belum (red: tercapai), berarti kurikulum belum (fleksibel),” jelasnya.Di samping itu, tambah Wikan, lulusan SMK nantinya tidak hanya terhenti pada dunia kerja, melainkan dapat meneruskan pendidikannya. Pasalnya, Ditjen Diksi juga telah mempersiapkan jalur fast track bagi SMK.

Dihubungi secara terpisah, seorang Siswa SMAN di Doloksanggul, Martua Situmorang mengaku tak mau masuk SMK karena tidak diizinkan orang tuanya.

“Saya katanya harus kuliah. Anak STM itu kata bapak bandal-bandal. Jadi, tak diizinkan. Saya pun tak minat,” sebutnya (14/07/2020).

Tampaknya, stigma tak punya masa depan dan vandal sangat melekat pada anak SMK. Perlu kerja keras para pemangku kebijakan untuk mengubah pola pikir masyarakat terhadap sekolah vokasi saat ini. Semoga!

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Persiapan Pendaftaran Tahap Tiga, PPDB Tingkat SMP Kota Padang Dilakukan Secara Manual

Read Next

Antisipasi Karhutla, Lima Daerah Ini Jadi Perhatian Khusus