Calistung untuk Usia Dini: Perlukah?

Calistung untuk Usia Dini: Perlukah?

Konfirmasitimes.com-Sumut (13/07/2020). Tahun ajaran baru segera dimulai. Anak-anak, terutama usia dini sudah begitu bahagia membayangkan sekolah. Sekolah baginya adalah keriangan. Jika kemudian anak jadi malas, bahkan trauma sekolah, maka yang membuatnya adalah orang tua karena terlalu memaksa anak belajar.Kita tahu, orang tua bahagia sekali jika anaknya sudah bisa membaca dan berhitung, terutama sebelum masuk SD. Di mata orang tua, jika anak sudah bisa calistung sejak awal, maka anak tersebut akan berhasil di kemudian hari. Maka, banyak orang tua memaksa anak untuk segera bisa calistung.

Di samping itu juga, banyak sekolah dasar mempersyaratkan bahwa untuk masuk SD, seorang anak sudah harus bisa calistung. Apakah calistung sangat penting sejak usia dini? Apakah calistung sejak dini merupakan simbol dari kesuksesan anak di masa depan?

Anak-anak adalah fase paling bahagia. Begitu banyak ahli berkata. Sebabnya, masa anak-anak adalah masa bermain. Bermain dekat artinya dengan kebahagiaan. Artinya, melepaskan anak dari dunia bermain sama dengan merampas kebahagiaan anak itu sendiri.

Sistem pendidikan kita sejak awal sebenarnya berpusat pada dunia bermain anak. Ki Hadjar Dewantara, misalnya, membuat nama sekolahnya dengan sebutan “taman”. Sebelum masuk SD, kita juga membuat nomenklatur untuk pendidikan usia dini dengan taman kanak-kanak (TK).

Jauh sebelum itu, dulu, filsuf Yunani, Plato, pada tahun 397 SM mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya di sebuah taman bernama academe. Nama taman ini untuk seterusnya digunakan untuk menyebut jenis bentuk pendidikan, yaitu akademi. Artinya, semestinya pendidikan itu kebahagiaan.

Namun, jika anak usia dini sudah harus dibebani calistung sejak awal, belajar menjadi jauh dari kebahagiaan. Dampaknya, anak jadi terbebani, bahkan stres. Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber ditunjukkan bahwa anak usia dini dengan beban belajar jadi manusia malas.

Dalam sebuah riset yang dilakukan institusi di Amerika Serikat terkait fade out effect pada anak usia dini yang diberikan materi calistung, misalnya, kalah dari anak yang diizinkan bermain sesuai dengan perkembangan fisiknya.

Memang, fondasi kebaikan berawal dari usia dini. Namun, jika sejak usia dini anak dipaksa belajar, anak akan menderita. Belajar tak selalu identik dengan keberhasilan. Di samping itu, belajar juga tak selalu harus berkaitan dengan calistung. Bermain justru belajar yang sesungguhnya bagi anak.

Bermain tak bisa dipandang sebelah mata. Sejak dini, anak akan belajar tentang cara-cara dasar berpikir lewat dengan bermain. Melalui permainan, anak-anak akan belajar tentang problem solving, bersosialisasi, dan pelajaran-pelajaran dasar lainnya.

Dari bermain, anak bisa menumbuhkembangkan karakternya tentang sportivitas, sosial, tenggang rasa, kerja sama, dan sebagainya. Konfirmasitimes sudah pernah mengangkat bagaimana proses belajar di Sekolah Waldorf, tempat bersekolah dari petinggi-petinggi di negara maju.

Di sekolah Waldorf, kedekatan dengan alam, seperti bermain dibuat menjadi kebiasaan. Di sana, para murid secara rutin belajar dan bermain di tanah lapang atau lahan bercocok tanam milik sekolah sambil berbecek-becek dan bermain kapur.

Aktivitas ini bisa jadihanya dilakukan di sekolah-sekolah biasa sekali setahun ketika melakukan karyawisata atau diajak keluarga.Pelajaran prakarya masih diajarkan di sekolah ini, seperti yang dilakukan oleh Andie, Putri Eagle tadi. Ia terlihat asyik membuat kaos kaki. Merajut, The New York Times melaporkan menurut salah seorang guru di Waldorf mampu membantu anak-anak memahami pola dan matematika dengan menggunakan jarum dan benang, dapatmengasah kemampuan murid-murid memecahkan masalah, dan belajar koordinasi.

Jadi, orang tua siswa, jika anak masih berusia dini, jangan paksa mereka untuk segera bisa calistung. Sebab, yang bisa calistung sejak usia dini jarang lebih sukses dari anak yang berkembang secara alami. Jangan rampas masa bermain anak. Bagi anak usia dini, bermain tak sekadar bermain. Bermain bagi mereka adalah belajar sementara belajar, seperti calistung, bagi mereka adalah penyiksaan.

Sementara itu, Susi L.Batu juga Ice Tumio mengaku, kebutuhan calistung sangat penting. Karena itu, Tumio sudah membuat anaknya les calistung sebelum masuk SD dengan harapan bisa membaca.

“Sebenarnya saya pun bisa mengajari dia (anaknya) untuk calistung. Tak perlu habis biaya untuk orang. Hanya saja, jika orang lain dibayar, anak akan patuh dan pada kita, ia akan main-main,” sebut Tumio (12/07/2020).

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Antusias Warga Jakarta Ramaikan Kawasan Jl RA Fadillah Sejak Pagi Untuk Berolahraga

Read Next

KIM “Mekarsari” Kelurahan Surodinawan Masih Exsis Ditengah Pandemi