Kasian; Petani Padi Merugi, Hasil Panen Tidak Maksimal Di Boyolali

Petani Padi Di Boyolali Panen, Hasilnya Kurang Maksimal Karena Tikus

Petani Padi Di Boyolali Panen, Hasilnya Kurang Maksimal Karena Tikus

Konfirmasitimes.com-Boyolali (14/07/2020). Pada musim panen yang jatuh sekitar bulan Juni – Juli, hasil panen padi pada sebagian daerah di Boyolali kurang menunjukkan hasil yang begitu maksimal. Hal ini terlhat khususnya di Kecamatan Banyudono yang selama ini menjadi salah satu sentra padi di daerah tersebut.

Akibatnya banyak petani yang merugi, baik secara modal maupun waktu pengerjaan lahan. Hal tersebut terlihat dari pantauan awak media konfirmasitimes.com ketika berkunjung ke persawahan tempat para petani memanen padinya. Kurang maksimalnya hasil panen kali ini disebabkan adanya hama tikus yang menyerang sebagian lahan petani padi.

Padi menguning siap di panen
Padi menguning siap di panen

Hama tikus ada, biasanya karena tidak serempaknya masa bercocok tanam para petani. Dengan tidak serempaknya masa tanam maka tikus akan mudah berpindah – pindah dari satu lahan ke lahan yang lainnya. Hal ini juga di alami oleh Bapak Yamin, salah satu petani lokal yang mengalami kerugian ketika masa panen kali ini. Namun begitu, bapak 58 tahun ini tetap merasa bersyukur, meskipun harga panen padinya tidak sesuai yang diharapkannya.

“Alhamdulillah saya masih panen, meskipun tidak sesuai harapan saya. Memang saya akui ada sebagian tanaman padi saya yang terserang hama tikus. Namun jika kita lihat teman – teman petani yang lainnya lebih parah lagi, ada yang sama sekali tidak panen” Ujar Bapak Yamin kepada awak Konfirmasitimes pada Senin 13 Juli 2020.

Masih menurut Bapak Yamin, serangan hama tikus terjadi pada beberapa bulan terakhir, dan tikus tidak hanya memakan bulir padi saja, namun juga termasuk akar dan batang padi, yang berakibat tanaman padi menjadi rusak mulai dari waktu tanaman padi masih muda. Apalagi menjelang panen, bulir – bulir padi yang sudah kelihatan menjadi santapan hama tersebut. Selanjutnya Yamin mengungkapkan jika biasanya sekali panen dapat menjual padinya seharga lebih dari delapan juta rupiah, namun karena hama tersebut, untuk panen kali ini hanya laku tidak sampai lima juta rupiah.

Gabah hasil panen petani berjejer di pinggir sawah
Gabah hasil panen petani berjejer di pinggir sawah

“Biasanya sekali panen, harga padi saya di hargai tidak kurang dari delapan juta oleh para pembeli lokal. Namun untuk panen kali ini, laku tidak lebih dari lima juta rupiah. Tapi ya tidak apa-apa, kita syukuri saja semua pemberian Allah”, ujarnya lebih lanjut dengan muka agak kecewa.

Tersendatnya Distribusi

Selain karena adanya hama tikus, harga gabah di tingkat lokal juga tetap dan tidak ada lonjakan, meskipun banyak stok gabah yang tersedia di penggilingan – penggilingan padi. Hal ini dikarenakan distribusi antar daerah yang belum stabil karena adanya wabah covid-19. Biasanya jika musim panen tiba, para pembeli gabah lokal mampu mendistribusikannya kepada daerah – daerah lain yang belum terjadi panen raya.

Gabah di keringkan di tempat penggilingan padi
Gabah di keringkan di tempat penggilingan padi

“Sekarang distribusi beras ke daerah lain belum berjalan lancar, biasanya kita antar di daerah – daerah yang masih belum tiba musim panennya. Hal tersebut berakibat stok beras di gudang saya sangat banyak, termasuk gabah kering”, Ujar Ibu Sarjono pemilik salah satu penggilingan padi yang biasa mengolah gabah dari petani lokal.

Bu Sarjono melanjutkan meskipun hasil panen padi para petani bagus dan tidak semua terkena hama tikus, karena distribusinya tersendat tetap berpengaruh terhadap harga gabah itu tersendiri. Sebenarnya mereka juga kasihan terhadap nasib para petani, namun karena kondisi yang ada saat ini menjadikan semua memang harus bersabar.

Tumpukan gabah kering di penggilingan padi
Tumpukan gabah kering di penggilingan padi

“Saya kasihan sebenarnya melihat nasib para petani dengan kondisi yang ada saat ini, dan belum berjalan normal, padahal tidak semua hasil panen padi mereka jelek dan terserang hama tikus lho”, ungkapnya lebih lanjut di tempat penggilingan padi miliknya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Masih Zona Biru, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di Bandung Gunakan Sistem Daring

Read Next

Produksi Udang di Paser Kaltim Tetap Cerah