Kali Brantas Di Jatim Tercemar, Ecoton Gelar Aksi Keprihatinan

Kali Brantas Di Jatim Tercemar, Ecoton Gelar Aksi Keprihatinan

Konfirmasitimes.com-Surabaya (14/07/2020). Prihatin terhadap pencemaran Kali Brantas di Jawa Timur (Jatim), Ecoton menggelar aksi di kawasan Jalan Embong Malang Surabaya, Selasa (14/07/2020).

Menurut koordinator Ecoton, Prigi Arisandi mengatakan Kali Brantas termasuk dalam 20 sungai pencemar lautan global. 80% sampah plastik yang ada dilautan berasal dari daratan. Indonesia juga disebut sebagai kontributor pencemaran plastik kelautan terbesar kedua setelah China. Salah satu penyebab melubernya sampah plastik ke Sungai adalah pengelolaan sampah yang buruk di Indonesia.

Dikatakan oleh Prigi, Jombang salah satu kontributor pencemaran di Kali Brantas, Sistem pengangkutan sampah hanya mampu melayani kurang dari 50% wilayah, maka beberapa wilayah Jombang, Kediri dan Mojokerto yang berada di tepi Brantas seperti Ploso banyak ditemukan pemanfaatan sungai sebagai tempat sampah. Temuan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ecoton) Sabtu 11 Juli 2020 menunjukkan jembatan Ploso menjadi salah satu lokasi timbulan sampah.

“Timbulan sampah ini menimbulkan pencemaran baru yang bernama Mikroplastik, Uji kualitas air dengan Mobile Laboratorium Mikroplastik Ecoton Sabtu siang menunjukkan Brantas wilayah Kediri, Jombang dan Mojokerto tercemar Mikroplastik.

“Dari pengamatan kami menggunakan mikroplastik stereo pembesaran 20 kali menunjukan Kali Brantas tercemar mikroplastik wilayah terbanyak ditemukanya mikroplastik ada di Mojokerto terdapat 44 partikel mikroplastik dalam 100 liter air sampel,di Jombang 33/100 liter dan kediri paling sedikit 26/100 liter,” jelasnya.

Senada dengan Prigi, Anggota tim peneliti Mikroplastik ecoton, Kurnia Rahmawati lebih lanjut mengatakan bahwa jenis mikroplastik yang paling banyak dijumpai adalah jenis filamen. mikroplastik jenis filament adalah lembaran plastik kecil yang berasal dari serpihan tas kresek atau botol plastik air minum sekali pakai,” ungkapnya.

“Kondisi kali Brantas di di ketiga lokasi relative bagus kualitasnya namun tingginya kadar TDS atau total dissolved Solid (kandungan ion terlarut) diatas 2000 ppm menunjukkan tingginya ion-ion terlarut termasuk didalamnya logam berat,” ungkapnya.

Anggota Ecoton lainnya, Rafika Aprilianti yang melakukan pengukuran kualitas air bersama team Ecoton, mengatakan bahwa tingginya TDS karena bulan juli memasuki musim kemarau dimana debit air berkurang dan bertambahnya debit polutan Brantas.

“Kegiatan pemantauan kualitas air Ecoton juga mengukur kadar Klorin, ketiga lokasi yang diamati menunjukkan kadar klorin dibawah standar PP 82/2001 tentang pengendalian pencemaran dan pengelolaan kualitas air sebesar 0,03 ppm, adanya kandungan klorin disebuah perairan bersumber dari pemutih, desinfektan, pembunuh kuman dan pembersih lantai. Kandungan klorin di Ploso 0,01 ppm menunjukkan kondisinya masih bagus. Berbeda dengan wilayah Brantas hilir di Surabaya dimana kandungan klorin mencapai 0,2 hingga 0,4 ppm jauh diatas standar PP 82/2001,” jelasnya.

Rafika  mengatakan bantaran sungai dan saluran-saluran air anak sungai Brantas banyak dijumpai sampah plastik. Sampah plastik yang dibuang ke sungai seperti tas kresek, sachet personal care dan sachet makanan, botol plastik, Styrofoam dan bungkus plastik lainnya akan terdegradasi menjadi remah-remah atau serpihan plastik kecil berukuran 0,1 hingga 5 mm yang disebut Mikroplastik.

”Di Jembatan Papar, jembatan Ploso dan jembatan Brawijaya Mojokerto masih banyak ditemukan sampah sachet, tas kresek dan sampah popok menggelantung di tiang jembatan,” jelasnya.

Dibeberkan Rafika, dari temuan team ecoton dibawah jembatan Ploso Jombang menunjukkan banyaknya sampah sachet.

“Sampah sachet minuman ringan, kopi, susu, minuman energy banyak ditemukan dibuang dalam satu kresek besar ada juga onggokan sisa pembakaran sachet dibantaran sungai,” ungkapnya.

Sementara itu dari aksi tersebut, Ecoton mengeluarkan beberapa desakan kepada Pengelolah Sungai Brantas, Pemerintah, Produsen dan Konsumen di Sungai Brantas antara lain:

  • Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai seperti Sedotan, Sachet, Kantong Plastik, Styrofoam, Popok Sekali Pakai dan Botol Plastik.
  • Perlu regulasi pemerintah yang membatasi atau melarang pemakaian plastik sekali pakai (Jakarta sejak 1 Juli 2020 melarang pemakaian tas plastik kresek),
  • Menyediakan tempat sampah khusus untuk jenis Sampah Residu seperti bungkus multilayer, sampah popok bayi dan pembalut wanita.
  • Tanggung jawab produsen yang menghasilkan sampah plastik (Extended Produsen responsibility diatur dalam UU pengelolaan sampah 18/2008 bahwa produsen penghasil sampah harus bertanggungjawab dalam pengelolaan).
Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Gratis Biaya Sewa Penghuni Rusunawa

Read Next

Update Virus Corona 14 Juli 2020 Semua Provinsi Indonesia