Wasekjen PBNU Ungkap Ikhwal Pesatnya NU Berkembang Menjadi Organisasi Islam Terbesar

Ikhwal Pesatnya NU Berkembang Menjadi Organisasi Islam Terbesar

Wasekjen PBNU Suwadi D Pranoto

Konfirmasitimes.com-Jakarta (12/07/2020). Sejak lahir pada 31 Januari 1926 silam, Nahdlatul Ulama (NU) terus berkembang pesat dan hingga kini masi menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia .  Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Suwadi D Pranoto lalu mengisahkan ikhwal bertumbuh pesatnya NU sejak zaman kolonial.

Dalam dialog bertema “Inilah yang Membuat NU tersebar cepat di indonesia” di akun Youtube 164 channel sebagaimana dilansir Konfirmasitimes.com, Minggu (12/07/2020), Suwadi menjelaskan para Kyai NU ingin organisasi tersebut tumbuh cepat karena adanya kebutuhan mendesak, saat masa penjajahan kolonial.

“Sebagai perangkat sistem dakwah maka dia (NU) harus efektif berkembang di berbagai tempat, karena ber-NU itu berislam itu sendiri, masyarakat saat itu tahun-tahun 30an, tahun-tahun 20an, masyarakat yang merasakan situasi baik dalam masa-masa kolonialisme, masa-masa penjajahan maupun masyarakat yang terkait dengan relasi-relasinya di tempat-tempat lain,” terangnya.

Disambung Suwadi, pada awal abad 19, atau akhir abad 20, para ulama-ulama  memiliki peranan penting di tengah-tengah masyarakat, yang saat itu di bawah tekanan pemerintah kolonial.

“Maupun terhadap pemerintah elite yang dari situasi itu posisi ulama-ulama dalam hal ini ulama pesantren punya peran penting, karena banyak yang misalnya masyarakat mulai distrust terhadap pemerintah kolonial, makin tidak percaya, kemudian pada saat yang sama juga mendapatkan informasi tentang dunia-dunia pergerakan nasionalisme itu kan bertanyanya kepada siapa, kan gitu, kan adanya tokoh-tokoh pergerakan itu adanya di kota-kota, yang di desa siapa, para kiyai itu, jadi posisi kiyai di kampung-kampung ini terkait dengan situasi yang dihadapi masyarakat kepada siapa masyarakat itu bertanya,” jelasnya.

Para Kiyai yang ada di daerah, yang notabene muslim, sambung Suwadi, kemudian menjadi sumber dari masyarakat untuk bertanya, baik persoalan keagamaan maupun mengenai situasi nasional.

“Tidak hanya soal keagamaan, tapi juga soal-soal bagaimana menentukan sikapnya terhadap situasi yang ada waktu itu baik kaitannya dengan kebijakan-kebijakan hindia belanda maupun situasi-situasi kontemporer lainnya pada saat itu. Disinilah perangkat dakwah NU diterima kehadiranya oleh masyarakat dan ditunggu-tunggu,” sambungnya.

Atas hal itu, disebut Suwadi, percepatan pembentukan basis NU bahkan sampai ke daerah-daerah juga demi untuk melanjutkan risalah-risalah dakwah.

Tradisi Kuat

Suwadi kembali menceritakan, salah satu factor mengapa NU berkembang pesat yakni  adanya tradisi yang kuat dan Tabarukan.

“Artinya gurunya, gurunya, gurunya, muridnya dari gurunya. Hubungan guru murid ini mempunyai hubungan langsung dengan relasi-relasi sosial antara warga dan tokohnya di tempat itu,” terang Suwadi.

Ketika NU hadir, tak dipungkiri akan banyak masyarakat yang bertanya perihal organisasi itu. Maka saat itulah, tim 9 yang terdiri dari Hadratussyekh KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Zainul Arifin, KH Zainal Musthafa, KH Idham Chalid, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Syam’un hadir untuk memberi penjelasan kepada masyarakat soal apa itu NU.

“Itu lebih kosakata yang kita pakai itu lebih mengklarifikasikan, mentabayunkan, menjelaskan pendirian organisasi ini ke simpul-simpul yang harus mendapatkan penjelasan yang cukup,” sambungnya.

Tim 9, sambung Suwadi memiliki mandate dasar untuk menjelaskan visi-misi dibentuknya NU. Pada hakikatnya, proses pembentukan awal NU itu dia menjadi cepat karena tinggal mengklarifikasikan,  karena notabene organisasi NU sendiri sudah ada sejak lama.

“Ketika di runut-runut cepatnya pertumbuhan itu kita tidak bisa lihat semata-mata dengan cara marketing, tapi dari cara berpikir tabayun pada orang-orang yang sama titik temu, sanad dan kitabnya, karena kesamaan itulah kita pertumbuhannya sangat cepat,” sebutnya.

Meningkatnya jumlah anggota NU, sebanyak 67 ribu dalam kurun waktu 10 tahun, atau mencapai 60 persen di seluruh Nusantara, disebut Suwadi juga hal yang wajar.

“Yang disebut itu kan data yang tercatat, bisa tercatat oleh lembaga-lembaga dari pihak kolonial, bisa tercatat dari lembaga-lembaga pemerintahan yang ada, bisa diambil dari sejumlah publikasi media-media yang ada baik media milik pesantren, milik pemerintah maupun media lainnya, kalau kita ambil angka itu,” terangnya.

“Tapi sekali lagi, kalau kita balik ke spek dasar jaringan pesantren angka itu enggak berlebihan banget, kenapa, karena tinggal mengklarifikasi, barangnya ini sudah terwariskan proses yang panjang kan, jaringan pesantren kan mewarisi tradisi islam yang panjang, sekurang-kurangnya 500 tahun, “ imbuhnya lagi.

Khususnya di Lombok, NU berkembang pesat disebut Suwadi karena adanya titik temu antara guru yang sama.

“Ini dulu muridnya ini, punya hajat ini, karena itu pertumbuhanya sangat cepat, krn barangnya sudah ada, tali temalinya sudah terbangun lama, jadi itulah kenapa NU disebut mewarisi proses dakwah yang panjang sekurang-kurangnya sejak Wali Songo, karena sanad tak terputus ini,” pungkasnya. 

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Gempa M 5.0 Guncang Bengkulu

Read Next

Gempa M 3.0 Guncang Mamasa