Hore! Pagelaran Reyog Ponorogo Mulai Digelar

Hore! Pagelaran Reyog Ponorogo Mulai Digelar

Konfirmasitimes.com-Ponorogo (14/07/2020). Ditandai pemukulan gong sebanyak tiga kali, bupati ponorogo membuka perencanaan penerapan pagelaran reyog New Normal. Tak dipungkiri, di masa pandemi masyarakat semakin rindu dengan pagelaran budaya. Berbagai pagelaran budaya yang berpotensi menimbulkan kerumunan terpaksa ditiadakan.

Seiring diterapkannya new normal oleh Presiden jajaran pemerintahan Kabupaten Ponorogo pun menjalankan tata aturan baru dalam penyelenggaraan pagelaran budaya. Salah satunya pagelaran rutin Reyog Ponorogo setiap bulan. Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni menyebut pagelaran rutin setiap tanggal 11 ini sebagai Gelar Reyog Ponorogo New Normal.

“Kawan dari covid ini adalah kerumunan. Namun kami menyadari 4 bulan ini cukup banyak masyarakat yang resah. Masyarakat yang ingin kembali hidup normal. Karena kita tidak tahu kapan covid ini berakhir. Dengan satu semangat kehidupan kembali normal dan kita tetap harus sehat.” Tutur Ipong Muchlisoni selaku Bupati Ponorogo.

Perencanaan pagelaran budaya dengan tata aturan normal baru ini disampaikan pada Jum’at malam (10/07/2020) di depan pendopo Kabupaten Ponorogo. Perencanangan pagelaran Reyog ini dilakukan sebagai bentuk implementasi penerapan new normal dalam selaga aspek kehidupan masyarakat.  Mengingat beberapa sektor kegiatan kehidupan masyarakat yang telah disesuaikan dengan tata aturan new normal. Seperti yang dituturkan oleh bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni.

“Seminggu yang lalu kita (pemerintah ponorogo) telah mencanangkan new normal untuk kegiatan-kegiatan ibadah. Tempat-tempat ibadah, masjid, mushola dan tempat wisata religi sudah dibuka. Pada waktu seleumnya, tempat wisata Telaga Ngebel pun sudah dibuka,” Tegasnya.

Dalam pagelaran Reyog Ponorogo nantinya diwajibkan untuk mengikuti tiga protokol kesehatan “Ada tiga protokol penting: 1. Sering cuci tangan, 2. Sering memakai masker, 3. sering jaga jarak. Ketiga ini harus menjadi landasan dalam setiap pagelaran reyog.” Kata Bupati Ponorogo (Ipong Muchlisoni) menjelaskan.

Pagelaran Reyog Ponorogo nantinya harus memperhatikan kepadatan penonoton. Sehingga, kerumunan penonton sebisa mungkin dikurangi dengan tidak mengadakan pagelaran di tempat yang terbuka. Aturan pagelaran Budaya ini nantinya akan diatur lebih lanjut oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo. 

“Nanti dinas pariwisata atau bupati akan membuat aturan-aturan yang lebih rinci. Sebagai contoh reyog-an harus dilakukan ditempat yang setegah tertutup agar bisa mengendalikan jumlah penonton yang hadir. Dengan mengendalikan jumlah penonton yang hadir physical distancing akan bisa diterapkan.” Kata Bupati Ponorogo (Ipong Muchlisoni).

Adanya pagelaran budaya new nomal ini dimadsukan sebagai langkah pelesatarian budaya sekaligus untuk menjaga kebahagiaan masyarakat yang masih menjalani kehidupan di masa pandemi Covid-19. “Dengan diterapkan Reyog-an new normal semangat nguri-uri budaya, semangat untuk melestarikan warisan leluhur kita yaitu Reyog Ponorogo tetap bisa dilaksanakan tetapi tetap berhati-hati mencegah penularan covid-19. Hiburan dapat membuat masyarakat gembira. Karena kegembiraan dapat meningkatkan imun tubuh kita. Dengan diterapkannya Reyog-an new normal ini pelesatiriannya dapat, kesehatannya pun dapat.” Bupati Ponorogo menuturkan.

Pagelaran Reyog Ponorogo serentak setiap tanggal 11 ini biasanya diadakan di seluruh desa di Kabupaten Ponorogo. Dengan adanya gelar Reyog Ponorogo New Normal, Pagelaran Reyog dilakukan hanya di satu tempat di setiap kecamatan dengan jumlah penonton terbatas.

“Biasanya setiap tanggal 11 serentak seluruh desa melaksanakan Reyog-an. Ini sementara tahap pertama setiap kecamatan satu pagelaran Reyog. Besok hanya dilaksanakan di 21 tempat atau satu kecamatan satu desa. Kalau situasinya membaik akan kita tingkatkan, misalnya satu kecamatan 3 desa atau tempatnya diperluas, kalau (tahap) ini setengah tertutup nanti lebih terbuka,” Bupati Ponorogo memberikan gambaran perbedaan pagelaran Reyog Ponorogo New Normal dengan pagelaran Reyog Ponorogo yang biasa dilakukan.

Dalam acara malam itu juga diumumkan peniadaan Festival Reyog Nasional dan Kirab Pusaka dan Budaya yang biasa dilakukan saat Grebeg Suro menyambut tahun baru Hijiriyah. “Sebeleum mengakhiri dengan berat hati Festival Reyog Nasional dan pawai kirab pusaka dan budaya tahun ini ditiadakan. Karena bisanya menghadirkan puluhan ribu massa. Tetapi kegiatan-kegiatan lain yang mungkin tidak melibatkan banyak massa bisa tetap dilaksanakan. Misalnya pameran pusaka, pameran bonsai, dan lain-lain.”

Warga Ponorogo, Wildan mengaku sangat antusias dengan digelarnya kemabli pagelaran Reyog Ponorogo. Menurut pemuda yang tinggal di Sumoroto ini sangat rindu dengan pagelaran Reyog Ponorogo.

“Sudah lama Reyog-an tidak digelar. Saya sendiri merasa ada sesuatu yang kurang. Karena Reyog sudah sangat dekat dengan kehidupan warga Ponorogo. Saya sangat menyambut baik kebijakan ini,” Katanya.

Pihak Pemerintah Kabupaten Ponorogo melalui Bupati Ponorogo menegaskan “Kegiatan ini dilaksanakan karena tak mungkin kita membiarkan kehidupan masyarakat terhenti. Dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Saya rasa ini tidak hanya di sektor kebudayaan. Namun diseluruh sektor kehidupan masyarakat nanti dijalankan dengan menerapkan tata kehidupan baru atau new normal,” Pungkas Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni.       

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Produksi Udang di Paser Kaltim Tetap Cerah

Read Next

Pecinta Camping Wajib Kunjungi Kawasan Hutan Eksotik di Desa Bangbayang